Situasi Liverpool belakangan, bagi saya, terlihat miris sekali. Bahkan ada yang sampai menyebut The Reds sebagai bad champion. Saking anjloknya performa di bawah Arne Slot musim 2025/2026. Padahal, musim sebelumnya, menyandang status juara.
Mulai dari nggak dapat piala sama sekali, nggak bisa meredam konflik di ruang ganti, dan public speaking yang buruk. Betul-betul lengkap koleksi kegagalan Arne Slot.
Jatuh-bangun Liverpool beberapa tahun terakhir, khususnya sepeninggal Jurgen Klopp, saya pikir, sebelas-dua belas dengan alur cerita pada serial “Mobile Suit Gundam: Iron Blooded Orphans.”
Sama-sama mengawali sebagai kelompok yang diragukan sampai akhirnya disegani (doubter to believer), perjuangan tim yang solid dan kompak, menghadapi kenyataan pahit tim member satu per satu menghilang, sampai akhir yang tragis. Meski hasil dari perjuangan selama ini, pada akhirnya membuahkan hasil bagi generasi berikutnya.
Liverpool dan Tekkadan, serupa meski tak sama
Tekkadan, sekelompok bocah dari planet Mars, harus melalui jalan yang berliku sampai dengan kehilangan banyak membernya yang gugur dalam pertempuran saat memperjuangkan kemerdekaan kelompok, hak untuk hidup layak, dan kemenangan atas penindasan.
Tekkadan melakukan beberapa cara untuk memperbesar peluang meraih kemenangan. Mulai dari bernegosiasi dengan elite dan memperluas peta kekuasaan, memberontak, sampai upgrade mobile suit andalan mereka, Barbatos.
Tapi, hasilnya masih nihil. Malah, semakin berani konfrontasi yang dilakukan, konsekuensi lebih besar harus dihadapi: semakin banyak rekan satu tim yang berguguran.
Kita memang nggak perlu menyamakan perjuangan Liverpool yang bangkit dari keterpurukan dengan Tekkadan. Nggak sampai berdarah, tapi, siapa yang memungkiri The Reds sempat menjadi tim pesakitan? Baik di liga lokal maupun eropa.
Punya sejarah yang apik di masa lalu, tapi, sempat terpincang-pincang sampai merangkak pada era kepemilikan David Moores sampai dengan Tom Hicks dan George Gillett. Minim prestasi dan banyak utang. Itu gambaran Liverpool pada periode 1991-2010.
Sangat jomplang jika kita membandingkannya dengan era kepemilikan Sir John Wilson Smith. Timpang, kata yang tepat untuk menggambarkan dua kondisi berbeda tersebut. Meski, sulit kita memungkirinya, Miracle of Istanbul pada 2005, menjadi pembeda.
Jangan salah, Tekkadan dan suporter Liverpool juga punya kemiripan dalam hal protes atau pemberontakan. Tekkadan protes terhadap Gjallarhorn yang korup. Sedangkan suporter Liverpool, pada 2008, membentuk Spirit of Shankly (SOS) untuk menentang kepemilikan Tom Hicks dan George Gillett.
Pemimpin karismatik dan dicintai
Jika Tekkadan punya Orga Itsuka, dengan segala hormat dan tanpa melupakan jasa pelatih terdahulu seperti Bill Shankly dan Bob Paisley, di era sepak bola modern, Liverpool punya Jurgen Klopp. Sosok yang membawa tim ini kembali berjaya sekaligus disegani.
Sebagai seorang pemimpin, Orga Itsuka dan Jurgen Klopp sama-sama punya karisma yang apik. Keduanya dicintai oleh kelompok, percaya kepada masing-masing kemampuan individu kelompoknya, dan percaya setiap member punya kontribusi, tanpa terkecuali.
Bahkan, sama-sama punya optimisme dan keyakinan tinggi dalam memenangkan pertempuran. Sama-sama punya visi from doubter to believer, meski beda dalam cara mengungkapkan.
