Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Akun Medsos Karang Taruna kalau Nggak Nyindir, Nggak Makan, Jelas Pemuda Bakal Lari dan Tak Sudi Kembali!

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
7 April 2025
A A
Mempertanyakan Relevansi Karang Taruna di Masa Kini

Mempertanyakan Relevansi Karang Taruna di Masa Kini

Share on FacebookShare on Twitter

Tiap kali saya berselancar di media sosial dan ketemu konten dari akun karang taruna, pasti, pasti nih, kontennya tentang menyindir pemuda dan warga desa yang nggak bisa gabung rapat atau kegiatan. Pasti.

Saking seringnya saya nemu konten begituan, saya sampai berpikir kalau akun karang taruna itu diciptakan buat nyindir. Nggak nyindir, nggak makan. Jelas ini asumsi dangkal ya. Saya sendiri tau kalau mereka jelas bisa bikin dan punya konten selain ngrasani tetangga sendiri. Tapi kalau kebanyakan nyindir dan ngamuk, ya itulah yang melekat di benak orang-orang kan.

Saya tahu, yang namanya kumpul, srawung, dan mengikuti kegiatan di kampung itu penting. Hanya saja, dunia masa kini udah beda banget dengan dulu. Beberapa tulisan tentang karang taruna di Terminal Mojok juga sudah memberikan gambaran bahwa karang taruna tak menarik, bahkan obsolete.

Bisa dibilang, saya masih 50:50 perkara apakah karang taruna ini obsolete atau tidak. Tapi, saya jelas tidak setuju dengan konten media sosial yang bukannya menyadarkan, malah memberi alasan kenapa sebaiknya memang tidak usah gabung organisasi pemuda tersebut.

Karang taruna nggak lagi menarik, dan itu nggak bisa dihindari

Kita nggak bisa memungkiri lagi, bahwa untuk bisa hidup aman, persiapan harus dimulai sejak dini. Dekade lalu, orang masih bisa mencari jalan hidup setelah lulus kuliah. Masih bisa eksplorasi opsi, mencoba, dan gagal. Kini, kau tak punya opsi gagal sama sekali. Dunia memang semengerikan dan sebajingan itu.

Maka tak mengherankan jika mahasiswa dan pemuda pada umumnya di masa kini jauh lebih ambisius. Dulu ambisiusnya mahasiswa itu kalau nggak ngumpulin piagam, ya IPK 4. Kini, sertifikasi magang, online course, skill certificate adalah jalan ninja mereka.

Kenapa? Ya karena mereka ingin selamat dalam hidup mereka dan bisa kerja dengan gaji tinggi.

Rasanya amat masuk akal jika para pemuda tersebut tidak memasukkan karang taruna sebagai prioritas mereka. Bahkan organisasi kampus aja mulai terlihat sepi ketimbang dekade lalu (pengamatan pribadi, dan saya amat bisa salah). Bagi mereka ya, waktu di rumah adalah waktu mengisi energi dan pergi dari hiruk pikuk dunia. Sebab, mereka sudah habis-habisan di luar sana.

Baca Juga:

Organisasi Karang Taruna Nyatanya Tak Lebih dari Pelengkap Acara Hajatan dan Ladang Cari Suara Politik

Mempertanyakan Relevansi Karang Taruna di Masa Kini

Organisasi karang taruna juga tak menarik bagi mereka karena yang mereka dapat di organisasi tersebut nggak jadi apa-apa. Maksudnya, tidak ada sertifikat, tak memberi nilai tambah bagi para rekruiter. Ya sebenarnya organisasi ini bisa memberi kalian pelajaran how to behave dan how to act sih, tapi ya tetap saja nggak bisa dimungkiri, ini tidak terkonversi jadi poin juga kan.

Kalau ujungnya para mahasiswa tersebut keliatan amat sombong di kampung, sebenarnya ini ya nggak mengagetkan. Bagi mereka, dunia baru yang mereka jalani jauh lebih masuk akal dan dunia yang dulu pernah mereka sambangi, jadi terlihat tak menarik. Ini siklus yang wajar sebenarnya. Saya nggak menormalisasi ya, cuman nggak kaget aja.

Perlakuan tak menyenangkan

Nah, ini juga yang bikin kenapa pemuda malas sama karang taruna: value yang berbeda serta perlakuan yang bisa dibilang nggak menyenangkan. Sedikit banyak kita udah bahas value di atas, nah kini kita bicara perlakuan.

Di komen postingan akun karang taruna, nggak sedikit yang bilang di organisasi tersebut ada kubu-kubuan. Udah gitu, status ekonomi bikin perlakuan jadi berbeda. Dari dua ini saja, wajar jika orang udah males.

