Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Sebagai Orang Jawa, Saya Merasa Miskin saat Tahu Orang Sumatra Tak Bisa Makan tanpa Lauk Ikan

Muhammad Ubaidillah Hanan oleh Muhammad Ubaidillah Hanan
13 Juni 2026
A A
Soal Budaya Makan, Jawa Miskin Mengenaskan di Depan Sumatra (Unsplash)

Soal Budaya Makan, Jawa Miskin Mengenaskan di Depan Sumatra (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Selama hidup sebagai orang Jawa, saya kira konsep lauk di semua daerah itu sama. Tapi ternyata saya keliru. Apa yang dianggap cukup oleh orang Jawa belum tentu dianggap lengkap oleh orang Sumatra.

Orang Jawa ternyata memiliki konsep makan yang sederhana. Selama ada nasi hangat dan satu lauk, makan sudah dianggap cukup. Lauk makannya juga tidak muluk-muluk. Tidak harus berupa ayam. Tempe dan tahu pun sudah cukup.

ADVERTISEMENT

Bahkan dalam kondisi kepepet, mereka masih bisa damai lauk kerupuk. Atau hanya nasi dengan sambal saja. Menu makan demikian, sebetulnya sudah nikmat. Khususnya ketika kondisi perut keroncongan.

Tapi ternyata, konsep makan semacam itu hanya berlaku di Jawa. Di luar, khususnya di Sumatra, standar makan lengkap jauh berbeda.

BACA JUGA: Alasan Kenapa Masakan Khas dari Luar Jawa Banyak Berbahan Daging tapi Masakan Jawa Nggak

Perbedaan makan orang Jawa vs orang Sumatra

Beberapa waktu lalu lewat sebuah konten menarik di beranda saya. Konten itu membandingkan kebiasaan makan orang Jawa dengan orang Sumatra. Yang mempunyai konsep yang mencolok.

Jadi, ada sebuah konten yang menceritakan dua orang datang ke warteg. Orang pertama memesan nasi dengan lauk telur dadar. Sedangkan orang kedua pesan nasi dengan lauk ayam, ikan, tempe orek, dan sambal. Tidak cukup hanya itu, orang tersebut meminta tambahan kuah sampai banjir.

Karena heran dan penasaran, orang pertama lantas bertanya sambil menyindir. “Buset, abis ngebon lu? Banyak banget lauknya.”

Baca Juga:

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

7 kata dalam bahasa Jawa yang terdengar aneh, bahkan oleh penutur aslinya

“Ya kalau makan beginilah, pasti banyak lauknya. Kalau lauknya satu itu bukan makan namanya”, jawab orang kedua yang merupakan orang Sumatra.

Jelas, di antara kedua orang tersebut ada budaya yang berbeda ketika makan. Orang Sumatra terlihat sudah terbiasa makan dengan banyak lauk. Tempe dan tahu tidak masuk hitungan.

Makannya, jika Anda makan pakai tempe dengan orang Sumatra mereka akan bertanya. “Ikannya mana?”

Sedangkan orang Jawa, tetap pada budayanya. Kesederhanaan. Makan tidak perlu muluk-muluk. Pakai tempe sudah cukup. Syukur-syukur kalau ada ayamnya. Mereka malah bingung kalau kebanyakan lauk.

ADVERTISEMENT

Merasa miskin melihat orang Sumatra makan dengan lauk banyak

Dalam komentar di konten tersebut, banyak orang Jawa yang menceritakan culture shock-nya saat melihat orang Sumatra makan. Begitu juga sebaliknya. Orang Sumatra juga kaget karena di Jawa lauk pakai tahu saja cukup.

Saat melihat orang Samatra makan di warteg, saya merasa seperti orang kurang mampu. Bayangkan saja, mereka makan dengan beraneka macam lauk. Sedangkan saya hanya makan dengan telur. Kadang-kadang cuma pake gorengan.

