Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan

Rizka Utami Rahmi oleh Rizka Utami Rahmi
26 Juni 2026
A A
Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan Mojok.co

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalian pernah menemukan area perumahan yang dijadikan pasar kaget? Hal itu terjadi tiap pekan ketika saya masih tinggal di Depok, Jawa Barat. Daerah tempat tinggal saya saat itu memang daerah perkampungan, sehingga saya pikir wajar hal macam ini terjadi. 

Ternyata saya salah besar. Setelah pindah ke Tangerang yang lebih “kota”, fenomena itu masih saja terjadi. Bahkan, tak jarang pasar kaget tersebut menyasar perumahan yang terbilang elit. 

ADVERTISEMENT

Saya gagal paham. Kenapa sih pasar kaget mengincar kawasan dekat perumahan? 

Setelah saya pikir-pikir, kawasan perumahan memang jadi destinasi favorit warga kampung yang ingin jogging atau sekadar cari sarapan bersama keluarga. Kawasannya yang luas dan tak banyak kendaraan melintas membuat kawasan ini jadi tempat favorit warga kampung di akhir pekan. 

Melihat peluang menggiurkan itu, para pedagang jelas tergiur untuk memanfaatkannya demi cuan. Seketika kawasan perumahan jadi pasar kaget yang menggiurkan. Bagaimana tidak, di sana ada banyak sekali jajanan enak dan murah meriah. Mulai dari telur gulung, kue odading, roti bakar, nasi kuning, siomay, hingga rice bowl semua ada di sana. 

Kerugian yang pasti dirasakan warga perumahan

Sekilas pasar kaget seolah tanpa masalah. Pedagang dapat untung, warga dapat hiburan. Namun, ada satu hal yang jarang dibahas, warga perumahan. 

Saya tidak pernah membayangkan betapa dongkolnya warga perumahan tiap pekan. Mereka harus rela area tempat tinggalnya jadi pusat keramaian. 

Coba bayangkan saja, yang biasanya hari Minggu menjadi waktu paling nyaman untuk bersantai di rumah, tiba-tiba sejak pagi sudah dipenuhi suara pedagang menawarkan dagangannya. 

Baca Juga:

Sisi Gelap Budak Korporat di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta: Ketika Pekerja Menggadai Kewarasan demi Terlihat Elite

Cikupa Tangerang, Kota Seribu Industri yang Macetnya Bikin Pekerja Pabrik Dilema: Resign Jadi Gembel atau Bertahan tapi Gila

Belum lagi suara knalpot motor, anak-anak yang berlarian, hingga pengunjung yang mengobrol dengan suara keras. Kalau hanya sesekali mungkin masih bisa dimaklumi, tapi kalau terjadi setiap minggu, ya lama-lama pasti bikin tidak nyaman.

Parkir dan sampah jadi persoalan 

Suara berisik hanya satu persoalan. Masih ada urusan parkir yang menurut saya menjadi salah satu masalah terbesar. Karena tidak tersedia lahan parkir khusus, banyak pengunjung yang akhirnya memarkirkan motor bahkan mobil mereka di pinggir jalan perumahan. 

Akibatnya, jalan yang tadinya lebar menjadi menyempit. Bayangkan kalau ada kondisi darurat dan ambulans harus masuk ke kawasan tersebut, tentu akan sangat merepotkan.

Masalah berikutnya yang hampir pasti muncul adalah sampah. Walaupun sebagian pedagang menyediakan tempat sampah kecil di depan lapaknya, tetap saja masih banyak pengunjung yang membuang sampah sembarangan.

Gelas plastik bekas minuman, tusuk sate, bungkus makanan, tisu, hingga kantong plastik sering kali terlihat berserakan di pinggir jalan atau taman perumahan. Memang biasanya setelah pasar selesai ada petugas kebersihan yang membersihkan, tetapi tetap saja warga harus melihat lingkungan tempat tinggalnya berubah menjadi kotor selama beberapa jam.

Yang paling kasihan menurut saya adalah warga yang rumahnya tepat berada di depan lokasi para pedagang berjualan. Bisa dibayangkan bagaimana akses keluar masuk rumah mereka menjadi terganggu. Mau mengeluarkan mobil susah, tamu yang datang juga kebingungan mencari tempat parkir.

Ketenangan yang direnggut

Saya juga sering berpikir, sebenarnya kawasan perumahan dibangun sebagai tempat tinggal yang mengutamakan kenyamanan penghuninya. Ketika setiap akhir pekan berubah menjadi area perdagangan, tentu fungsi utamanya sedikit demi sedikit ikut bergeser.

