Ada satu jenis manusia baru yang beberapa tahun terakhir berkembang biak cukup pesat di Jogja dan sialnya di Gamping. Mereka biasanya datang dari kota besar, bekerja remote, minum kopi manual brew, upload story sunrise di sekitar Jalan Godean, lalu menulis caption, “Akhirnya menemukan hidup yang lebih pelan.”
Lucunya, hidup yang lebih pelan itu seringkali justru membuat Gamping makin tidak pelan bagi warga lokal. Saya tidak sedang anti pendatang. Wong saya juga sadar Gamping memang daerah yang terbuka. Dari dulu hidupnya ya memang dari orang datang dan pergi. Mahasiswa datang, wisatawan datang, orang patah hati datang, bahkan orang yang habis kena PHK pun sering larinya ke Gamping sambil bilang, “Aku ingin hidup tenang dulu.”
Masalahnya, sekarang Gamping bukan cuma didatangi orang yang ingin hidup tenang. Gamping didatangi orang yang ingin membeli ketenangan. Dan, ketika ketenangan sudah mulai diperjualbelikan, biasanya yang kalah duluan adalah warga lokal.
Coba lihat bagaimana Gamping hari ini berubah. Tempat-tempat yang dulu biasa saja mendadak jadi “hidden gem”. Sawah yang dulu cuma sawah, sekarang berubah jadi coffee shop industrial dengan lampu kuning temaram dan harga croissant yang bisa buat makan pecel lele tiga kali. Orang-orang datang ke Gamping untuk mencari suasana sederhana, lalu tanpa sadar membawa gaya hidup yang membuat kesederhanaan itu jadi mahal.
Baca juga Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang.
Gamping dan Jogja sama buruknya untuk jadi tempat slow living
Saya kadang geli sendiri melihat konten-konten slow living Jogja. Isinya bangun pagi, jurnaling, beli kopi Rp38 ribu, sore yoga, malam nonton gigs kecil di daerah Bantul. Semua terlihat damai, estetik, dan seperti hidup tanpa cicilan.
Padahal di waktu yang sama, warga lokal sedang mumet memikirkan kontrakan yang naik, jalan kampung yang mulai ramai, dan warung langganan yang sekarang lebih banyak dipakai foto-foto daripada makan.
Gamping hari ini makin cantik untuk dikunjungi, tapi mulai melelahkan untuk ditinggali. Dulu orang datang ke Gamping karena pasar buahnya murah. Sekarang orang datang ke Gamping karena nyaman. Besok-besok, jangan kaget kalau orang tidak lagi datang karena dua-duanya sudah hilang.
Yang paling terasa sebenarnya bukan cuma harga. Tapi, perubahan temperamen kota. Dulu Gamping punya ritme yang santai bukan karena branding, tapi karena memang hidupnya begitu. Orang nongkrong di angkringan bukan untuk healing, tapi karena memang lapar dan belum gajian. Orang duduk di pinggir jalan bukan karena aesthetic ambience, tapi karena rumahnya panas.
Sekarang semuanya berubah jadi pengalaman konsumsi. Angkringan harus estetik. Kopi harus punya storytelling. Sawah harus punya spot foto. Bahkan, kesunyian pun sekarang punya harga paket reservasi.
Saya pernah masuk sebuah coffee shop di daerah Gamping yang dulu area situ ya cuma jalan desa biasa. Sekarang penuh mobil luar kota. Di meja sebelah saya ada orang bilang, “Di sini tuh enak ya, hidupnya nggak buru-buru.” Saya hampir tertawa. Mungkin memang tidak buru-buru kalau penghasilanmu hasil transfer kantor Jakarta. Tapi, coba bilang begitu ke pegawai toko yang pulang malam naik motor sambil mikir bensin besok cukup apa tidak.
Slow living bukan identitas Gamping
Ada ironi besar yang menurut saya mulai jarang disadari, orang-orang datang ke Jogja atau Gamping untuk kabur dari kota yang melelahkan. Lalu, ramai-ramai membawa standar hidup kota melelahkan itu ke Jogja.
Akibatnya, warga lokal mulai kalah napas di rumahnya sendiri. Harga tanah naik bukan karena petani mendadak kaya, tapi karena orang luar melihat Gamping sebagai investasi ketenangan. Kos eksklusif tumbuh di mana-mana. Coffee shop menjamur lebih cepat daripada tambal ban. Tempat nongkrong makin banyak, tapi ruang publik gratis makin sedikit. Kalau mau duduk nyaman sekarang harus beli kopi dulu.
Gamping perlahan berubah jadi kecamatan yang ramah untuk orang singgah, tapi makin keras untuk orang bertahan hidup. Dan, yang paling menyedihkan, semua ini sering dibungkus dengan narasi positif “ekonomi kreatif”, “pengembangan wisata”, “kemajuan daerah”, “kota modern”. Padahal ada banyak warga yang diam-diam mulai merasa asing dengan kecamatannya sendiri.
Saya kadang merasa Gamping sekarang sedang mengalami krisis identitas. Di satu sisi masih ingin terlihat sederhana dan membumi. Di sisi lain terlalu sibuk menjadi destinasi lifestyle. Makanya sekarang kita punya fenomena absurd, orang kaya bermain jadi sederhana di daerah yang semakin menyulitkan orang sederhana sungguhan.
Slow living akhirnya berubah jadi privilese
Sekarang, slow living di Gamping itu privilese. Karena untuk bisa hidup pelan, orang tetap butuh uang yang tidak pelan. Dan, mungkin itu yang mulai membuat sebagian warga Gamping lelah. Bukan karena daerahnya berkembang, tapi karena perkembangan itu makin terasa tidak dibuat untuk mereka.
Saya tidak bilang Gamping harus menolak perubahan. Suatu daerah memang akan terus berubah. Tapi, mungkin kita perlu mulai bertanya perubahan ini sebenarnya sedang membuat hidup siapa lebih nyaman? Karena kalau kenyamanan Gamping akhirnya cuma bisa dinikmati orang yang datang dengan modal besar, sementara warga lokal cuma kebagian macet, harga naik, dan ruang hidup yang makin sempit, mungkin Jogja memang belum sepenuhnya kehilangan keistimewaannya. Ia hanya sedang kehilangan pemilik suasananya.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sisi Gelap Gamping Sleman yang Jarang Dibicarakan Orang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















