Mobile Legends dan Orang-orang Menjengkelkan di Dalamnya

Artikel

Firdaus Al Faqi

Intensitas saya nge-game akhir-akhir ini meningkat pesat. Alasannya tak lain karena memang nggak tahu mau ngapain. Apalagi, saat seluruh pekerjaan rumah sudah dibereskan oleh Ibu dan Mbah. Saya tinggal memberi makan ayam-ayam dan hewan peliharaan lainnya saja. Setelah itu ya saya harus mengalami fase nggak tahu mau ngapain. Akhirnya dipilihlah main game Mobile Legends demi membunuh kebosanan.

Game ini kembali saya update setelah sekian lama membusuk di gawai saya. Cukup makan kuota sih, tapi nggak apa-apa lah. Daripada nggak ngapa-ngapain? Hitung-hitung buat mengasah syaraf motorik, kecepatan, dan respek yang bisa dibangun dari kerja sama dengan anggota tim sekaligus juga biar dopamin melimpah ruah dan terhindar dari berpikir berlebihan dan melakukan hal yang tidak-tidak.

Dalam game Mobile Legends, telah diketahui bersama jumlah yang bertanding itu 5 vs 5. Lima orang dalam tiap tim, diharuskan untuk memilih role hero yang akan digunakan. Bisa fighter, assasin, mage, support, tank, atau marksman. Tiap role hero punya kegunaannya sendiri. Ada hero yang harus barbar untuk buka war dan juga ada hero yang agak pengecut karena ketika war selalu berada di posisi belakang.

Untuk hero barbar setahu saya diisi oleh fighter dan juga tank. Dan untuk hero pengecut yang sering sembunyi dan main belakang biasanya assasin, marksman, dan mage. Mereka ada di belakang karena memang darahnya tipis dan juga damagenya sundul langit. Jadi mereka ini ibarat satwa langka yang harus dilindungi. Kalau dilindungi, dia bisa bergerak bebas menyerang dan musuh bisa cepet-cepet di “shutdown”.

Sebenarnya, asyik sih main game ini. Tapi, di mana ada yang asyik-asyik, pasti juga ada jengkel-jengkelnya. Apalagi ketika fase pick hero. Waduh. Sebatas pengalaman saya, ada tuh orang-orang yang biasanya punya jiwa kepemimpinan yang berlebihan, sering mengatur-atur kita harus pake role hero apa, letaknya di map mana, sok-sok atur strategi, dan wah ibaratnya kalau nggak ikut apa kata dia, tim bisa kalah.

Baca Juga:  Balada Orang Sakit yang Takut Suntik dan Susah Minum Obat

Tapi bagi saya, kalau ada orang-orang yang begitu lebih baik dicuekin dan dibodoamatin saja. Pilih saja hero sakarepmu, sak senengmu, dan semau-maumu. Kalau mau menang ya sederhana saja, tinggal main yang baik, jangan banyak mati, dan cepet-cepet farming. Itu saja. Kalau pun kalah, ya nggak masalah. Wong hanya game. Tujuannya dibuat game itu kan untuk hiburan. Niatnya untuk cari hiburan kok mau diatur-atur.

Mau serius sih boleh-boleh saja. Tapi baiknya, sekalian diniatin. Bikin skuad yang bisa diatur, pakai jadwal main, dan ya ikut cara gimana pro-player gitu lah. Kalau mau ngatur dan mau diikutin, jangan main bareng public. Karena bagi saya, untuk yang main di public itu ya hanya untuk hepi-hepi dan senang-senang saja. Jadi wajar kalau nggak mau ngikutin cangkem orang-orang yang sok serius main game ini. Salah tempat kalau mau ngatur.

Parahnya lagi, kalau orang-orang yang suka ngatur-ngatur ini nggak diikuti, dia biasanya ngambek dan nggak mau lanjutin game. Saya heran. Lha mau menang kok masih pake ngambek segala. Mbok yasudah dimainin dan dibawa asyik aja. Mungkin, menurut pemikiran orang ini, karena kalah role hero, kekalahan bakal menimpa. Tunggu dulu lah, usaha dulu. Menang-kalah itu urusan belakang. Kalau langsung ngambek dan ditinggal gitu aja, artinya sudah kalah duluan sebelum perang. Lagian nggak jarang kalau tim yang pick hero sembarangan bisa menang. Kadang ngetroll saat main game juga bisa menang kok.

Malah bagi saya istimewa. Sembarangan, tanpa strategi, dan pokoknya main dan hepi-hepi. Tapi nggak cukup ini aja. Ketika dalam game juga kadang ada yang bikin jengkel. Ada yang berisik banget dengan spam tombol minta kumpul, mundur, serang, dst. Dipikir teman setimnya nggak bisa main apa ya? Saya memang punya keyakinan, kalau tiap-tiap kepala yang main game ini udah punya cara dan kebiasaannya sendiri-sendiri dalam bermain.

Baca Juga:  Pelajaran Hidup Ketika Jadi User Tank dalam Game Mobile Legends

Saya yakin, mereka tahu kapan harus mundur dan kapan harus maju. Karena memang sederhana. Kalau musuhnya terlalu banyak dan terlalu kuat, tinggal mundur. Kalau satu lawan satu tapi damage kita lebih gede, ya langsung kejar dan hajar saja. kalau ada teman setim yang kesusahan tanpa diminta pun, saya yakin, itu bakal nolongin. Itu sifatnya alamiah, nggak perlu disuruh-suruh.

Kecuali kalau orang yang main Mobile Legends kayak saya semua. Bodo amat sama tim, bodo amat mau bantuin atau nggak. Yang penting saya bisa perang sebebas-bebasnya dan bermain dengan semau-maunya. Perang sendirian oke, perang dibantuin teman setim juga oke. Menang biasa aja, kalau kalah juga biasa aja. Hidup sudah sedemikian bajingan, kok, main game juga diambil serius juga. Situ sehat, Bos? Sini cerita sama saya kalau ada masalah. Mungkin bisa saya bantu. Bantu buat ngejekin dan bantu biar masalahmu tambah rumit.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Pemain Mobile Legends di Seluruh Indonesia dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
13


Komentar

Comments are closed.