Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Aditya Ikhsan Pradipta oleh Aditya Ikhsan Pradipta
16 Agustus 2026
A A
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Di tengah kota metropolitan semacam Surabaya, banyak hal modernitas bertumbuh dan menjamur ke mana-mana. Seperti gedung-gedung pencakar langit, hotel bintang lima, hingga mal mewah dengan lapisan lantainya. Semuanya menampakan diri untuk menjadi identitas wajib bagi kota dengan jumlah warga hampir 3 juta ini. Tak terkecuali kafe kekinian yang berlomba muncul di tiap sudut kawasan Ngagel. Rentetan coffee shop ini menghadirkan ciri khasnya masing-masing.

Daerah ini memang lagi hype terkenal dengan banyaknya pilihan kafe ala-ala Gen Z atau cangkrukan kalcer. Ibaratnya Senopatinya Jakarta, tapi ini lebih ke nyel Suroboyoan.

ADVERTISEMENT

Cuman banyaknya coffee shop menurutku bisa dibaca sebagai tanda bahwa warga membutuhkan ruang untuk berkumpul, tetapi kota menyerahkan pemenuhan kebutuhan itu ke sektor komersial. Ruang-ruang publik gratis memang masih kurang dikembangkan, padahal sangat potensial.

Ngagel Surabaya, coffee shop, dan kebutuhan kita untuk berkumpul

Sebagai orang yang beberapa kali singgah ke coffee shop di kawasan Ngagel Surabaya untuk meredakan mumet setelah seharian bekerja. Aku melihat ada keunggulan di konsep kafenya. Ada yang aesthetic dengan spot foto pinterest, ada kedai suasana homey dan banyak juga yang semi-industrial.

Selain itu cukup sering beberapa kafe mengadakan aktivasi beragam event, termasuk berkolaborasi dengan komunitas dan mereka terbuka bila diajak kerja sama.

Tapi ada satu hal yang mungkin luput dari pandangan kita. Untuk mendapatkan ruang sosial di Ngagel Surabaya (dan mungkin tempat lain juga begitu), kita harus jadi konsumen dulu. Merogoh uang, untuk mendapatkan hak-hak yang sebenarnya bisa didapat gratis.

Menurutku masih wajar ketika coffee shop menetapkan harga, jam operasional, kapasitas, bahkan aturan siapa yang boleh menggunakan ruangnya, ya karena mereka adalah bisnis. Coffee shop melihat peluang dan menjawab kebutuhan ruang sosial dengan fasilitas memadai. Justru keberhasilan kafe-kafe ini, menunjukkan adanya kebutuhan ruang sosial yang besar dan belum sepenuhnya dijawab oleh ruang publik kota Surabaya.

Belajar dari Jakarta: kota yang memberi ruang untuk warganya

Lucunya, sebagai sesama kota metropolitan, Jakarta justru lebih berhasil menjawab kebutuhan ruang untuk warganya, padahal secara kepadatan, tentu saja Jakarta jauh lebih padat. Surabaya, yang secara angka kepadatan jauh di bawah Jakarta, malah gagal menjawab kebutuhan ruang.

Baca Juga:

Ganti pemimpin Surabaya ternyata nggak makin berbenah: lahan parkir selalu saja jadi masalah pelik meski berkali-kali dikritik

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

Di Jakarta, Semua warga bisa nongkrong menikmati kotanya, tanpa harus menjadi konsumen. Identitas ruang publik teramat nyata di sana. Banyak ruang disediakan untuk mengakomodir kebutuhan sosial warga, berinteraksi atau sekadar melamun.

Kemudahan mencari ruang publik gratis dan nyaman inilah yang seharusnya menjadi concern Pemerintah Kota Surabaya. Karena di kota metropolitan, kebutuhan tempat melepas penat sungguh sangat dibutuhkan. Rasanya menyebalkan jika misalkan aku tinggal di daerah Ngagel Surabaya, lalu pilihan ruang sosialnya terbatas di kafe saja atau aku harus perjalanan jauh ke tengah kota untuk menikmati ruang publik secara nyaman.

