Belakangan ramai soal pelibatan TNI dalam sesi pembekalan untuk awardee LPDP yang bersiap kuliah. Biasanya, segala hal yang menyangkut pembekalan dimasukan ke dalam agenda yang disebut dengan Persiapan Keberangkatan (PK).
“Lagi-lagi TNI” mungkin itu yang terlintas di benak masyarakat. Dalih pemerintah, pembekalan perlu agar awardee tidak mengalami culture shock saat kuliah. Terlebih, mereka studi di luar negeri. Mereka bisa punya nilai kebangsaan dalam diri yang dipegang teguh hingga selesai kuliah. Punya mental resilience, dan tidak terjebak dengan sindrom inferiority complex (minderan).
Akan tetapi, menurut saya pribadi yang juga seorang awardee LPDP, alasan supaya disiplin dan nggak culture shock itu terlalu generik. Sebab, sebagian besar dari kami lebih banyak menghadapi guncangan akademik, tekanan sosial, finansial, mental, dan profesionalitas. Jadi kalau pembekalannya bertumpu pada fisik dan karakter saja, maka akar masalahnya tidak terselesaikan.
Ibaratnya, yang dibutuhkan itu suplemen protein dan vitamin, ini malah yang dikasih paracetamol. Kurang tepat sasaran. Maka dari itu, alih-alih pembekalan ala-ala militer dari TNI, pelatihan berikut ini menurut saya lebih penting.
#1 Awardee LPDP masih perlu academic writing dan research integrity
Para awardee setelah PK, akan masuk dan menghadapi lingkungan akademik yang menuntut kemampuan menulis. Mungkin banyak dari awardee sudah mahir dan khatam soal tulis-menulis, tapi tulisan dalam dunia akademik gak hanya sekadar penulisan deskriptif, tapi juga argumentatif, kritis, dan tervalidasi dari sisi sumber.
Maka dari itu, awardee LPDP perlu dibekali keterampilan membuat literature review, membangun research gap, menyusun narasi kritik, membuat policy paper, dan memahami struktur penulis artikel jurnal ilmiah.
Selain itu, mereka juga perlu memahami etika akademik, sebut saja soal cara mengutip, paraphrase, penggunaan Zotero atau Mendeley, hingga kaidah penggunaan AI yang diperbolehkan secara etis. Mereka juga penting untuk memahami cara mengoperasikan perangkat riset seperti R, Python, Stata, NVivo, EViews, LaTeX, atau software systematic review, dan perangkat lainnya yang sering digunakan di kampus.
Mungkin terdengar teknis, tapi ini lebih berdampak langsung terhadap keberhasilan studi dibandingkan sekadar pelatihan fisik dan mental.
#2 Pembekalan komunikasi akademik juga penting
Saya rasa, keterampilan dalam komunikasi akademik sangat penting untuk menunjang seorang awardee. Kita terbiasa dengan budaya kelas yang terkesan hierarkis, jarang ada saling debat dan menyanggah. Itu berefek pada kemampuan komunikasi akademik yang tidak terasah.
Masalahnya, banyak kampus di luar negeri, menuntut mahasiswanya untuk aktif berbicara, bertanya, menyanggah dan mengkritik sebuah teori, konsep, bahkan fakta empiris di kelas. Maka dari itu, penting sekali latihan soal komunikasi akademik ini. Mulai dari hal yang paling sederhana, seperti cara mengirimkan pesan atau email ke dosen, meminta masukan, menyampaikan ketidaksetujuan dengan sopan, hingga proses berdiskusi dalam kelas atau seminar. Semua itu membuat awardee jadi lebih mudah adaptif di lingkungan akademik.
#3 Cross-cultural Classroom Survival
Memahami soal budaya negara tujuan itu sangat penting. Nggak hanya soal kehidupan sosialnya saja, tapi budaya akademik di kampus tempat awardee belajar. Awardee perlu paham soal norma akademik dan sosial secara praktis, mulai dari bagaimana sistem kerja kelompok dilakukan, sejauh mana batas privasi perlu dihargai, bagaimana menghadapi diskriminasi halus, dan seperti apa komunikasi yang efektif dan sopan di lingkungan akademik dan sosial.
Baca juga 6 Beasiswa yang Sebaiknya Dihindari Mahasiswa karena Berpotensi Menjebak.
#4 Awardee LPDP perlu juga melek soal mental health, loneliness, dan impostor syndrome
Ada satu fakta menarik soal awardee LPDP, baik di luar negeri maupun dalam negeri. Banyak awardee tumbang, stress, sakit, dan lain-lain bukan karena mereka nggak pintar. Namun, mereka mengalami kesepian, tekanan akademik, kangen orang tua, bersitegang dengan supervisor, hingga cuaca yang berat. Salah satu yang paling ngena adalah inferiority complex sehingga mereka merasa nggak pantas berada di lingkungan tersebut.
Mereka akhirnya perlu diberi pembekalan setidaknya soal bagaimana cara sederhana untuk mencari bantuan dan mengakses layanan konseling. Kesadaran untuk membangun support system dan kemampuan mengakali stress ketika dihadapkan pada kegagalan akademik juga diperlukan. Mereka butuh semua itu agar tetap bertahan.
#5 Persiapan setelah kampus
Setidaknya para awardee LPDP diberikan pembekalan soal persiapan setelah kampus dengan membaginya ke dalam beberapa cluster, misalnya cluster sebagai pendidik (dosen atau guru), cluster sebagai peneliti (entah itu di kampus atau industri), cluster sebagai profesional atau praktisi di industri, atau bahkan cluster sebagai pebisnis.
Semua itu perlu dipetakan dijadikan sebagai pembekalan sehingga awardee yang sudah punya goals makin punya gambaran soal apa saja yang perlu disiapkan dan dihadapi berdasarkan cluster-cluster karir pasca di kampus.
#6 Literasi finansial: tampak sepele, tapi penting bagi LPDP
Literasi keuangan adalah keterampilan sepele tapi sangat penting untuk diketahui. Sebab, mahasiswa yang cerdas secara akademik tidak lantas bebas dari ribetnya mengelola keuangan dengan biaya hidup tinggi. Awardee perlu banget dapat pembekalan soal menyusun anggaran, memahami soal bagaimana mekanisme bayar fasilitas di luar negeri, biaya transportasi, biaya tak terduga dan lain-lain.
Jangan salah, banyak awardee stress sendiri karena memang dana biaya hidup yang diterima tetap kurang karena kebutuhan riset dan publikasi yang menelan banyak biaya.
Selain 6 keterampilan di atas, ada keterampilan hariang seperti memasak, membaca label makanan, mencari makanan halal, memahami rute transportasi public, dan hal kecil lain yang bisa menjadi sumber stress.
Pada intinya gini, kalau negara ingin awardee LPDP lebih siap dan tahan banting, maka pembekalannya jangan berkutat soal disiplin ala-ala militer lah. Itu penting kok, tapi kebutuhan paling utama adalah kompetensi untuk adaptif.
Apa saja kompetensi itu, ya setidaknya 6 yang saya sebutkan di atas. Setidaknya pelatihan seperti itu lebih relate dengan problem nyata awardee daripada hanya membuat awardee jadi kayak robot yang kuat secara fisik atau patuh secara seremoni.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 Syarat “Terselubung” Beasiswa LPDP yang Jarang Orang-orang Bahas
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















