Saya kira fenomena dosen “online tapi nggak balas pesan” sudah menjadi pembahasan lintas generasi mahasiswa. Mau mahasiswa baru, mahasiswa tingkat akhir, bahkan yang sudah lulus bertahun-tahun, keluhannya kurang lebih sama.
“Padahal online, kok nggak dibalas?”
Dulu ketika masih menjadi mahasiswa, saya juga pernah berada di posisi itu. Ketika sedang membutuhkan tanda tangan, bimbingan, atau sekadar jawaban atas pertanyaan yang terasa mendesak, melihat status online dosen sering menumbuhkan harapan. Dalam bayangan saya, kalau sudah online berarti tinggal menunggu beberapa menit saja.
Nyatanya tidak demikian. Kadang lima menit berlalu tanpa balasan. Lalu setengah jam. Lalu beberapa jam. Sampai akhirnya mahasiswa mulai berteori macam-macam. Mulai dari dosennya sengaja menghindar, sedang marah, sampai dianggap tidak peduli pada mahasiswa.
Akan tetapi, setelah saya sendiri menjadi dosen, pandangan saya berubah cukup drastis.
Saya akhirnya paham bahwa sebagian besar keterlambatan membalas pesan ternyata tidak lahir dari niat buruk. Tidak ada agenda rahasia untuk membuat mahasiswa cemas. Sering kali alasannya jauh lebih sederhana: dosennya memang sedang sibuk, sedang berpikir, atau bahkan sedang bingung harus membalas apa.
WhatsApp dosen online bukan berarti siap membalas
Ada satu kesalahpahaman yang cukup umum soal komunikasi. Banyak orang menganggap status online berarti seseorang sedang santai memegang ponsel dan siap membalas pesan siapa pun yang masuk. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.
Saya sendiri sering terlihat online ketika sedang mengunggah nilai, membuka grup kelas, membaca pesan dosen lain, atau mencari dokumen tertentu. Dalam kondisi seperti itu, saya memang membuka WhatsApp, tetapi bukan berarti sedang punya waktu untuk membalas semua pesan yang masuk saat itu juga.
Belum lagi dosen biasanya tidak hanya mengampu satu kelas. Ada rapat, bimbingan skripsi, pekerjaan administrasi, pengabdian masyarakat, penelitian, hingga urusan kampus lainnya yang sering kali tidak terlihat oleh mahasiswa.
Jadi status online sebenarnya hanya menunjukkan bahwa aplikasi WhatsApp sedang dibuka. Tidak lebih.
Ada pesan yang tidak bisa dijawab dosen seketika itu juga
Alasan lain yang membuat balasan dosen sering terlambat adalah isi pesannya sendiri. Kadang mahasiswa mengirim pertanyaan yang jawabannya memang membutuhkan waktu.
Misalnya, ada yang bertanya soal nilai. Sekilas terlihat sederhana. Namun, sebelum menjawab, kami biasanya perlu membuka kembali rekap penilaian, mengecek absensi, melihat tugas, atau memastikan tidak ada data yang terlewat. Artinya, balasan itu tidak bisa diberikan secara spontan.
Ada juga pesan yang justru membingungkan karena terlalu umum. Saya pernah menerima pesan seperti, “Pak, kalau tugas saya belum selesai gimana?”
Jujur saja, ketika membaca pesan seperti itu saya perlu berpikir dulu. Mahasiswa sebenarnya sedang bertanya apa? Apakah ingin meminta tambahan waktu? Apakah ingin konsultasi? Atau hanya sedang panik?
Iya, karena pertanyaannya tidak spesifik, kami juga perlu memahami maksudnya terlebih dahulu sebelum menjawab.
Kadang sengaja menunda agar tidak salah ucap
Ini alasan yang menurut saya paling manusiawi. Kadang memang sengaja tidak langsung membalas pesan karena sedang memilih kata-kata yang tepat.
Terutama jika isi pesannya menyangkut komplain nilai, permintaan dispensasi, ujian susulan, atau hal-hal sensitif lainnya. Salah memilih kalimat bisa menimbulkan salah paham yang panjang.
Karena itu, banyak dosen memilih membaca pesan terlebih dahulu, memikirkannya beberapa saat, lalu membalas ketika suasana hati lebih tenang atau ketika sudah menemukan jawaban yang tepat.
Ironisnya, semakin ingin berhati-hati, semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk membalas.
Tidak membalas tak selalu mengabaikan
Setelah merasakan kedua posisi, sebagai mahasiswa dan dosen, saya akhirnya menyadari satu hal. Tidak semua keterlambatan balasan harus ditafsirkan sebagai bentuk pengabaian.
Kadang dosen memang sedang mengajar, rapat, atau sedang memeriksa tugas. Kadang juga sedang menghadapi puluhan pesan lain yang masuk hampir bersamaan.
Dan, kadang mereka hanya sedang berusaha menyusun jawaban yang tepat agar tidak menimbulkan masalah baru. Jadi kalau suatu hari melihat dosen online tetapi pesan belum dibalas, tidak perlu buru-buru berprasangka macam-macam.
Sebab, di balik status online yang terlihat sederhana itu, sering kali ada pekerjaan yang jauh lebih banyak daripada yang dibayangkan mahasiswa. Dan, percaya atau tidak, sebagian besar dosen sebenarnya tetap berniat membalas. Hanya saja, tidak selalu bisa dilakukan secepat yang diharapkan. Jadi bersabarlah sebentar saja.
Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Chat Aneh Mahasiswa ke Dosen Muda, Tolong Jangan Dibiasakan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
