Alasan Kenapa Telemarketing Jadi Pekerjaan Sejuta Umat

Artikel

Avatar

Ada yang sejak kecil bercita-cita jadi telemarketer? Pasti kagak ada. Jelas. Cita-cita banyak manusia di negeri ini adalah dokter, polisi, tentara, barista, presiden, atau tenaga pengajar. Nggak bakal ada yang bercita-cita menjadi programmer, jurnalis, penyiar radio, atau ya itu tadi telemarketer.

Namun setelah kita sama-sama dewasa dan dibenturkan keadaan ribuan kali, akhirnya sadar bahwa cita-cita semasa kecil hanyalah khayalan semata. Kita lulus SMA dan langsung kerja, atau memilih kuliah di jurusan yang kita sendiri nggak terlalu paham bakal belajar apa. Kayak jurusan Sistem Informasi. Jurusan apaan itu? Pasti pada mikirnya berhubungan dengan informasi-informasi gitu, kan? Salah. Kalo kalian kuliah di jurusan itu, siap-siap mabok sama banyak bahasa pemrograman.

Pupus semua cita-cita. Hanya sebagian kecil dari total mahasiswa yang kemudian bekerja sesuai dengan impian mereka. Pekerjaan yang kemudian diambil sebagian besar sisanya ya kalo nggak jadi driver ojol, jadi barista, ya… jadi telemarketer.

Yakinlah, kalian pasti punya banyak temen kuliah yang ngojol, atau jadi barista, atau jadi telemarketer, kan?

Mari bahas yang terakhir saja karena dua pekerjaan sebelumnya sudah pernah dibahas di sini dan di sini. Khusus buat telemarketing, pekerjaan itu entah bagaimana menjadi pekerjaan populer beberapa tahun ini, terutama karena sekarang buanyak banget platform belanja digital sehingga semakin banyak pula kebutuhan untuk menangani pelanggan, maka dari itu lowongan telemarketing semakin banyak. Karena kepopuleran platform belanja digital itu pula, pekerjaan telemarketing di masing-masing perusahaan itu juga semakin prestisius. Bayangkan saja kalo ditanya kerja di mana sama tetangga, dan dengan bangga jawab kerja di Shopee, pasti rasanya buuuaaanggga banget kan?

Nah, selain karena prestisusnya yang semakin tinggi itu, berikut adalah alasan kenapa telemarketing menjadi pekerjaan sejuta umat.

Syaratnya mudah

Poll! Syaratnya gampang banget. Kalo kalian bingung setelah lulus kuliah harus kerja di mana karena jurusan kalian tidak terlalu lazim seperti… teknik nuklir, barangkali? Maka pekerjaan menjadi telemarketer adalah solusi nyata untuk kalian. Pokoknya kalo kalian nyari pekerjaan yang bisa nerima semua jurusan, ya jawabannya pekerjaan satu ini. Jangankan sarjana, banyak perusahaan di bidang telemarketing yang menerima lulusan SMA kok.

Baca Juga:  3 Keuntungan yang Bisa Didapatkan kalau Menikah sama Cowok Pas-pasan

Selain latar belakang pendidikan yang gampang banget dipenuhi, syarat lainnya juga gampang-gampang buat dipenuhi. Nggak dibutuhkan keahlian khusus untuk pekerjaan ini. Asalkan kalian sehat jasmani dan rohani dan bisa berbahasa selayaknya manusia modern berbahasa, dan bisa menggunakan teknologi sederhana seperti HP dan PC selayaknya manusia modern pada umumnya, kalian sudah memenuhi syarat.

Bagaimana dengan penampilan? Tinggi badan? Berat badan? Tenang, kalian mau jadi telemarketer, bukannya jadi model. Jadi urusan fisik nggak terlalu dipikirin kalo kalian emang memikirkan berkarir di bidang ini. Ya, asalkan berpenampilannya sewajarnya saja yak, nggak usah pake kostum Ultraman saat kerja.

