Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sebagai Pengendara Motor di Bandung, Saya Capek Ikut Menyumbang Macet Setiap Hari

Naufal Dlorif Efendi oleh Naufal Dlorif Efendi
27 Juni 2026
A A
3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

3 Cara Kecamatan Cibiru Membunuh Romantisme Bandung (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

“Aduh geus macet deui wae”

Kalimat itu terucap hampir setiap hari ketika saya menyusuri jalanan Kota Bandung. Kota yang katanya dijuluki Kota Kembang dan selalu di romantisasi, tapi jalanannya sama sekali nggak romantis. Setiap pagi saya ikut memenuhi jalanan Bandung dengan sepeda motor. Setiap sore saya ikut mengantre di lampu merah yang panjangnya semakin nggak masuk akal. Ya memang boleh dikatakan saya juga bagian dari kemacetan yang setiap hari saya keluhkan sih.

Bandung dan kemacetan akhir-akhir ini jadi hal yang bikin banyak warga frustasi. Saya juga membencinya, tetapi setiap hari saya ikut menyumbang. Hampir setiap pagi saya berangkat dengan harapan bisa sampai kampus atau tempat tujuan dalam waktu yang wajar. Namun harapan itu sering kali kandas bahkan sebelum saya melewati dua persimpangan pertama.

ADVERTISEMENT

Jalanan yang nggak terlalu lebar sudah dipenuhi mobil, motor, angkot, kendaraan logistik, dan sesekali wisatawan yang kebingungan mencari jalan menuju tempat nongkrong yang sedang viral. Kondisi ini sampai membuat ada ungkapan “kolot di jalan” (tua di jalan). Sebab begitu lamanya waktu yang dihabiskan di jalanan kota bahkan untuk jarak kurang dari 10 kilometer.

Saya sering heran dengan Bandung. Jalanannya kecil, tikungannya banyak, tapi jumlah kendaraannya seperti sedang berlomba menyaingi Jakarta. Kadang di tengah kemacetan Gunug Batu-perempatan Pasteur saya sambil bertanya-tanya, ini sebenarnya saya sedang di Bandung atau sedang antre sembako?

Memang tidak baik-baik saja

Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Saya tinggal di Cimahi dan sehari-hari harus menuju kawasan UPI. Jaraknya sebenarnya tidak sampai membuat saya perlu menyiapkan bekal perjalanan seperti orang yang mudik. Namun dalam kondisi tertentu, perjalanan sekitar 9 kilometer bisa menghabiskan waktu hampir satu jam.

Pernah suatu pagi saya berangkat dengan perhitungan yang menurut saya sudah aman. Hasilnya? Saya tetap hampir terlambat masuk kelas. Motor yang seharusnya memberi kebebasan justru berubah menjadi kursi tunggu berjalan di bawah terik matahari Bandung yang belakangan terasa makin galak.

Saat itu saya mulai berpikir, mungkin masalahnya bukan lagi soal jumlah kendaraan. Mungkin memang sistem mobilitas kota ini yang sedang tidak baik-baik saja.

BACA JUGA: Jalan Dipatiukur, Titik Kumpul Permasalahan Kota Bandung, Semuanya Ada!

Baca Juga:

Alun-Alun Rancasari, Tempat Aneh di Kota Bandung yang Disukai Warlok

3 Alasan Romantisme Bandung Akan Luntur, Ketika Menginjakan Kaki di Kecamatan Cibiru

Jalanan Bandung kurang memadai?

Berbeda dengan Jakarta yang masih memiliki banyak koridor jalan besar untuk menampung mobilitas warganya, sebagian ruas jalan di Bandung sebenarnya nggak dirancang untuk menanggung ledakan kendaraan seperti sekarang. Banyak jalan utama terasa seperti jalan lingkungan yang dipaksa bekerja di luar kapasitasnya.

Masalahnya, jumlah kendaraan terus bertambah sementara ruang jalan nggak mungkin diperluas tanpa batas. Bandung nggak punya kemewahan geografis untuk terus mengandalkan kendaraan pribadi sebagai tulang punggung mobilitas.

Situasinya semakin menarik setiap akhir pekan. Ketika warga Bandung yang hendak beraktivitas bertemu dengan rombongan wisatawan yang ingin berlibur, jalanan kota berubah menjadi ruang tunggu raksasa tanpa nomor antrean. Semua orang bergerak pelan, semua orang mengeluh. Tetapi lucunya, minggu berikutnya semuanya terulang lagi bagai siklus tanpa akhir.