Sialnya, mereka berdua juga punya kesialan nasib serupa. Sebaik-baiknya perjuangan dalam suatu pertempuran, kemenangan tidak selalu mengiringi. Orga Itsuka, Mikazuki Augus, bersama Tekkadan, entah berapa kali harus kalah, tidak berhasil melobi untuk perdamaian, bahkan sampai kehilangan banyak kawan.
Jurgen Klopp? Selama menangani Liverpool, total sudah kalah enam kali di final berbagai kompetisi. Mulai dari Piala Liga, Community Shield, Liga Eropa, hingga Liga Champions. Belum termasuk menempati posisi kedua saat bersaing di liga domestik. Meski pada akhirnya, mendapat beberapa gelar juara, proses yang dilalui Jurgen Klopp bersama tim, tidak selalu berbuah manis.
Namun, di situasi serupa, baik Orga Itsuka dan Jurgen Klopp, tetap bisa memberi rasa yakin kepada tim.
Saya perlu menambahkan garis bawah di sini. Meski punya banyak kesamaan, tapi, nasib akhir mereka berdua berbeda. Orga Itsuka mati ditembak oleh pembunuh bayaran ketika melindungi kawannya. Sedangkan Jurgen Klopp, out of energy. Keduanya tetap dikenang dengan caranya masing-masing.
BACA JUGA: Liverpool Menjadi Manusia Unggul Bersama Jurgen Klopp: Mereka, Berkali-kali Harus Menelan Kekecewaan
Perjuangan (belum) berakhir bagi Tekkadan dan Liverpool
Pada akhir cerita, tujuan Tekkadan dalam memerdekakan koloni Mars (agar tidak dikatakan manusia sampah) terwujud. Kehidupan koloni Mars normal tanpa perbudakan, meski kalah telak oleh Gjallarhorn.
Banyak anggota kelompok gugur, termasuk Orga Itsuka dan Mikazuki Augus. Selebihnya, anggota Tekkadan tersisa melanjutkan hidup dengan layak dan sebaik-baiknya.
Selepas kepergian Jurgen Klopp, Liverpool melanjutkan perjuangan bersama Arne Slot. Bahkan Klopp memperkenalkan namanya secara langsung saat acara perpisahannya di Anfield, sambil nge-chant, “Arne Slot, la la la la la… Arne Slot, la la la la la…”
Ya, walaupun kebaikan tersebut dibalas oleh Slot dengan jokes, “Jika bermain di jam 12.30 siang adalah hal yang sulit, maka saya adalah manajer yang bodoh karena saya selalu berlatih di tengah hari setiap harinya!” Padahal, sebagian dari kita tahu, Jurgen Klopp menentang dan menyuarakan ketidaksetujuan tentang jadwal tersebut.
Di tahun pertama memimpin, Arne Slot memang berhasil memberikan gelar juara liga bagi Liverpool. Sampai akhirnya di tahun kedua masa kepelatihannya, soal ketidakjelasan taktik, komentar tentang tim, sampai public speaking di depan media yang amburadul terkait pemainnya sendiri. Dalam hal ini saling berbalas pernyataan dengan Mo Salah.
Terlalu oversharing, Slot. Bayangkan, saking tidak sukanya dengan Arne Slot, berakhirnya kerja sama antara Liverpool dengan Arne Slot, sudah seperti menjuarai sebuah turnamen bagi sebagian fans Liverpool.
Tentu saja, bukan momen yang mudah bagi Liverpool. Tapi, sama seperti Tekkadan, pada akhirnya, The Reds akan menemukan juru selamatnya, seperti yang sudah-sudah.
Penulis: Seto Wicaksono
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Surat Terbuka untuk Seluruh Pendukung Liverpool: Apa pun Hasilnya, Tetaplah Jatuh Cinta
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













