Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
8 Juli 2026
A A
Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis Mojok.co

Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pengalaman beli kendaraan sendiri, Honda Vario Techno 125 bekas, tidak akan terlupa.

Tahun 2008 secara resmi menandai titik balik dunia transportasi umum di Jogja. Kemunculan TransJogja pada waktu itu sedikit demi sedikit mulai menggeser keberadaan bus konvensional, seperti Kopata, Damri, Aspada, dan Kobutri yang pernah merajai jalanan Jogja. Tapi saya merasakan perubahan yang paling signifikan pada rentang tahun 2016-2018, ketika saya berada di SMA dan menuju kuliah.

ADVERTISEMENT

Sejak SMP, sekitar tahun 2012-2015, saya terbiasa naik bus kota konvensional. Namun, dengan kondisi bus kota mulai menghilang sementara trayek TransJogja belum menjangkau seluruh wilayah Jogja membuat saya kesulitan untuk ke mana-mana. Padahal rumah saya masih berada di dalam Kota Jogja, tapi jalur TransJogja pada waktu itu nggak melintasi jalan manapun yang dekat dengan rumah saya.

Akhirnya, kendaraan pribadi menjadi kebutuhan baru saya, bukan lagi sekadar keinginan apalagi gaya hidup. Agar nggak merepotkan keluarga untuk mengantar-jemput, saya akhirnya membeli motor.

Motor yang saya beli bukan motor baru. Dan, saya berpikir bahwa motor bekas lebih value for money dibandingkan motor baru. Selain itu, budget saya, yang pada waktu itu belum bekerja dan menabung murni dari uang jajan hanya cukup untuk beli motor bekas saja. 

Pilihan motor bekas yang sesuai dengan budget saya sebenarnya cukup banyak. Saya pun memilih motor dengan spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Sisa budget akhirnya saya pakai untuk bayar pajak, servis awal, dan beli perlengkapan berkendara, seperti helm dan jas hujan yang bagus.

Pilihan jatuh pada Honda Vario Techno 125

Akhirnya, pilihan saya jatuh pada Honda Vario Techno 125 Helm-in. Alasannya sih ekonomis dan lumayan simple. Saya mau motor yang hemat bahan bakar dan bagasinya luas. Walaupun saya bukan anak otomotif, saya sempat mencari tahu beberapa opsi motor yang sesuai dengan spesifikasi yang saya cari dan cocok dengan budget yang saya punya.

Honda Vario yang satu ini memang sudah injeksi sehingga lebih irit dibanding generasi karburator. Bagasinya beneran gede banget yang nggak hanya muat jas hujan dan sandal jepit, tapi juga kotak bekal makan siang, botol minum, dan buku-buku pinjaman dari perpustakaan. Bahkan nasi kotak dari tempat magang pun muat di bagasi.

Baca Juga:

Honda Vario 150 keyless, motor sialan yang berhasil bikin saya malu di hadapan bos

Kenapa banyak pemilik motor Honda nggak mau servis motor di bengkel resmi atau AHASS?

Jadi bisa dibilang bagasi dengan budget sebenarnya cukup  cukup banyak. Tapi, selain memang harganya lebih murah dibandingkan motor baru, motor bekas punya lebih banyak sisi positif yang sangat saya pertimbangkan.

Saya dengar bahwa motor baru umumnya turun harga paling besar pada tahun-tahun awal, sehingga bisa dibilang penurunan harga terbesarnya sudah dialami pemilik sebelumnya. Motor bekas harganya sudah “stabil” karena saya sebagai pemilik selanjutnya nggak rugi-rugi amat jika saya mau menjualnya lagi.

Selain itu, daripada beli motor baru dengan spesifikasi mepet tapi makan budget besar, menu besar itu malah lebih bermanfaat untuk saya isi dengan benda-benda yang khas dengan kehidupan perkuliahan saya dibandingkan helm semata.

Motor, tiket menuju kemandirian

Dulu, hidup di Jogja tanpa motor itu nggak menyiksa. Ketika saya masih SMP, bus kota tiap beberapa menit sekali berseliweran mencari penumpang. Apalagi rumah saya itu termasuk daerah yang ramai dilintasi bus kota. Begitu turun dari bus, saya juga terbiasa jalan kaki dari jalan utama menuju rumah bersama penumpang yang lain.

Akan tetapi, semenjak bus kota menghilang, nggak ada jalur TransJogja di sekitar rumah saya, dan berjalan kaki nggak senyaman dulu. Saya pun mulai menabung untuk membeli motor untuk saya gunakan harian. Saya nggak mau merepotkan orang lain untuk mengantar saya ke mana-mana, apalagi untuk berangkat kuliah setiap hari.

