Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Riwayat Air Terjun Kedung Kandang Gunungkidul, Surga Pemberian Tuhan yang Kini Disulap Pemerintah Jadi Comberan

Jevi Adhi Nugraha oleh Jevi Adhi Nugraha
2 Februari 2025
A A
Riwayat Air Terjun Kedung Kandang Gunungkidul, Surga Pemberian Tuhan yang Kini Disulap Pemerintah Jadi Comberan

Riwayat Air Terjun Kedung Kandang Gunungkidul, Surga Pemberian Tuhan yang Kini Disulap Pemerintah Jadi Comberan

Share on FacebookShare on Twitter

Jembatan Kedung Kandang di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul kini menjadi salah satu ikon baru di Bumi Handayani. Ruas jalan yang menghubungkan Gunungkidul dengan kabupaten Sleman itu tampak gagah dan berdiri kokoh. Para pengendara yang melintas bisa berhenti sejenak, lalu menikmati fasilitas taman seluas tiga ribu meter di bawah jembatan.

Di balik kemegahannya, proyek yang dibangun menggunakan Dana Keistimewaan ini menyimpan banyak sisi gelap. Ya, jembatan yang dibangun pada pertengahan 2023 dan diresmikan awal 2024 lalu itu sempat ramai di media massa nasional dan media sosial lantaran mengorbankan Air Terjun Kedung Kandang. Panorama alam yang indah dan memesona itu hancur-lebur dihajar alat berat.

Melihat penghancuran air terjun itu, masyarakat tak tinggal diam. Sebelum pemerintah membangun jalan yang menelan anggaran hingga Rp64,5 miliar ini, penolakan demi penolakan dari warga lokal sudah sering dilayangkan. Tapi seperti biasa, suara akar rumput itu menguap entah ke mana.

Sebuah seni menyulap Air Terjun Kedung Kandang jadi comberan

Tuntutan dari masyarakat sebenarnya amat sangat sederhana, yaitu meminta agar saat pembangunan jembatan nggak menyentuh Air Terjun Kedung Kandang. Itu saja. Selain bisa merusak ekosistem lingkungan, hal ini dikhawatirkan bakal menghilangkan daya tarik pengunjung dan akhirnya pendapatan UMKM sekitar pun ikut menurun.

Alih-alih melebarkan daun telinganya, Pemerintah malah seperti berak di kepala warga. Semua aspirasi masyarakat dikebiri. Pembangunan jembatan tetap lanjut. Dan, yang terjadi Air Terjun Kedung Kandang di Desa Nglanggeran yang dulu tampak asri nan menakjubkan itu, kini wujudnya mirip comberan.

Terasering hijau alami bertangga-tangga yang awalnya mengalir air jernih itu, saat ini telah ditanami beton-beton yang bentuknya didesain ((seolah-olah)) berbentuk terasering, tapi versi saset. Nggak sedikit netizen yang kemudian menyamakan air terjun palsu itu kayak selokan ((nyaris)) comberan.

Saya jadi bertanya-tanya, kok ada ya manusia se-pede itu di hadapan Tuhan Sang Pencipta Alam? Sudah bagus-bagus dikasih air terjun alami untuk irigasi sawah-sawah sekitar dan menjaga aneka satwa, lha kok malah repot-repot bikin air terjun edisi imitasi?! Horo, piye nalare?

Pemerintah nggak jelas maunya apa, Air Terjun Kedung Kandang hilang tanpa makna

Terus terang, saya nggak paham bagaimana logika penguasa bekerja. Konon (katanya) mereka pengin meningkatkan taraf ekonomi warga melalui wisata. Tapi, ketika ada warga yang sudah mengelola pariwisata secara mandiri kayak di Desa Nglanggeran, salah satu destinasi andalannya malah dihancurkan.

Baca Juga:

5 Keanehan Lokal Jogja yang Nggak Pernah Saya Temukan di Semarang tapi Malah Bikin Bahagia

4 Culture Shock yang Saya Rasakan sebagai Orang Demak Saat Pertama Kali Main ke Pantai Gunungkidul

Mengutip Kompas.id, Pemerintah Daerah DI Yogyakarta kini membangun sebuah ruang terbuka hijau sebagai obyek wisata baru di bawah Jembatan Kedung Kandang, Kabupaten Gunungkidul, DIY. langkah ini dimaksudkan sebagai pengganti air terjun yang digusur untuk proyek pembangunan jalan provinsi di lokasi tersebut.

Menurut Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (PUPESDM) DIY Tri Murtoposidi Pemda DIY menginisiasi pembangunan taman itu untuk menggantikan obyek wisata Air Terjun Kedung Kandang yang hilang akibat pembangunan jalan. Taman yang seluas 3.000 meter persegi itu memakan biaya Rp 5,8 miliar itu saat ini pengerjaannya sudah selesai. ”Meski bukan obyek wisata alami seperti air terjun, kami upayakan bisa lebih indah,” ujarnya seperti dikutip dari Kompas.com edisi (5/12/2024).

Masih mengutip media yang sama, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Nglanggeran, Mursidi, berharap fungsi air terjun itu bisa dikembalikan kembali meski tidak dalam wujud seperti semula. ”Harapannya, penataan yang dilakukan bisa mengembalikan pemberdayaan masyarakat dalam segi pariwisata,” ujar Mursidi.

