Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Adik Saya Masih SD dan Ia Mengaku Sedang Jatuh Cinta. Ini Respons Saya

Tazkia Royyan Hikmatiar oleh Tazkia Royyan Hikmatiar
3 April 2020
A A
Alya, Pemegang Kunci Cerita AADC yang Katanya “Lebih Baik” daripada Cinta anak sd jatuh cinta anak kecil pacaran suka lawan jenis cara menyikapi orang dewasa orang tua panduan mojok.co

anak sd jatuh cinta anak kecil pacaran suka lawan jenis cara menyikapi orang dewasa orang tua panduan mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Di atas kendaraan, adik saya cerita bahwa ia tengah jatuh cinta pada seorang wanita berinisial L. Saya berusaha sekuat mungkin tidak tertawa, menghargai perasaannya.

Orang tua zaman dulu menyebut gejala ini cinta monyet, sampai-sampai ada lagunya, dibawain band Goliath, tapi saya nggak mau nganggap cinta adik saya itu cinta monyet. Saya enggak mau nganggap cinta adik saya itu cuma cinta-cintaan yang kemudian pantas untuk ditertawakan—walaupun ya saya pengin ketawa. Setidaknya saya berusaha merespons curhatannya dengan serius.

Apa salahnya kalau anak kecil jatuh cinta pada lawan jenis? Kan tidak. Wajar kok, anak kecil juga punya perasaan. Mereka juga bisa benci, suka, dengki, dan merasakan perasaan lainnya. Cinta kan bagian perasaan juga.

Saya nggak mau menyepelekan perasaannya karena menurut saya, selama ini orang tua kita terbelenggu makna jatuh cinta itu pasti pacaran, dan pacaran berarti enak-enakan, maksiat, kacau, orang enggak bener. Padahal, makna seperti ini klise dan sudah basi. Imbasnya, banyak anak yang tak berani membagi cerita tentang percintaannya ke orang tua, ke keluarga. Mereka takut bakal diketawain, takut bakal langsung dituduh berbuat yang enggak-enggak. Seolah perasaan jatuh cinta adalah dosa.

Terus si anak jadi tidak tahu bagaimana seharusnya mengekspresikan perasaan jatuh cintanya. Mereka akan mencari orang lain yang kira-kira akan lebih nyaman untuk dicurhati, dan satu-satunya yang biasanya bisa mendukung curhatannya adalah justru teman sebayanya yang bahkan tidak tahu juga bagaimana itu cinta yang “wajar” untuk anak kecil. Atau lebih parahnya lagi, sebab media sosial sudah menjadi keseharian anak-anak sekarang, mereka otodidak, meniru segalanya dari sana. Tanpa terbatas.

Akhirnya orang tua dan keluarga kehilangan kendali atas perbuatan anaknya. Jangankan anak kecil, orang dewasa saja paham cinta bisa membuat orang melakukan hal tak terduga. Jadi bayangkan saja anak-anak yang jatuh cinta tanpa dampingan orang tua.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan menghadapi anak-anak yang sedang jatuh cinta?

Pertama, buka ruang seluas-luasnya untuk anak bercerita, tentang apa pun. Sederhana, anak tidak akan mau cerita, apalagi tentang cinta, jika tidak kepada orang terdekatnya, orang kepercayaannya. Jika dengan keluarganya saja tidak dekat, anak tidak akan berani bercerita pada kita. Dan itu akibatnya bisa buruk, anak bisa jadi mencari tempat curhat lain yang belum tentu bijaksana.

Baca Juga:

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

4 Hal Menyebalkan yang Membuat Ibu-ibu Kapok Pergi ke Posyandu

Kedua, jika anak sudah berani berbicara tentang cinta pada kita, suka pada lawan jenis, dengarkan saja dengan saksama. Biarkan mereka merasa aman dengan privasi atas perasaannya.

Ketiga, jangan beri judgement, penilaian, penghakiman kepada si anak. Jangan langsung dilarang pacaran kayak kebiasaan orang tua kita. Bisa jadi si anak cuma cerita dia suka sama seseorang tanpa tahu pacaran itu apa, lebih-lebih sampai ingin melakukannya. Setelah itu baru kita ajak diskusi gimana cara mengelola rasa cintanya biar menurut kita, tetap wajar-wajar aja.

Kepada adik, saya sampaikan ke dia bahwa jatuh cinta itu alamiah. Semua manusia akan merasakannya. Saya juga mempersilakannya untuk nembak orang yang dicintainya, meski dia masih kelas 5 SD. Syaratnya, dia harus terus melaporkan perkembangannya kepada saya. Kalau mau nembak, curhat lagi. Hasil nembaknya diterima atau ditolak, curhat lagi. Dan seterusnya, biar saya tahu bagaimana dia menyikapi perasaan cinta yang masih asing baginya.

Ini terlihat sederhana, tapi dampaknya luar biasa. Anak-anak zaman sekarang dapat mengakses informasi yang kita orang dewasa mungkin tak bisa bayangkan, tapi dengan pemahaman tak seutuh orang dewasa. Oleh karena itu, memberi anak akses untuk bercerita merupakan hal penting agar kita tidak cuma jadi keluarga sedarah, tapi juga temannya tumbuh berkembang.

BACA JUGA Selamat, Kamu Tidak Juara Kelas, Dik! dan tulisan Tazkia Royyan Hikmatiar lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 April 2020 oleh

Tags: AnakJatuh CintaPacaran
Tazkia Royyan Hikmatiar

Tazkia Royyan Hikmatiar

Lahir sebagai anak kelima dari enam bersaudara, alhamdulilah lahirnya di bidan bukan sama orang pintar daerah Bandung. Setelah tahu bahwa kata ternyata bisa membuat dia bahagia, akhirnya saya memutuskan untuk mendalami sastra di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Sempat mengikuti banyak komunitas kepenulisan, namun sekarang lebih fokus bekerja untuk keabadian di Pers Mahasiswa Poros UAD. Saya bisa dihubungi lewat WA di 088216427712

ArtikelTerkait

Sudah Selayaknya The Return of Superman Menjadi Referensi Tontonan Orang Tua yang Sedang dan Akan Mendidik Anaknya

The Return of Superman, Tontonan Terbaik bagi para Orang Tua dalam Mendidik Anak

10 Juli 2023
kuliah online s-2 bapak-bapak sambil ngasuh anak stay at home father mojok.co pjj pembelajaran jarak jauh

Kuliah Online S-2 Jungkir Balik? Boleh Coba Kuliah Online S-2 Sambil Ngasuh Anak

20 Juni 2020
bucin

Kenapa Orang yang Sayang dan Perhatian Pada Pasangannya Justru Diolok-olok Sebagai Bucin?

21 Juli 2019
Agus Mulyadi, Penyebab Utama Prahara dalam Hubungan Saya

Agus Mulyadi, Penyebab Utama Prahara dalam Hubungan Saya

20 Januari 2021
Berbahayakah Kalau Anak PKI Bisa Jadi Tentara Terminal Mojok

Berbahayakah Kalau Anak PKI Bisa Jadi Tentara?

2 April 2022
kadar bucin

Kadar Bucin Kalian Semua Bakal Nggak Ada Apa-Apanya Jika Dibandingkan dengan Thanos

5 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Memang Penuh Cerita dan Keresahan, Makanya Dibicarakan Berulang-ulang dan Hampir Tanpa Jeda

10 April 2026
Jalan Godean Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat Mojok

Jalan Godean yang Ruwet Konsisten Menguji Kesabaran Warga Sleman Sisi Barat

8 April 2026
Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga Mojok.co

Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga

9 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.