Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Kesehatan

Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

Riko Prihandoyo oleh Riko Prihandoyo
6 Mei 2026
A A
Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita (Wellcome Gallery Collection via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Tes Ishihara tidak ada ubahnya membunuh mimpi manusia dengan cara yang paling konyol

Selama ini saya kira buta warna itu cuma soal tidak bisa membedakan merah dan hijau. Hal yang terasa sepele, bahkan sering tidak disadari dalam kehidupan sehari-hari. Sampai akhirnya saya melihat sendiri bagaimana satu kondisi itu cukup untuk menutup satu pilihan. Adik saya gagal masuk jurusan kelistrikan karena dinyatakan mengalami buta warna parsial. Cerita ini sebenarnya sederhana, bahkan terlalu sering terjadi untuk dianggap luar biasa. Tapi justru dari situ, ada satu hal yang terasa janggal: keputusan sebesar itu ditentukan oleh sesuatu yang sangat kecil.

Semua drama ini bermuara pada satu musuh besar: Tes Ishihara. Tes yang isinya kumpulan titik warna yang menyembunyikan angka. Kalau mata kamu bisa menangkap angka di balik titik-titik itu, kamu dianggap “layak” jadi manusia produktif. Kalau tidak? Ya sudah, game over. Di situlah semuanya ditentukan—lulus atau tidak, layak atau tidak, boleh atau tidak. Padahal, bagi kami yang spektrum matanya sedikit berbeda, tes ini bukan sekadar tes kesehatan, tapi algojo yang siap memenggal cita-cita dalam hitungan detik.

Pertanyaannya sederhana: apa hubungannya kemampuan seseorang dengan profesi yang dia pilih, dengan kemampuannya membaca angka samar di antara titik-titik warna?

Apa relevansinya?

Kalau ini soal pekerjaan yang benar-benar bergantung pada warna secara presisi, argumennya masih bisa diterima. Tapi apakah semua yang masuk jurusan tersebut akan berakhir di posisi itu? Apakah seluruh proses belajar di sana sepenuhnya bergantung pada kemampuan melihat warna dalam format seperti itu? Atau jangan-jangan, kita hanya sedang memakai satu alat ukur yang sama untuk semua orang, tanpa benar-benar peduli apakah alat itu relevan atau tidak?

Masalahnya bukan pada tesnya, tapi pada cara sistem kita memperlakukannya. Tes seperti Ishihara awalnya dibuat untuk mendeteksi kondisi penglihatan, bukan untuk menjadi penentu mutlak masa depan seseorang. Tapi dalam praktiknya, tes ini sering dipakai seperti gerbang mutlak: sekali gagal, selesai. Seakan tidak ada ruang untuk penerimaan lagi.

Bayangkan, adik saya yang mungkin sudah khatam soal arus AC/DC dan paham skema rangkaian listrik, harus pulang dengan tangan hampa cuma karena matanya gagal mengenali angka “74” di balik tumpukan warna yang mirip tumpahan sambal kacang. Apakah kabel listrik di lapangan dibuat dalam bentuk titik-titik samar seperti tes itu? Tentu tidak. Kabel itu nyata, punya label, punya tekstur, dan punya posisi. Tapi birokrasi pendidikan kita tampaknya terlalu malas untuk membuat penilaian yang lebih kontekstual dan manusiawi.

BACA JUGA: Tes Buta Warna: Cara, Biaya, dan Mengapa Perlu Dilakukan?

Baca Juga:

Derita Punya Wajah Kurang Good Looking: Dari Kehilangan Percaya Diri hingga Berakhir Pengangguran Selama 8 Bulan

Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

Kita tidak bertanya apa pun tentang ini

Dan yang lebih aneh, kita jarang mempertanyakan itu. Padahal ini bukan cuma soal kelistrikan. Banyak bidang lain yang menerapkan hal yang sama, bahkan yang tidak selalu membutuhkan ketepatan warna seperti yang dibayangkan. Semua diminta ikut tes Ishihara, padahal jurusannya nggak ada urusannya dengan warna. Maksudnya, untuk apa anak Sastra diminta ikut tes seperti itu?

Dari sini dampaknya mulai terasa. Banyak orang bukan benar-benar gagal karena bodoh, mereka hanya dipaksa berbelok karena matanya nggak cocok sama “standar” yang kaku. Banyak mimpi yang gagal karena tes Ishihara, yang mungkin tak relevan, atau bahkan tak logis digunakan.

Di titik ini, rasanya wajar kalau muncul pertanyaan: apakah memang tidak ada cara lain? Apakah kemampuan seseorang harus selalu diukur dari pola titik-titik warna seperti itu?

Mimpi terkubur karena tes Ishihara

Sebenarnya, opsinya bukan tidak ada. Penilaian bisa dibuat lebih kontekstual, disesuaikan dengan kebutuhan bidangnya. Bisa lewat simulasi langsung, bisa dengan alat bantu digital yang sudah sangat masif di tahun 2026 ini, atau setidaknya ada tahap lanjutan sebelum keputusan benar-benar ditutup.

Karena yang dibutuhkan dunia kerja sebenarnya bukan sekadar kemampuan melihat warna, tapi kemampuan bekerja, memahami risiko, dan beradaptasi. Dan itu semua tidak selalu bisa diwakili oleh satu lembar gambar berisi titik-titik peninggalan zaman dulu.

