Menjadi mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Saizu bukanlah keputusan yang saya sesali sepenuhnya. Kalau disuruh mengulang waktu, mungkin saya tetap akan memilih kampus yang sama. Hanya saja, setelah beberapa semester menjalaninya, saya menyadari ada beberapa hal yang tidak pernah diceritakan dalam brosur kampus maupun cerita manis para senior.
Hal pertama yang cukup membuat saya mengernyitkan dahi adalah soal biaya UKT. Dengan nominal sekitar Rp4,6 juta per semester, saya sempat membayangkan fasilitas yang benar-benar memanjakan mahasiswa. Sayangnya, kenyataan tidak selalu seindah ekspektasi. Apalagi Purwokerto bukan kota dengan standar upah yang tinggi.
Bagi sebagian mahasiswa yang berasal dari keluarga biasa, angka tersebut jelas tidak kecil. Kadang saya bertanya-tanya, apakah biaya yang dikeluarkan benar-benar sebanding dengan fasilitas yang didapat?
Itu baru satu, sebenarnya, ada beberapa hal yang bikin saya agak gimana gitu kuliah di PAI UIN Saizu.
Ketika diskusi kelas berubah menjadi adu prompt AI
Hal lain yang membuat saya cukup prihatin adalah suasana belajar yang terasa stagnan. Diskusi kelas yang seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran justru sering berubah menjadi sesi membaca hasil olahan AI. Saya tidak anti teknologi. Saya sendiri memanfaatkannya.
Namun, ketika mahasiswa lebih rajin mencari prompt daripada membaca referensi dan berpikir mandiri, rasanya ada sesuatu yang hilang dari dunia akademik. Diskusi yang seharusnya hidup malah terasa seperti lomba siapa yang paling pandai mengemas hasil salinan.
Tidak semua orang kuliah di PAI UIN Saizu karena ingin belajar
Saya juga menyadari bahwa tidak semua orang masuk kuliah karena benar-benar ingin belajar. Ada yang kuliah karena takut dianggap gagal jika tidak menyandang status mahasiswa, ada yang sekadar mengikuti teman, dan ada pula yang menjalaninya demi memenuhi harapan orang tua. Di PAI UIN Saizu pun tak luput dari masalah ini.
Akibatnya, sebagian mahasiswa hanya menjadikan kuliah sebagai formalitas. Datang ke kelas, mengisi presensi, lalu pulang tanpa benar-benar peduli dengan materi yang dipelajari. Seolah-olah gelar lebih penting daripada proses menjadi manusia yang berilmu.
BACA JUGA: Menjadi Alumni UIN Itu Juga Beban, Terutama Jika Hidup di Desa
Nama kampus yang religius ternyata tidak menjamin segalanya
Hal yang juga membuat saya tersadar adalah bahwa label “kampus Islam” tidak otomatis menjamin seluruh penghuninya akan menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan orang lain. Nama besar dan identitas religius memang penting, tetapi pada akhirnya kampus tetap dihuni oleh manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan berbagai persoalan moral.
Saya belajar bahwa religiusitas tidak cukup hanya terpampang dalam nama institusi, tetapi juga perlu diwujudkan dalam budaya akademik dan perilaku sehari-hari.
Tugas segudang dan mimpi publikasi yang terlalu dini di PAI UIN Saizu
Kekecewaan lainnya datang dari sistem pemberian tugas yang saya alami selama kuliah di PAI UIN Saizu. Saya pernah melihat mahasiswa semester awal dibebani target yang menurut saya terlalu tinggi. Ada dosen yang menuntut mahasiswa mampu menerbitkan artikel di jurnal Sinta 4 demi mendapatkan nilai maksimal, padahal banyak mahasiswa yang bahkan masih belajar memahami cara menulis artikel ilmiah yang baik. Ambisi akademik memang penting, tetapi rasanya kurang bijak jika tuntutan besar tidak dibarengi dengan arahan dan pendampingan yang memadai.
Beban tugas yang menumpuk akhirnya melahirkan fenomena yang sebenarnya cukup menyedihkan: praktik joki tugas. Sebagian melakukannya karena malas, sebagian lagi karena merasa kewalahan. Pendidikan yang seharusnya menjadi tempat melatih kemampuan berpikir justru terkadang berubah menjadi perlombaan menyelesaikan tugas secepat mungkin, apa pun caranya.
Saya tidak ingin pindah kampus, hanya ingin kampus ini lebih baik
Meski demikian, saya tidak sampai ingin pindah kampus. Hanya karena PAI UIN Saizu tidak sesuai dengan apa yang di pikiran saya, tak langsung saya pengin pergi. Sebab saya sadar, berbagai persoalan ini mungkin juga ditemukan di banyak perguruan tinggi lain. Saya hanya berharap Prodi PAI UIN Saizu dapat terus berbenah. Sebab mahasiswa tidak hanya membutuhkan ijazah, melainkan juga lingkungan yang sehat untuk bertumbuh, ruang diskusi yang hidup, serta pendidikan yang benar-benar mendidik, bukan sekadar menumpuk tugas dan mengejar formalitas.
Barangkali saya tidak benar-benar menyesal masuk PAI UIN Saizu. Saya hanya sedikit kecewa karena ternyata dunia perkuliahan tidak seideal yang saya bayangkan ketika pertama kali mengenakan jaket almamater.
Penulis: Arif Nur Akwan
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













