Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Skripsi Bukan Dijual, Bisa Jadi Masuk Jadwal Retensi Arsip (JRA)

Rinawati oleh Rinawati
23 Juli 2020
A A
skripsi ratusan halaman data skripsi kutipan dalam karya tulis skripsi dibuang mojok

skripsi dibuang mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Arsip atau dokumen memang sangat penting, sebab di dalamnya mengandung nilai informasi yang penting. Apalagi perihal skripsi, selain berisi riset dan informasi yang penting, terkandung nilai-nilai keuletan, ketangguhan diri dan perjuangan hidup dan mati seseorang. Memang, tidak ada yang bisa menyamai keagungan skripsi. Saking suci dan agungnya, perihal Unilak yang membuang eh melempar-lempar skripsi lewat jendela pun menuai banyak kecaman dan berujung “oknum” perpustakaan langsung dipecat. Ngweri, nda!

Oke, selaku alumni Ilmu Perpustakaan yang IPK-nya nggak tinggi amat, saya mau memberikan sedikit penjelasan sederhana. Sekalian menanggapi tulisan “Skripsi Sebaiknya Dijual ketimbang Disimpan, Bukankah Begitu, Unilak?”. Saya turut menyayangkan perbuatan itu, perbuatan di mana “oknum” perpustakaan “membuang” skripsi lewat jendela, lantas di bawahnya ada tukang loak yang siap masukin skripsi ke karung untuk dijual. Eh, itu tukang loak beneran? Atau anggota “oknum” perpustakaan juga? Sudah wawancara atau baru masih tahap hipotesis?

Selain “oknum” perpustakaan, saya juga menyayangkan tindakan mahasiswa juga pak Rektor. Sebab ya, eman-eman aja gitu rasanya. Manusia kan banyak luputnya, apalagi di tempat kerja. Kenapa nggak di-SP dulu? Barangkali bisa berbenah dulu biar nggak kena resuffle eh maksudnya kena pecat. Mak njegagik dipecat, apalagi kondisinya musim pandemi begiini, nggak enak banget pasti (Txt dari aku yang juga kena dampak pandemi).

Sebenarnya saya masih bimbang dengan konteks mahasiswa yang marah karena kasus di Unilak, mereka marah karena cara “oknum” perpustakaan yang harusnya menurunkan skripsi lewat jalan yang semestinya (tidak lewat jendela dan tidak dilempar-lempar) atau marah karena merasa skripsi tersebut tidak bernilai karena dibuang dan diloakkan? Hmm, kalau saya nebaknya sih marah karena opsi kedua, karena merasa tidak dihargai jerih payahnya. Ini penilaian pribadi berdasarkan komentar di media sosial, lho ya.

Jadi begini, gaes. Di dunia perpustakaan terutama ranah pengarsipan, ada yang namanya retensi dan penyusutan arsip demi efektivitas dan efisiensi manajemen pengarsipan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi jumlah atau kuota arsip, mana yang pantas tetap disimpan dan mana yang masuk waktu dimusnahkan. Ingat, tujuan arsip disimpan adalah agar informasinya mudah ditemukan kembali. Nah, kalau kuota arsip ini tidak diperhitungkan retensi dan penyusutan maka yang terjadi adalah overload arsip. Dampaknya? Ya tentu pas mau nyari informasi susah dan memakan waktu lama.

Cara yang dilakukan untuk menyusutkan arsip ini juga beragam. Ada yang dipindahkan, diserahkan (ke pusat) dan dimusnahkan. Nggak tahu kalau diloakkan itu masuk kategori mana. Sedangkan untuk Jadwal Retensi Arsip (JRA) sudah diatur lewat Undang-Undang Pasal 47 No. 43 Tahun 2009.

Nggak cuma perguruan tinggi. Lembaga lain seperti BUMN, BUMD, partai politik, perusahaan swasta, organisasi massa dan lainnya juga wajib memiliki JRA yang ditetapkan oleh pimpinan lembaga setelah mendapat persetujuan kepala ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia).

