Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Alasan Krusial Para Manusia Low Profile yang Menonaktifkan Kolom Komentar di Akun Instagram

Ade Vika Nanda Yuniwan oleh Ade Vika Nanda Yuniwan
5 November 2019
A A
Unggah Foto di Medsos, Wajah Nggak Usah Ditutupi Pakai Stiker, dong!
Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca dua artikel Mojok yang masing-masing memperdebatkan soal alasan seseorang menonaktifkan dua centang biru alias laporan baca pada WhatsApp. Adanya artikel-artikel tersebut sedikit banyak pasti menimbulkan opini pembaca yang terkotakkan menjadi dua kubu. Kubu satu adalah mereka yang pro, kubu kedua adalah mereka yang kontra. Walaupun sebenarnya urusan ini menyangkut hak pribadi seseorang.

Tapi ternyata selain WhatsApp yang memiliki fitur non-aktif laporan baca, Instagram yang sering kita gunakan pun juga memiliki fitur serupa tapi tak sama—adalah fitur non-aktif kolom komentar. Meskipun sama-sama bersifat menonaktifkan sesuatu seperti fitur mematikan laporan baca yang tersedia dalam WhatsApp, fitur ini jelas menghadirkan fungsi yang lumayan jauh berbeda dengan fitur WhatsApp tersebut.

ADVERTISEMENT

Fitur ini pertama kali saya lihat di akun Instagram seorang influencer: Awkarin. Saat itu, Awkarin mengunggah sebuah foto yang menampilkan pose syur dan sedikit vulgar (bagi saya). Meskipun saya bukan termasuk haters-nya, tapi rasanya jari saya gatal ingin mengetikkan sesuatu agar Karin tidak mengunggah foto yang kurang pantas di media sosial. I mean, tubuhnya adalah privasinya.

Namun sayang, seperti bisa memprediksi hal tersebut akan dilakukan oleh banyak netizen, kolom komentar pada unggahan foto tersebut tidak tersedia. Artinya apa? Artinya Awkarin nggak mau baca komentar apa pun, no bacot-bacot club! Awkarin nggak mau dijulidin haters-nya.

Selain Awkarin, beberapa unggahan foto tanpa kolom komentar juga sering saya lihat pada unggahan para selebriti tanah air. Ini berarti fitur menonaktifkan kolom komentar pada Instagram lazim digunakan oleh para pesohor negeri dengan alasan menghindari komentar para haters yang julid.

Lalu akhirnya, baru-baru ini saya pun melihat beberapa unggahan foto tanpa kolom komentar para netizen di Instagram yang tidak lain adalah teman saya sendiri. Beberapa teman saya itu bukan dari kalangan artis terkenal, anak pejabat, atau tukang bikin sensasi kayak Barbie Kumalasari. Mereka benar-benar low profile dan jauh dari kata terkenal yang bahkan jika ada haters julid berkomentar pun sebenarnya nggak masalah-masalah amat buat hidupnya.

Akhirnya karena rasa penasaran, saat bertemu mereka saya pun menanyakan perihal alasan mengapa mereka mematikan kolom komentar pada Instagram mereka. Ini dia alasan mereka:

1. Tidak Ingin Dikomentari oleh “Orang Lawas”

“Kok bisa sih komentar bikin cemburu?”

Baca Juga:

3 Barang dan Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Instagram, Salah Satunya Jasa Detektif Kasus Perselingkuhan

4 Hal yang Sebaiknya Instagram Lakukan daripada Hapus Fitur Archive

“Ya bisa lah. Lha wong follower-ku ada yang orang lawas.” (Baca: mantan pacar dan mantan gebetan).

“Bucin!”

Mengunggah foto berdua dengan pasangan baru, membuat teman saya mematikan kolom komentar di Instagram lantaran tidak ingin membuat pasangannya cemburu. Pasalnya di Instagram ada beberapa follower yang termasuk dalam kategori “orang lawas” di kehidupan teman saya. Akhirnya untuk menghindari kesalahpahaman, ia menonaktifkan kolom komentar. Dengan begitu, para orang lawas tidak akan bisa berkomentar macam-macam. Tapi kalau tetap mau komentar bisa via DM. Hehehe.

2. Menjaga Kepercayaan Diri

Setelah memilah dan memilih, seseorang akan mengunggah foto mereka di media sosial—salah satunya adalah Instagram. Tapi apa jadinya jika sudah merasa percaya diri dengan foto yang dirasa pas untuk dibagikan di media sosial, ternyata tetap mendapat komentar negatif? Salah satu cara yang tepat untuk dilakukan adalah dengan menonaktfikan kolom komentar.