Contoh perlakuan tidak menyenangkan lainnya adalah kadang, pemuda yang sedang sibuk ini sebenernya masih niat gabung, tapi udah kena sikat. Misal, mereka skip karena katakanlah ada acara di kampus. Nah, abis itu dikatain lupa daratan, pedot oyot, dan sebagainya. I mean come on, kalau organisasi itu mempersatukan, yang mereka lakukan ini justru memecah belah.

Perlu diingat juga, mahasiswa yang kuliah itu bebannya nggak cuman perkara akademik, tapi juga batin. Orang tua mereka di rumah pasti mengingatkan bahwa biaya yang dikeluarkan itu besar, jadi jangan gagal. Itu saja sudah cukup bikin pundak mereka begitu berat. Ditambah dengan tuntutan dunia kerja yang makin hari makin nggak ngotak.

Lha kok koe ngerti-ngerti nyocot “ra srawung rabimu suwung”, joh, rumangsamu koe sing nyekel dunia po pie, Bos?

Sebenarnya ini nggak eksklusif permasalahan karang taruna sih, perkumpulan bapak-bapak aja ada masalah kayak gini. Contoh, bapak-bapak yang kerjanya merantau dan jarang pulang diminta sama aktifnya dengan bapak-bapak yang nganggur. Kalau nggak sama aktifnya, didenda dan dikucilkan.

Jane sing goblok sapa sih?

Kontraproduktif

Bagi saya, konten akun karang taruna yang menyindir dan sok keras itu kontraproduktif. Alih-alih menyadarkan, malah bikin para pemuda punya alasan untuk jauh-jauh dari organisasi tersebut. Value beda, perlakuan tak menyenangkan, yo prei wae, Bolo.

Justru ini waktunya karang taruna melihat celah. Berubah mengikuti zaman, tapi tetap pegang nilai-nilai yang baik tanpa harus kompromi kelewat jauh. Gimana caranya ya itu terserah kalian, golek dewe. Wong enom kok bingungan.

Tapi ya kalau karang taruna masih seperti sekaran, pasukan manut senior ra mashok di kampung, ya, mohon maaf aja nih ya…

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sarjana Lulus Kuliah Nggak Harus Cari Kerjaan Enak, Jadi Ketua Karang Taruna pun Nggak Ada Salahnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 April 2025 oleh

Tags: akun media sosialkarang tarunavalue
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Mempertanyakan Relevansi Karang Taruna di Masa Kini

Organisasi Karang Taruna Nyatanya Tak Lebih dari Pelengkap Acara Hajatan dan Ladang Cari Suara Politik

22 Februari 2025
Hubungan Beda Agama Rizky Febian dan Mahalini: Bagaimana Anak Muda Memandang Relasi Beda Agama?

Hubungan Beda Agama Rizky Febian dan Mahalini: Bagaimana Anak Muda Memandang Relasi Beda Agama?

11 Mei 2023
4 Skill Karang Taruna di Desa yang Sulit Disaingi oleh Warga Kota Mojok.co

4 Skill Karang Taruna di Desa yang Sulit Disaingi oleh Warga Kota

25 Maret 2024
Mempertanyakan Relevansi Karang Taruna di Masa Kini

Mempertanyakan Relevansi Karang Taruna di Masa Kini

27 Agustus 2024
karang taruna pentas agustusan bendera merah putih indonesia terminalmojok

4 Hiburan yang Hampir Pasti Ada Ketika Pentas Agustusan

15 Juli 2021
Karang Taruna: Dikekang Orang-orang Tua, Dibebani Harapan Warga kampung halaman

Karang Taruna: Dikekang Orang-orang Tua, Dibebani Harapan Warga

12 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak (Unsplash)

Alasan Kenapa Saya Tidak Betah Tinggal di Demak

14 Juni 2026
5 Realitas Hidup Semarang yang Tidak Muncul di Brosur Wisata maupun Konten Perjalanan Mojok.co

5 Realitas Pahit Hidup di Semarang yang Tidak Muncul dalam Brosur

13 Juni 2026
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co magetan

Magetan dan Magelang: Dua Kota Beda Provinsi yang Sering Bikin Lidah Terpeleset dan Dompet Tersesat

9 Juni 2026
Feeder BRT Semarang, Murahnya Bikin Ikhlas, Kurangnya Bikin Tertawa

Dear Driver Feeder BRT Semarang, Tobatlah untuk Ngebut di Jalanan, Kalian Bukan Pembalap!

11 Juni 2026
Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Mungil Andalan Warlok Pelaju Solo-Jogja Mojok.co

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Kecil yang Besar Jasanya bagi Warlok Pelaju Solo-Jogja

13 Juni 2026
Pengendara Motor yang Menyalakan Lampu Hazard dan Kebut-kebutan di Jalan Raya Itu Punya Masalah Apa sih? Mojok.co

Menggugat para Pengendara yang Hobi Menyalakan Lampu Hazard Pas Hujan Deras: Anda Mau Aman atau Mau Bikin Pengendara Lain Masuk Jurang?

13 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.