Kita butuh transum yang memadai

Saya tidak pernah membayangkan akan iri kepada Jakarta dalam urusan transportasi. Kota yang dulu sering dijadikan simbol kemacetan itu justru membuat saya merasa seperti sedang melihat masa depan yang gagal diwujudkan Bandung. Beberapa kali mencoba MRT, KRL, dan TransJakarta, saya merasakan sesuatu yang jarang saya rasakan ketika bepergian di Bandung, kepastian.

Saya tahu kendaraan berikutnya akan datang. Saya tahu harus transit di mana. Juga, saya tahu berapa lama perjalanan saya akan berlangsung. Bagi warga Jakarta, mungkin itu terdengar biasa saja. Tetapi bagi saya yang terbiasa mengandalkan motor hampir ke mana-mana, kepastian semacam itu terasa mewah.

Sebagai pengendara motor, saya tentu menikmati kemudahan yang diberikan kendaraan pribadi. Namun ada kalanya saya berharap nggak perlu menggunakannya setiap hari.

Saya ingin suatu saat bisa pergi dari satu ujung Bandung ke ujung lainnya tanpa harus ikut menambah panjang barisan kendaraan di lampu merah. Saya ingin transportasi publik yang terhubung, mudah diakses, dan cukup nyaman sehingga warga nggak merasa sedang dihukum ketika memilih meninggalkan kendaraannya di rumah.

Sebab kalau semua orang terus dipaksa mengandalkan kendaraan pribadi, Bandung akan semakin sesak. Dan pada titik tertentu, bahkan motor yang selama ini dianggap solusi akan ikut menjadi bagian dari masalah yang nggak lagi bisa ditampung oleh jalan-jalan kota ini.

Penulis: Naufal Dlorif Efendi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Hal yang Bikin Kota Bandung Macet

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Juni 2026 oleh

Tags: Bandungbandung macetjalan di Bandung
Naufal Dlorif Efendi

Naufal Dlorif Efendi

Mahasiswa aktif Universitas Pendidikan Indonesia yang menaruh perhatian pada isu sosial kemasyarakatan, dan senang pada kegiatan traveling.

ArtikelTerkait

Panduan Penggunaan Kata "Aing" dalam Bahasa Sunda untuk Orang Luar Bandung terminal mojok.co

Liburan ke Bandung Nggak Melulu Soal Terowongan

2 Desember 2020
Alasan Orang Bandung Menghindari Plesir ke Lembang Mojok.co

Alasan Orang Bandung Menghindari Plesir ke Lembang 

8 November 2024
4 Alasan Kota Pelajar Lebih Romantis ketimbang Kota Kelahiran

4 Alasan Kota Pelajar Lebih Romantis ketimbang Kota Kelahiran

12 Juli 2022
Jatinangor Lebih Perlu 3 Hal Ini ketimbang Jans Park dan McD Terminal Mojok

Jatinangor Lebih Perlu 3 Hal Ini ketimbang Jans Park dan McD

20 November 2022
5 Rekomendasi Tempat Sarapan di Kota Bandung Sebelum Beraktivitas Terminal Mojok

5 Rekomendasi Tempat Sarapan di Kota Bandung yang Bisa Jadi Pilihan Sebelum Beraktivitas

6 Februari 2022
Apa Itu Ikea Date? Masyarakat Jawa Barat, sih, Ngertinya Borma Date! terminal mojok.co

Apa Itu Ikea Date? Masyarakat Jawa Barat, sih, Ngertinya Borma Date!

23 Maret 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosa Indomie Ayam Bawang: Nggak Ada Bawang Goreng sebagai Pelengkap

Orang yang Bilang Indomie Warkop Lebih Enak Itu Aneh, Beneran

22 Juni 2026
Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Hidup di Desa Itu Murah, yang Mahal Adalah Ongkos Sosialnya, dan Ini Rinciannya

21 Juni 2026
4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul daripada Stasiun Solo Balapan di Mata Saya Mojok.co

4 Alasan yang Membuat Stasiun Purwosari Lebih Unggul Dibanding Stasiun Solo Balapan di Mata Saya

22 Juni 2026
Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi itu hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

Saat ini, Rumah dan Tanah yang Dianggap sebagai Aset Bernilai Investasi Itu Hanya Benda Mahal yang Susah Dijual

24 Juni 2026
Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja Mojok.co

Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja

25 Juni 2026
Soto Bukan Makanan Rakyat, Harganya Mahal karena Sate-satean dan Gorengan Mojok.co

Soto Bukan Makanan Rakyat, Harganya Mahal karena Sate-satean dan Gorengan

23 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.