Nah, dalam kasus skripsi, sebelum masuk JRA sudah dipilah-pilah. (Harusnya) Sudah dipilah mana yang masih fresh dan mana yang sudah lawas dan “rusak” (sesuai klarifikasi pak Rektor). Misal kalian bikin skripsi tahun 2010, dan sekarang sudah 2020. Dah 10 tahun, sudah banyak kuota skripsi baru dan isinya lebih akurat seiring zaman. Nggak mungkin kan karyamu mau disimpan terus di perpustakaan? Mana muat, kalau gedungnya segede gedung DPR sih muat-muat aja. Umumnya skripsi bersifat aktif 1 tahun, inaktif 2 tahun, lalu dimusnahkan,” kata Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga (Unair) Iswanda F. Satibi

Baca Juga:

Pengakuan Joki Skripsi di Jogja: Kami Adalah Pelacur Intelektual yang Menyelamatkan Mahasiswa Kaya tapi Malas, Sambil Mentertawakan Sistem Pendidikan yang Bobrok

Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas, Semuanya Jadi Lebih Lancar

Sebagai syarat lulus, selain mengumpulkan skripsi di perpustakaan juga disuruh juga ngumpulin softfile dalam bentu vcd, kan? Nah, itu nanti pihak perpustakaan bertugas mengelola dan menyebarkan karya kalian lewat portal digital. Beda-beda tiap universitas, biasanya dinamakan Repository, Digilib, dan sejenisnya. Portal reposirory macem-macem isinya, kalau masalah skripsi, isinya berupa keterangan karya ilmiah (nama penulis, judul, tahun dan lain-lain) dan biasanya yang diupload hanya Bab 1-3 saja. Kalau tertarik dan butuh full lengkapnya, baru ke perpustakaan untuk nyari referensi yang dibutuhkan. Jadi begitu ya, Malih.

Saya tahu skripsi itu memang perjuangan seseorang karena melibatkan fisik dan materiil. Saya sangat paham bagaimana seorang mahasiswa harus berdarah-darah dulu demi menghasilkan sebuah cetakan hard cover hingga bisa bertengger di perpustakaan. Sudah susah payah, dibuang lewat jendela, diloakkan pula. Pokoknya “oknum” perpustakaan itu sungguh nggak manusiawi lah ya? Tapi pernah nggak kalian berfikir sekilas tentang pegawai perpustakaan? Apa saja yang dikerjakan? Rintangan yang harus dilewati sampai bisa duduk di ruangan berkipas angin, eh maksudnya AC. Nggak pernah, kan?
Mengutip tulisan Mas Mubaidi Sulaeman, “Memang seseorang itu akan mati rasa ketika ia tidak pernah mengalaminya sendiri penderitaan tersebut. Mereka yang membuang skripsi dengan mengatasnamakan “apapun”, pada hakikatnya telah menghina “harga diri dan perjuangan” mahasiswa.” Haduh mas, lha dikira pegawai perpustakaan itu lulusan SMA semua? Jadi mereka nggak pernah merasakan jadi mahasiswa dan mengalami penderitaan ngerjain skripsi atau tugas akhir? Hashh, mainmu kurang jauh, mas!

Dari tinggat perpustakaan sekolah (SD, SMP, SMA), perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan swasta, perpustakaan daerah dan perpustakaan apapun. Rata-rata minimal pendidikan itu sudah harus D-3/S-1. Selama mengenyam pendidikan, kita selalu berorientasi pada pemustaka, cara memperlakukan pemustaka, membantu kebutuhan pemustaka, sabar menghadapi berbagai bentuk dan model pemustaka, ya karena kita sadar memang itu tanggung jawab pekerjaan ini. Dan kalau misalkan ada “oknum” perpustaan yang ndelelah kinerjanya agak nggak profesional tapi tetap bekerja, ya mungkin lagi ngetren-ngetrennya orang tidak kompeten tapi tetap stuck di posisi tersebut.