Saat sudah bisa mandiri, karpet merah justru digelar

Saya memang nggak (akan) pernah sepakat dengan jenis pariwisata jadi-jadian yang cenderung merusak bin eksploitatif. Terlebih jika hanya menguntungkan segelintir orang saja, seperti resort-resot premium di pantai selatan sana. Jujur, saya muak melihatnya. Bukannya banyak memberi dampak baik buat orang sekitar, justru seperti berusaha menyingkirkan usaha kecil warga lokal.

Makanya, dulu ketika melihat kawan-kawan di Nglanggeran berupaya mengurus potensi alam di kampungnya sendiri, saya cukup bernapas lega. Tanpa raksasa investor pun, ternyata warga Gunungkidul sangat mampu mengelola destinasi dengan bijak dan mandiri. Para warga bisa terlibat aktif mengembangkan usaha kecilnya tanpa harus “melukai” keindahan alam di tanah kelahiran.

Sekarang, saat warga sudah bisa mandiri, pemerintah malah seperti menggelar karpet merah untuk pemodal besar. Dengan dibangunnya megaproyek jalan dan taman di sekitar bekas Air Terjun Kedung Kandang, bukankah secara otomatis bisnis pariwisata milik para pengembang juga bakal menjamur? Lalu, bagaimana dengan nasib para pedagang kecil di pinggir-pinggir jalan itu?

Baca halaman selanjutnya

Puluhan miliar untuk merusak lingkungan

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2025 oleh

Tags: air terjun kedung kandangGunungkiduljembatan kedung kandang
Jevi Adhi Nugraha

Jevi Adhi Nugraha

Lulusan S1 Ilmu Kesejahteraan Sosial UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul.

ArtikelTerkait

5 Keanehan Lokal Jogja yang Bikin Kaget Orang Semarang (Wikimedia Commons)

5 Keanehan Lokal Jogja yang Nggak Pernah Saya Temukan di Semarang tapi Malah Bikin Bahagia

5 Mei 2026
4 Alasan Gunungkidul Nggak Perlu Bangun Mal, Salah Satunya Merugikan Warga Bumi Handayani!

4 Alasan Gunungkidul Nggak Perlu Bangun Mal, Salah Satunya Merugikan Warga Bumi Handayani!

12 Mei 2025
5 Rekomendasi Tempat Berburu Takjil di Gunungkidul yang Wajib Dikunjungi

5 Rekomendasi Tempat Berburu Takjil di Gunungkidul yang Wajib Dikunjungi

3 April 2022
Seni Memahami Warga Gunungkidul bagi Pengusaha supaya Bisnis Nggak Gulung Tikar Mojok.co

Seni Memahami Warga Gunungkidul bagi Pengusaha supaya Bisnisnya Nggak Gulung Tikar

19 Januari 2024
Selamatan Orang Meninggal di Gunungkidul: Tradisi Baik yang Berubah Jadi Ajang Adu Gengsi

Selamatan Orang Meninggal di Gunungkidul: Tradisi Baik yang Berubah Jadi Ajang Adu Gengsi

1 Mei 2024
Jenang Dawet, Kuliner Tradisional Khas Gunungkidul yang Nggak Setenar Nasi Tiwul Terminal Mojok

Jenang Dawet, Kuliner Tradisional Khas Gunungkidul yang Nggak Setenar Nasi Tiwul

17 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosa Tukang Servis Komputer yang Tak Banyak Diketahui Orang, Merasa Aman karena Masih Banyak yang Awam

Dosa Tukang Servis Komputer yang Tak Banyak Diketahui Orang, Merasa Aman karena Masih Banyak yang Awam

24 Mei 2026
Generasi Sandwich Bajingan Bikin Saya Tak Lagi Cinta Keluarga (Unsplash)

Generasi Sandwich Adalah Takdir Bajingan yang Bikin Muak: Saya Baik pada Keluarga Bukan karena Cinta, tapi karena Sudah Lupa Hidup Sebenarnya untuk Apa

24 Mei 2026
Mempertanyakan Efisiensi Syarat Administrasi Seleksi CPNS 2024 ASN penempatan cpns pns daerah cuti ASN guru pns

Nasib Guru PNS Muda di Sekolah Boomer: Dianggap Dewa Teknologi, Berakhir Jadi Kurikulum Abadi

24 Mei 2026
Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

Tolong Berhenti Menyuruh Orang yang Baru Belajar Menyetir Mobil untuk Pakai Insting, Mereka Lebih Butuh Teori dan Jam Terbang

26 Mei 2026
Banjarbaru, Ibu Kota Provinsi Rasa Kabupaten Gara-gara Keliatan Medioker (Kota Banjarbaru via Wikimedia Commons)

Banjarbaru, Ibu Kota Provinsi Rasa Kabupaten Gara-gara Keliatan Medioker

26 Mei 2026
Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

Rasanya Hidup di Pengok Jogja: Tidur di Antara 2 Rel, Pasti Bisa Bangun Pagi karena Suara Kereta Begitu Membahana

26 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.