Di sisi lain, saya juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan para pedagang. Mereka hanya mencari nafkah dan memanfaatkan keramaian. Terlebih, pasar kaget seperti ini biasanya selalu ramai pembeli sehingga menjadi peluang usaha yang sayang untuk dilewatkan.

Sebagai pembeli pun saya mengakui cukup menikmati keberadaan pasar kaget. Rasanya menyenangkan bisa jalan santai sambil jajan aneka makanan tanpa harus pergi jauh ke pusat kuliner. Harga makanannya juga relatif murah sehingga cocok dijadikan tujuan menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.

Hanya saja, menurut saya tetap harus ada aturan yang jelas agar semua pihak sama-sama diuntungkan. Misalnya, menentukan area khusus pedagang agar tidak memenuhi seluruh badan jalan, menyediakan tempat parkir sementara, hingga memastikan jumlah tempat sampah memadai dan langsung dibersihkan setelah pasar selesai.

Kalau memang pasar kaget ini sudah menjadi agenda rutin, pengelola perumahan, pedagang, dan pemerintah setempat seharusnya bisa duduk bersama mencari solusi. Jangan sampai hanya pedagang dan pengunjung yang menikmati manfaatnya, sementara warga yang tinggal di sana justru harus menanggung segala kerepotannya.

Bagaimanapun juga, rumah adalah tempat orang beristirahat. Jangan sampai setiap hari Minggu yang seharusnya menjadi waktu paling tenang justru berubah menjadi hari yang paling melelahkan bagi penghuni perumahan.

Penulis: Rizka Utami Rahmi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Rasanya Tinggal di Rumah Subsidi: Harus Siap Kehilangan Privasi dan Berhadapan dengan Renovasi Tiada Henti.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Juni 2026 oleh

Tags: depokperumahantangerangwarga perumahan
Rizka Utami Rahmi

Rizka Utami Rahmi

Mom of two and happy wife.

ArtikelTerkait

Jalan Parung-Ciputat Adalah Halang Rintang Berkedok Jalan Raya di Depok Mojok.co

Jalan Parung-Ciputat Adalah Halang Rintang Berkedok Jalan Raya di Depok

15 Juli 2024
Membangun Mal Baru di Margonda Depok Cuma Bikin "Penyakit", Mending Bikin Perpustakaan Mojok.co

Menambah Mal Baru di Margonda Depok Cuma Bikin “Penyakit”, Mending Membangun Perpustakaan

16 April 2024
Tanggapan buat Netizen yang Ngeluh Prestasi Bidang Agama Tak Pernah Diliput Media terminal mojok.co

5 Bukti Universitas Gunadarma Bisa Bersaing dengan Universitas Indonesia

6 April 2020
parkir syariah

Tiga Alasan Kenapa Parkir ‘Syariah’ Itu Penting

14 Juli 2019
Tanah Makam, Investasi Masa Depan yang Pasti "Untung"

Investasi Tanah Makam Amat Penting, Terutama untuk Warga Perumahan

23 September 2024
Cisauk vs BSD, Kecamatan di Tangerang dengan Dua Wajah yang Kesenjangannya Bikin Serasa Pindah Alam tangerang raya, kabupaten tangerang, tangerang selatan, kota tangerang

Cisauk vs BSD, Kecamatan dengan Dua Wajah yang Kesenjangannya Bikin Serasa Pindah Alam

30 Oktober 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati! perpusnas

Anggaran Perpustakaan Itu Mahal, tapi Kita Tak Pernah Peduli karena Maunya Terima Jadi

22 Juni 2026
Sebagai Warga Lokal, Saya Mengaku Iri dengan Anak Rantau yang Kuliah di Unila Lampung

Sebagai Warga Lokal, Saya Mengaku Iri dengan Anak Rantau yang Kuliah di Unila Lampung

23 Juni 2026
Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Pejuang Rupiah

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Memahami Perjuangan Pejuang Rupiah di Atas Aspal

25 Juni 2026
Pengalaman Pahit Punya Usaha Laundry, Karyawan Banyak Drama hingga Pelanggan Tak Tahu Diri Terminal

Pengalaman Pahit Punya Usaha Laundry, Karyawan Banyak Drama hingga Pelanggan Tak Tahu Diri

24 Juni 2026
Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

Perjalanan Pulang Kerja Naik Bus Bekasi-Cikupa, Pahit yang Harus Dijalani Tiap Hari

23 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.