Ya kadang adapula sih, “oknum” perpustakaan yang melayani dengan jutek pasti karena beberapa alasan. Bisa juga karena hilang kesabaran ngadepi pemustaka yang ndlogok. Aku throwback tulisanku yang dulu ya. Jadi perpustakaan itu bukan ladang basah. Tahu kan maksudnya? Tidak ada anggaran yang bisa mlipir diselipkan ke kantong.

Selain masalah gaji, masalah anggaran lainnya juga seret. Anggaran pengadaan sarpras, pengadaan koleksi dan tetek bengek lainnya. Belum lagi kalau pimpinan tidak melek perpustakaan dan tidak pro aktif, duh makan deh. Pokoknya, modal bertahan kerja di dunia perpustakaan ya hanya dengan mencintai. Kalau tidak, sudah nyerong haluan tempat kerja yang lebih “basah”. Kamu nggak akan kuat, biar kami saja~

Untuk menutup tulisan ini, aku mau mengutip twet Eka Kurniawan sebagai refleksi diri aja sih, “memang problem kita ini di kiri-kanan, depan-belakang: tak mau ngecek sumber. mau konservatif atau liberal, semua sumbu pendek. langsung nge-gas. telan semua info mentah2.”

Btw, kalian yang ikut demonstrasi dan marah-marah kemarin masih hafal judul sendiri, kan?

BACA JUGA 5 Hal yang Bisa Diteladani Kaum Muda dari Sosok Jerinx dan tulisan Rinawati lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2020 oleh

Tags: arsipPerpustakaanSkripsi
Rinawati

Rinawati

Perempuan yang percaya bahwa menjadi diri sendiri itu overrated~

ArtikelTerkait

Jangan Cuma Tergiur Judul Keren, Ini Bocoran Dosen biar Tema Skripsi Cepat Diterima

Jangan Cuma Tergiur Judul Keren, Ini Bocoran Dosen biar Tema Skripsi Cepat Diterima

4 Oktober 2025
Dosen Pembimbing Bersifat Buruk, Skripsi dan Lulus Jadi Lama! (Unsplash) berkas kelulusan jasa edit skripsi

Mengganti Tugas Akhir Skripsi dengan Magang Itu Pendapat yang Naif dan Nggak Berpikir Panjang

3 Agustus 2025
Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

Lulus Kuliah Mudah Tanpa Skripsi Hanya Ilusi, Nyatanya Menerbitkan Artikel Jurnal SINTA 2 sebagai Pengganti Skripsi Sama Ruwetnya

9 Desember 2023
Alasan Saya Kecewa dengan Perpustakaan UI, Jam Operasional Nggak Jelas hingga Koleksi Ilang-ilangan Mojok.co

Alasan Saya Kecewa dengan Perpustakaan UI, Jam Operasional Nggak Jelas hingga Koleksi Ilang-ilangan

13 Mei 2024
Ide Membangun 10 Ribu Perpustakaan Desa Bukti Perpusnas Gagal Paham dengan Kondisi Literasi di Desa Mojok.co

Ide Membangun 10 Ribu Perpustakaan Desa Bukti Perpusnas Gagal Paham dengan Kondisi Literasi di Desa

24 Februari 2024
skripsi ratusan halaman data skripsi kutipan dalam karya tulis skripsi dibuang mojok

Kutipan dalam Karya Tulis Banyak, tapi Argumen Pribadinya Nol

24 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal Mojok.co

6 Mitos di Kebumen yang Nggak Bisa Dibilang Hoaks Begitu Saja

3 Februari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan (Unsplash)

4 Kebohongan Tentang Indomaret yang Perlu Diluruskan

4 Februari 2026
Es Teh Jumbo Cuan, tapi Jualan Gorengan Bikin Saya Bisa Kuliah (Unsplash)

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

2 Februari 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi

6 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.