Seperti kata teman-teman saya yang mengatakan jika seseorang bisa jadi sedang menjaga kepercayaaan dirinya dengan menonaktifkan kolom komentar Instagram. Bagi teman saya, mendapat banyak like di setiap unggahan foto dapat menghadirkan euforia kebahagiaan dan meningkatkan rasa percaya diri.

Lalu untuk menjaga euforia dan rasa percaya diri itu agar bertahan lebih lama, mereka menghindari komentar-komentar yang berbau shaming dengan menonaktifkan kolom komentar.

3. Biar Dianggap Keren

Menonaktifkan kolom komentar di Instagram ternyata menurut mereka bisa menjadi salah satu cara agar unggahan terlihat lebih keren meskipun angle foto yang ditangkap nggak keren-keren amat. Menurut mereka, melihat unggahan tanpa kolom komentar akan terlihat lebih terasa istimewa. Ini dilakukan karena kebanyakan artis melakukan hal serupa agar unggahan mereka terlihat lebih berkelas.

Menurut mereka, di dalam Instagram sering terjadi adanya spam komentar dari pengguna yang sama sekali tidak mereka kenal. Maka untuk menghindarinya, mereka pun menonaktfikan kolom komentar.

Jadi kalau setelah ini ada yang nyeletuk, “Kalau nggak pengen dikomentari, kenapa musti di-posting?” maka mereka akan menjawab, “Ya karena pengen aja posting foto bagus. Lagian suka-suka aku dong mau di-posting atau nggak.” Dan begitulah alasan-alasan mereka yang hobi menonaktifkan kolom komentar di Instagram. Tapi bagi saya, mereka yang menggunakan fitur tersebut adalah justru orang-orang yang kurang merasa percaya diri.

Ya iya, kalau pede harusnya tahan banting sama komentar apa pun dari netizen kan? Tapi ya tetap saja, menggunakan fitur ini adalah hak pribadi setiap pengguna Instagram. Tidak terkecuali mereka yang low profile. Wqwqwq~

BACA JUGA 3 Alasan Kenapa Filter Truth or Dare dan Head Quiz di Instagram Story Diciptakan atau tulisan Ade Vika Nanda Yuniwan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 November 2019 oleh

Tags: instagramkolom komentarlow profile
Ade Vika Nanda Yuniwan

Ade Vika Nanda Yuniwan

Pekerja literasi yang mencintai buku, anak-anak, dan pendidikan. Suka berdiskusi sambil nulis ringan untuk isu-isu yang di sekelilingnya.

ArtikelTerkait

Pentingnya Notifikasi Screenshot Instastory biar Tau Cepu dalam Pertemananmu

14 September 2021
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab dalam Silaturahmi

7 Mei 2020
lamaran

Lamaran Jadi Ribet (dan Mahal) Gara-gara Tren Instagram

27 April 2020
Syarat Pendaftaran Magang Mahasiswa: Disuruh Repost Ini Itu Bikin Repot. Mending Mundur!

Syarat Pendaftaran Magang Mahasiswa: Disuruh Repost Ini Itu Bikin Repot. Mending Mundur!

13 Januari 2024
facebook

Menjadi Orang yang Berbeda di Facebook, Twitter, dan Instagram

21 Agustus 2019
alasan jokowi tunjuk prabowo jadi pemimpin proyek food estate pulang pisau kalimantan tengah mojok.co

Prabowo, Politisi dengan Feeds Instagram Paling Keren

30 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Madura syok saat mengetahui rupa dan rasa gado-gado dari daerah lain Mojok.co

Orang Madura syok saat mengetahui rupa dan rasa gado-gado dari daerah lain

9 Juli 2026
Tugu Jogja Kini Lebih Menyenangkan ketimbang Malioboro (Unsplash)

Orang yang Foto di Tugu Jogja Itu Bukan Norak, Hampir Semua Pelancong Pernah Melakukannya

7 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Berhenti membandingkan Malang dan Surabaya: karakteristiknya beda, kenapa berusaha (terlalu) keras untuk membandingkannya?

10 Juli 2026
Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

9 Juli 2026
Tahlilan di Sumatera beda dengan Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan Mojok.co

Tahlilan di Sumatera beda dengan di Jawa, tidak 7 hari penuh dan dihadiri perempuan

13 Juli 2026
Culture Shock Warga Cepu Pindah ke Malang, Banyak Orang Ngomong Kebolak-balik dan “Kasar” Mojok.co Surabaya

Malang Memang Sekarang Panas, tapi Tetap Lebih Nyaman daripada Merantau di Surabaya 

8 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.