Dan, benar saja, sekarang muncul pemikiran bahwa mahasiswa di Jogja akan kesulitan tanpa motor. Mengandalkan teman takut dikira benalu, naik ojol tiap hari bikin boros, dan belum bisa 100 persen bergantung pada transportasi umum.

Setelah punya Honda Vario Techno 125  saya bisa pergi ke mana-mana tanpa banyak pertimbangan. Misalnya, saat kuliah, ternyata jurusan saya punya banyak program praktik lapangan yang mengharuskan kami, para mahasiswa, untuk mengikuti perkuliahan di luar kelas. Dan, praktik lapangan ini nggak pernah dekat dari kampus. Kami pernah ke Sleman paling utara dan Bantul paling selatan.

Bahkan, pekerjaan yang saya dapatkan setelah lulus pun membuat saya makin bersyukur dengan keputusan beli motor bekas. Soalnya saya pernah dikirim untuk meneliti di Kapanewon Srandakan dan Kretek, Kabupaten Bantul, yang mana sudah pol daratan. Tanpa motor, bagaimana caranya saya berangkat dari Jogja Kota ke sana sekaligus berpindah dari satu dusun ke dusun yang lain?

Fase menabung yang bikin prihatin

Diingat-ingat lagi, fase menabung sebelum beli Honda Vario Techno125 itu memang lumayan bikin prihatin. Selama bertahun-tahun saya menahan diri untuk nggak jajan impulsif. Padahal banyak banget buku yang pengin saya beli, makanan yang pengin saya coba, hingga tempat yang pengin saya kunjungi pada waktu itu.

Akan tetapi, sekarang saya bangga sama kesabaran saya saat menabung. Investasi yang saya lakukan sudah dapat imbal hasilnya. Apalagi momen ketika saya memegang STNK yang sudah pakai nama saya sendiri setelah dibalik nama. Rasanya pertama kali punya “aset” atas nama sendiri tuh, wah banget. Nggak seberapa, tapi saya bahagia.

Sampai sekarang saya masih sulit menyebut motor saya sebagai kendaraan biasa. Buat saya, motor itu jadi saksi masa-masa saya belajar mandiri.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Bergantung pada Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

Tags: hondahonda varioHonda Vario Techno 125TechnoVario TechnoVario. Vario Techno 125
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

Motor Honda PCX, Motor yang Bakal Mengantarmu Naik Kasta Kehidupan yamaha NMAX pajero kunci keyless tangki honda pcx

Motor Honda PCX, Motor yang Bakal Mengantarmu Naik Kasta Kehidupan

3 Desember 2023
Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026
4 Motor yang Sulit Dimaling, Dilirik Maling pun Tidak

Rekomendasi 4 Motor yang Sulit Dimaling, Dilirik Maling pun Tidak

22 Februari 2025
5 Motor Terbaik buat Yang-yangan terminal mojok

5 Rekomendasi Motor Terbaik buat Boncengin Pacar

10 November 2021
Supra X Motor Terbaik Sepanjang Sejarah Roda 2 di Indonesia (Unsplash)

Supra X: Motor Terbaik Sepanjang Sejarah Roda 2 di Indonesia

24 Juni 2023
Honda Supra X 125 Motor Terbaik? Ngawur, yang Terbaik Tetap Karisma (Unsplash)

Motor Honda Terbaik Adalah Honda Karisma yang “Pantatnya Bahenol” Itu, Bukan Supra X 125 yang Lebih Modern

16 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kebodohan pembeli soto ayam yang bikin saya muak dan jijik (Wikimedia Commons)

Akulah pelanggan soto ayam yang marah itu gara-gara konsumen nggak punya hati yang bikin muak, mual, dan jijik

26 Juli 2026
3 Fakta Menarik tentang Kota Batu yang Jarang Dibicarakan Orang, Salah Satunya Pernah Terkenal dengan Perkebunan Kina

Macetnya Kota Batu kini bikin jengkel, semua gara-gara tata kota yang berantakan!

25 Juli 2026
Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi jasanya menandai hari jadi Klaten pada 28 Juli akan selalu diingat Mojok.co

Benteng Engelenburg sudah lenyap, tapi perannya untuk hari jadi Klaten akan selalu diingat

28 Juli 2026
Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral Terminal

Kompensasi delay pesawat payah, saya pernah menunggu lebih dari 2 jam cuma dapat air mineral

23 Juli 2026
Agent Kim: Reactivated, drakor yang tidak ramah buat kaum yatim pasif

Agent Kim: Reactivated, drakor yang tidak ramah buat kaum yatim pasif

23 Juli 2026
Tips Plesir Kala Malam di Jogja Naik GoRide (Unsplash)

Sebagai orang yang pernah tinggal di sana, saya harus jujur kalau Jogja kini menjelma jadi kota besar yang membosankan

23 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.