Saya sarjana Akuntansi FEB Unila Lampung. Saya baru lulus Desember lalu. Terdengar masih “segar” memang, tapi kalau ditanya soal hal berkesan selama jadi mahasiswa, jujur saya kesulitan.
Kalau dipikir-pikir lagi, yang banyak membekas di ingatan adalah kedongkolan. Dongkol karena terlalu banyak stereotipe yang melekat ke mahasiswa FEB Unila Lampun yang saya kira berlebihan. Saking seringnya dinilai dengan stereotipe ini, saya dan banyak kawan lain sampai muak.
Mahasiswa FEB Unila Lampung selalu tampil modis, stylish, dan sudah pasti kaya-kaya
Poin pertama ini bukan sekali dua kali saja saya. Ketika saya mengajak teman atau orang luar masuk kampus saya, mereka menolak. Mereka mengira penampilan mahasiswa yang kuliah di sini pasti cetar membahana semua. Mereka menolaknya karena bikin minder.
Padahal tidak semua mahasiswanya seperti itu. Saya misal, lebih sering pakai kemeja warna tosca lungsuran ibu yang kancingnya lepas satu. Bawahannya rok hitam biasa. Riasannya pun hanya sunscreen Hanasui SPF 30. Sebenarnya itu tidak bisa dibilang riasan sih.
Sekalipun ada yang mau masuk FEB Unila Lampung, mereka biasanya nggak betah lama-lama. Biasanya mlipir perlahan sambil menyindir tipis, “Nggak mau lama-lama ah di sini. Kawasan orang kaya.”
Soal kondisi ekonomi, bukankah setiap fakultas pasti isinya beragam mahasiswa? Dikira mahasiswa FEB Unila UKT-nya mentok kanan dan hari-hari ke kampus bawa mobil pribadi semua kali. Kelas menengah yang serba tanggung dan terimpit pun juga bejibun di sini.
Saya nggak terima semua anak FEB diberi cap kaya dan hedon. Soalnya selama saya berdagang di Universitas Lampung, mahasiswa dari fakultas ini yang paling banyak nawar dan minta gratisan. Hiks. Dendam pribadi.
Waktu berkuliah di jurusan Akuntansi juga rasanya nggak ada ketimpangan yang kentara. Barangkali karena teman saya hanya sedikit dan nggak punya sirkel sih, tapi serius, di sini itu biasa aja. Nggak semua kaya raya. Ada juga mahasiswa kaya tapi ngaku miskin di borang UKT.
Mahasiswanya pintar dan rajin
Nah, yang kedua ini juga bikin heran bukan kepalang. Saya pun tidak tahu dari mana datangnya lantaran tidak pernah mengalami langsung kecuali dari persepsi saudara, khususnya karena kuliah jurusan Akuntansi. Namun, nama FEB saja sudah bikin terima anggapan macam-macam yang kesannya “wah” betul. Padahal mah ….
Stereotipe ini kerap diperoleh beberapa teman saya yang mengikuti komunitas atau acara di luar kampus. Waktu memperkenalkan diri sebagai warga FEB Unila Lampung, selalu saja dikira pintar dan rajin.
Kenyataannya, tidak semuanya seperti itu, yang tolol ada, yang malas pun banyak. ada. Yang tolol, malas, dan kelakuannya ajaib di sini? Banyak banget.
Daripada menaikkan derajat, stereotipe ini rasanya hanya menambah beban kehidupan saja. Harus bisa begini. Harus mampu begitu. Masa tidak tahu ini. Masa kurang paham itu. Semuanya karena “seharusnya” kami “mahasiswa FEB Unila yang pintar dan rajin”. Kalau dibilang begitu, auto pengin berubah jadi ubur-ubur saja. Enak, tinggal goyang dan nggak usah bayar pajak.
Jadi, tolong ya, stereotipe di atas sebaiknya tidak usah dipercaya. Mending kenal dulu secara personal sama orang-orangnya, baru nanti tahu deh aslinya bagaimana. Siapa tahu malah muncul stereotipe baru (waduh).
Penulis: Siti Atika Azzahrah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pengalaman Kuliah S2 UGM Nyambi Jadi MUA, Nggak Malu walau Sempat Merias Temen yang Lulus Duluan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