Masalahnya, sistem kita sering memilih cara paling mudah: menyederhanakan sesuatu yang kompleks menjadi hitam-putih. Lulus atau tidak, boleh atau tidak. Padahal manusia tidak pernah sesederhana itu. Banyak orang mungkin tidak lolos bukan karena tidak mampu secara intelegensi, tapi karena tidak cocok dengan cara sistem mengukurnya. Dan itu dua hal yang berbeda, tapi sering diperlakukan sama oleh para pengambil kebijakan yang kurang piknik soal isu inklusivitas.

Yang hilang bukan cuma satu pilihan bagi adik saya, tapi banyak rencana anak bangsa yang akhirnya disesuaikan, bukan diwujudkan. Selama tes Ishihara ini masih dianggap cukup untuk menentukan segalanya tanpa ada ruang debat, maka cerita seperti ini akan terus berulang. Kita kehilangan banyak talenta hanya karena kita malas menggunakan sesuatu yang lebih terukur, dan memilih menyederhanakan semuanya.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Nelangsa Penderita Buta Warna di Dunia Kerja: Nggak Dilirik HRD sampai Dapat Persepsi Buruk Kolega

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2026 oleh

Tags: buta warnates buta warnates ishiharawawancara kerja
Riko Prihandoyo

Riko Prihandoyo

Bekerja membantu usaha orang lain sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Menulis ketika suasana hati memberi ruang, sembari terus belajar menyemangati diri sendiri.

ArtikelTerkait

Hal-hal yang Harus Dilakukan Ketika Tersadar bahwa Kamu Buta Warna terminal mojok.co

Hal-hal yang Harus Dilakukan Ketika Tersadar bahwa Kamu Buta Warna

29 Desember 2020
3 Opsi Menjawab Pertanyaan Interview Saat Studi Tidak Sejalan dengan Posisi yang Dilamar (Unsplash.com)

3 Opsi Menjawab Pertanyaan Interview Saat Studi Tidak Sejalan dengan Posisi yang Dilamar

13 Agustus 2022
pelamar kerja wawancara kerja lamaran kerja calon karyawan surat lamaran cv copas melamar kerja mojok.co

Lamaran Kerja Bisa Ditolak karena Kesalahan-kesalahan saat Wawancara Ini

18 Juni 2020
Tips Menjawab Motivasi dari HRD saat Interview Kerja Bagi Pencari Kerja (Unsplash)

Cara Mudah Menjawab Pertanyaan Tentang Motivasi Kerja saat Interview Kerja dari HRD

9 Januari 2023
Derita Wajah Nggak Good Looking: Nganggur, Susah Cari Kerja (Unsplash)

Derita Punya Wajah Kurang Good Looking: Dari Kehilangan Percaya Diri hingga Berakhir Pengangguran Selama 8 Bulan

21 Juni 2025
lowongan kerja pencari kerja wawancara kerja sdm keluhan rekruiter pengusaha wirausaha mojok

Saat Wawancara Kerja, Jangan Pernah Menjelek-jelekkan Perusahaan Lama

30 Mei 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes Mojok.co

Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes

4 Mei 2026
PSS Sleman Naik Kasta, Bayaran Terbaik Atas Loyalitas Tanpa Batas: Super League, Kami Datang!

PSS Sleman Naik Kasta, Bayaran Terbaik Atas Loyalitas Tanpa Batas: Super League, Kami Datang!

4 Mei 2026
Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, kalau Malam Dikuasai Kontainer

Jalan Raya Narogong, Gerbang Neraka di Timur Bekasi: Pagi Kena Macet Truk Sampah, Malam Dikuasai Kontainer

5 Mei 2026
Ambigunya Jurusan Agribisnis, Masuk Fakultas Pertanian tapi 80% yang Dipelajari Justru Ilmu Ekonomi jurusan pertanian

5 Alasan Jurusan Pertanian Nggak Akan Pernah Bisa Dihapus, meski Lulusannya Banyak yang Jadi Pegawai Bank

2 Mei 2026
Pengalaman Kuliner di Pantai Blimbingsari, Banyuwangi: Tenang dan Nyaman, tapi Bikin Kapok buat Jajan

Pengalaman Kuliner di Pantai Blimbingsari Banyuwangi: Tenang dan Nyaman, tapi Bikin Kapok buat Jajan

4 Mei 2026
Trans Jatim Koridor 7, Seburuk-buruknya Transportasi Publik. Masih Perlu Banyak Belajar dan Berbenah

Ternyata Bus Trans Jatim Nggak Ada Bedanya dengan Angkot, Ngebut dan Ugal-ugalan!

4 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten
  • 5 Ciri Orang Toxic yang Wajib di-Cut Off: Teman Manipulatif dan Bodo Amat dengan Kondisi Kita
  • Satu Kos sama Teman NPD alias Narsistik bikin Muak: Pusat Masalah tapi Tak Tahu Diri, Merasa Benar Sendiri dan Ogah Introspeksi
  • 4 Tipe Teman yang Sebaiknya Dilarang Menginap di Kos Kita: dari yang Cuma “Modal Nyawa”, hingga Teman Jorok tapi Tak Sadar Kalau Dia Jorok
  • Ortu Lebih Rela Jual Tanah buat Modal Anak Kerja di Jepang, Rp40 Juta Mending buat LPK ketimbang Rugi Dipakai Kuliah
  • Tolak Daftar LPDP untuk Kuliah di LN karena Beasiswa MEXT U to U di Jepang Lebih Menguntungkan, Tak Menuntut Kontribusi Balik

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.