Mungkin mereka kalau lihat saya makan akan merasa kasihan. Padahal sejak kecil saya terbiasa dengan lauk sederhana. Maka dari itu saya tidak menganggap lauk tempe sebagai simbol prihatin.

BACA JUGA: 4 Kebiasaan Makan Pempek yang Perlu Diubah agar Nikmatnya Paripurna Sehingga Kamu Nggak Menyesal Kemudian

Orang Jawa sampai bosan makan ikan ketika mengunjungi Sumatra

Saya pernah ikut pelatihan di Sumatra selama sebulan. Tepatnya di Kota Palembang. Dan selama di sana, saya jadi mengerti bahwa mereka memiliki konsep lauk yang lebih lengkap.

Saat pelatihan, saya selalu mendapat suguhan lauk lebih dari satu. Kalau tidak ikan, ayam, atau sapi. Sangat jarang tempe dan tahu. Jangankan tempe, telur saja jarang. Makanya saya merasa banyak gizi hanya saat berada di Palembang.

Tapi jujur, sebagai orang Jawa, keseringan makan lauk hewani tidak lantas membuat saya bahagia. Saya justru bosan. Sesekali saya merindukan makan nasi dengan tempe. Dari situ saya sadar, bahwa selera makan ternyata tidak dibentuk oleh jenis lauk. Melainkan kebiasaan.

Penulis: Muhammad Ubaidillah Hanan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 5 Kebiasaan Makan Orang Jawa yang Berubah ketika Tinggal di Sulawesi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2026 oleh

Tags: budaya makanJawalauk ikanorang jawaOrang SumatraSumatratahutempe
Muhammad Ubaidillah Hanan

Muhammad Ubaidillah Hanan

Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penggiat studi keislaman. Hobi jalan-jalan dan wisata kuliner. Menulis hanya di kala senggang.

ArtikelTerkait

3 Sisi Gelap Jembatan Suramadu yang Bikin Wisatawan Enggan Balik Lagi ke Madura

3 Sisi Gelap Jembatan Suramadu yang Bikin Wisatawan Enggan Balik Lagi ke Madura

21 Januari 2026
siklus hidup

Memahami Makna dari Likuran, Selawe, Seket, dan Sewidak yang Berhubungan dengan Siklus Hidup

29 April 2020
Bahasa Jawa yang Kaya, "Minum" Bisa Diterjemahkan Jadi 8 Kata Berbeda Mojok.co

Bahasa Jawa yang Kaya, “Minum” Bisa Diterjemahkan Jadi 8 Kata Berbeda

6 Juli 2024
4 Stereotip Orang Jawa Ketika Merantau ke Luar Pulau MOJOK.CO

4 Stereotip Orang Jawa Ketika Merantau ke Luar Pulau

20 Juli 2020
Mengenal Simbolisasi Waktu yang Digunakan Masyarakat Jawa Tempo Dulu

Mengenal Simbolisasi Waktu yang Digunakan Masyarakat Jawa Tempo Dulu

24 April 2020
mitos jawa anak sesajen mojok

Saya Nggak Akan Pernah Percaya Mitos Jawa, Karena Nggak Ada yang Masuk Akal

10 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang Mojok.co

Membayangkan tiap kantor punya fasilitas daycare, hati orang tua pekerja pasti lebih tenang

9 Agustus 2026
Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh boso jonegoroan

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

11 Agustus 2026
Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

Saya masuk desil 10, saya dianggap elite oleh negara, padahal hidup saya benar-benar mengenaskan

13 Agustus 2026
Kawasan Surabaya Utara: Dijuluki Mexico-nya Surabaya dan Identik dengan Hal Negatif

Jangan ke Surabaya Utara saat siang hari, jalannya bikin emosi, panasnya nggak masuk akal!

10 Agustus 2026
Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

Dibanding sound horeg, voli tarkam jauh lebih masuk akal buat event Agustusan  

12 Agustus 2026
Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan Terminal

Bulan Agustus kebanyakan agenda, pekerja jadi kewalahan bagi waktu antara kerja dan kegiatan agustusan

15 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.