Jakarta bisa menjadi contoh, tapi bukan standar yang harus ditiru mentah-mentah. Tidak berarti semua ruang publik Jakarta sudah sempurna, dan bukan berarti berhasil juga. Tapi ada contoh kemauan aktif dari pemerintah setempat untuk menunjukan kepedulian menyediakan kebutuhan warganya.

Warga kota bukan hanya konsumen

Pada akhirnya, persoalan Ngagel bukan tentang terlalu banyak coffee shop. Aku sumringah coffee shop tumbuh di sana. Mereka membuat kawasan menjadi hidup, membuka ruang untuk komunitas, dan menjawab kebutuhan warga dengan cara mereka sendiri.

ADVERTISEMENT

Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa kebutuhan yang sama belum cukup dijawab oleh ruang publik kota. Mengapa untuk sekadar duduk, mengobrol, membaca buku, atau melepas penat, kita begitu sering harus menjadi konsumen terlebih dahulu?

Pemerintah kota tidak perlu bersaing dengan coffee shop, malah harusnya bisa saling berkolaborasi. Cukup berikan warga pilihan lain yang lebih memudahkan. Karena ruang publik adalah cara sebuah kota menunjukkan bahwa warganya tidak hanya dipandang sebagai konsumen, tetapi sebagai manusia yang berhak menikmati kotanya.

Penulis: Aditya Ikhsan Pradipta
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Surabaya Memang Kekurangan Tempat Wisata, tapi Tidak Pernah Kekurangan Warkop

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Agustus 2026 oleh

Tags: kafe di surabayangagel surabayaruang publik surabayaSurabaya
Aditya Ikhsan Pradipta

Aditya Ikhsan Pradipta

Seorang dari Kota Pahlawan dan pekerja swasta. Menghabiskan waktu senggang menjadi volunteer sosial, menyukai isu lingkungan, perkotaan dan bonusnya senang guyon.

ArtikelTerkait

Kabupaten Jember Harusnya Belajar dari Surabaya Soal Transportasi Umum, Bisa Jadi Solusi Kemacetan dan Promosi Pariwisata

Kabupaten Jember Harusnya Belajar dari Surabaya Soal Transportasi Umum, Bisa Jadi Solusi Kemacetan dan Promosi Pariwisata

17 Desember 2023
Jalan Raya Mastrip Surabaya, Jalur Kematian yang Begitu Menyeramkan

Jalan Raya Mastrip Surabaya, Jalur Kematian yang Begitu Menyeramkan

3 Februari 2024
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Pengalaman Saya Mengunjungi THR IT Mall Surabaya: Nuansanya Suram dan Hampir Kena Tipu

Pengalaman Saya Mengunjungi THR IT Mall Surabaya: Nuansanya Suram dan Hampir Kena Tipu

22 Mei 2025
Tukang Parkir Surabaya Bikin Iri Daerah Lain, Sistemnya Canggih dan Lebih Jujur Mojok.co

Tukang Parkir Surabaya Bikin Iri Daerah Lain, Sistemnya Canggih dan Lebih Jujur

17 Januari 2024
5 Kuliner Surabaya yang Kurang Cocok di Lidah Wisatawan Mojok.co

5 Kuliner Surabaya yang Kurang Cocok di Lidah Wisatawan

27 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman 6 jam mampir ke IKN, saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya Mojok.co

Pengalaman 6 jam mampir ke IKN saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya

14 Agustus 2026
Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

12 Agustus 2026
Kisah bapak saya cari kerja bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang Mojok.co

Kisah cari kerja di generasi bapak saya bikin iri karena loker banyak dan nggak ribet, tidak seperti zaman sekarang

13 Agustus 2026
Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

13 Agustus 2026
Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga Mojok.co

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga

12 Agustus 2026
Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

Pengalaman berkendara di Jombang membuat saya merasa kalau jalan di Lamongan tidak buruk-buruk amat

12 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.