Kerjanya ya… Gitu-gitu aja

Kalo masuknya gampang, kerjanya juga gitu-gitu aja kok. Mentok kalian bakal ditraining beberapa kali gimana SOP nerima panggilan atau menghadapi pelanggan. Pokoknya cuma duduk dan nunggu ditelepon atau neleponin pelanggan-pelanggan sesuai prosedur kantor kalian masing-masing.

Kecuali kalo kantor kalian emang mengkhususkan pelayanan harus bisa gini gitu ya, misal pas nerima keluh kesah pelanggan kalian diwajibkan melemparkan bit-bit stand up comedy biar pelanggannya terhibur. Nah, kalo kantor kalian emang kayak gitu, rasanya belajar materi stand up comedy adalah keharusan.

Lowongan yang pasti ada terus

Kalo kalian lagi nyari pekerjaan di instagram atau twitter, pasti ada aja perusahaan yang butuh posisi sebagai telemarketer. Kalo kalian di Jogja, pasti nggak asing sama yang namanya perusahaan Vads. Nahhhhhh itu salah satu tetua perusahaan telemarketing di Jogja. Tiap kali kalian nyari di akun jogjalowker atau semacamnya, nama perusahaan itu kok ya ada mulu, kan? Iya… yang kantornya di depan UIN Sunan Kalijaga itu.

Mau resign gampang. Abis itu pindah ke perusahaan lawan juga gampang

Sudah kerja beberapa bulan di perusahaan telemarketing A, terus nggak cocok sama pegawai-pegawai lainnya, yaudah cabut aja dari sono. Tenang, resign adalah perkara yang mudah, dan kerja lagi di bidang telemarketing di perusahaan lawan juga sangat mudah. Apalagi kalo punya temen yang dulu satu tim dan udah pindah duluan, walah… nggak usah repot-repot mikirin gimana nanti interview, pasti auto lolos.

Baca Juga:  Variasi Resep Roti Tawar Sederhana untuk Berbuka Puasa

Gajinya ya… Mayanlah daripada ngaggur

Biasanya banyak perusahaan di kota-kota besar memilih jalur outsource untuk urusan telemarketingnya, dan biasanya perusahaan outsource itu berada di kota-kota dengan UMR tergolong kecil, kayak… Jogja misalnya. Iya, banyak banget perusahaan di Ibukota yang bagian telemarketingnya ada di Jogja karena lebih murah urusan gajinya.

Maka dari itu ya mohon maap kalo harus bilang bahwa untuk urusan gaji, nggak bisa dibilang gede untuk pekerjaan ini. Mentok UMR ditambah uang ini itu yang tetep masih tergolong dikit jika dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan lain di luar sana. Malahan gede gaji barista zaman now kayaknya. Tetapi ya nggak apa-apa, toh daripada nganggur. Toh juga, biasanya yang kerja jadi telemarketer itu cuma dijadiin pengalaman aja. Itung-itung masa transisi dari dunia kuliah ke dunia kerja yang sesungguhnya.

Itu tadi beberapa alasan kenapa banyak banget wisudawan-wisudawati yang mengejar profesi telemarketing dan melupakan segala macam idealisme yang dulu dimiliki. Yang dulunya rajin rapat dan ikut keorganisasian, yah… harus rela duduk tenang dan ngeloby calon pelanggan atau malah didamprat pelanggan yang komplain. Keuntungannya ya hobi ngomong bisa tersampaikan, soalnya anak yang ikut organisasi kampus biasanya demen banget nyepik, iya nggak?

Biasanya juga sih, wisudawan-wisudawati yang kerja jadi telemarketing itu berdalih cuma coba-coba. Abis lulus dan belum siap dengan kerjaan yang ribet-ribet, ya daftar aja jadi telemarketing biar nggak ngangur dan jadi bahan omongan tetangga. Abis itu, eh keterusan sampe bertahun-tahun di bidang itu. Lagian juga kerjanya enak, di tempat yang ada AC dan wifi, pake baju rapi, dan bisa dengan bangga bilang ke tetangga kalo udah kerja kantoran.

BACA JUGA Duh, Barista Sekarang kok Banyak yang Arogan ya? dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.