“People come and go”, frasa yang bakal relate seiring bertambahnya usia. Sayangnya, cuma bagian “go” nya aja yang lebih saya rasakan. Banyak banget orang-orang di hidup saya yang berpulang. Selain sedih dan lelah emosional, salah satu efek dari banyaknya orang wafat dalam hidup saya adalah menumpuknya buku Yasin di rumah
Saya sudah di tahap, ketika datang ke acara tahlil, berharap untuk nggak dapat buku Yasin. Yang di rumah aja, bahkan ada yang masih di dalam plastik.
Saya nggak selalu datang ke acara tahlil. Nggak semua tahlilan memberi buku Yasin. Tapi tetap saja, buku Yasin di rumah saya sudah kelewat banyak. Malah kadang walau nggak datang ke undangan tahlil, buku Yasin tetap diberikan.
Apalagi seiring bertambahnya usia saya dan orang-orang rumah, kenalan dan kerabat semakin banyak yang wafat. Koleksi buku Yasin pun bertambah. Ada yang dari tetangga, om, tante, pokoknya bermacam-macam sumbernya. Ada yang sederhana, ada yang desainnya mewah pakai hard cover.
Nggak semua buku Yasin nyaman dipakai
Bukannya nggak bermanfaat, tapi serajin-rajinnya saya baca Yasin, tetap aja masih ada buku yang suka kelupaan untuk dipakai. Selain itu, jujur, nggak semua tulisan di buku Yasin itu nyaman di mata saya. Ada yang kekecilan, ada yang cetakan hurufnya agak kabur, dan ada yang penulisan huruf hijaiyahnya agak beda dari yang biasa saya temui.
Saya mau menolak, tapi kesannya nggak menghargai banget. Sedangkan maksud dari buku-buku Yasin tersebut, kan untuk mengenang mendiang. Syukur-syukur, kami yang diberikan nggak lupa untuk mendoakan mendiang. Tapi kalau nggak dipakai, malah saya yang jadi dosa.
BACA JUGA: 5 Kelakuan Menyebalkan Saat Tahlilan, Saya Tulis Ini Supaya Orang-orang Bisa Refleksi
Yang sudah-sudah, cuma jadi pajangan rak buku
Kebiasaan cetak buku Yasin, maksudnya memang baik. Tapi, saya rasa kebiasaan ini harus dihilangkan. Lebih baik, uangnya dialokasikan untuk kepentingan yang lebih bermanfaat bagi mendiang. Bukannya apa-apa, tapi sayang. Tuh, kebanyakan cuma jadi pajangan di rumah.
Mending uangnya buat menyelesaikan urusan mendiang. Bisa buat urusan makam, bayar utang mendiang, atau urusan administrasi yang perlu diurus terkait wafatnya mendiang. Jika memang ahli waris punya uang lebih, mending buat santunan anak yatim aja deh.
“Masya Allah, Yasin-nya bagus”. Kalau cuma sekadar pujian seperti itu tapi nggak dipakai, ya buat apa. Buku kan untuk dimanfaatkan isinya, bukan buat koleksi semata. Apalagi, buku doa.
Sekalinya dipakai, yang saya lihat biasanya dipakai di acara tahlil juga, diperuntukkan untuk tamu. Tapi kebanyakan, yang datang ya bawa buku Yasin sendiri. Hasil dari suvenir tahlilan dari mana-mana.
Mau ditaruh masjid atau musala, yang saya lihat, sama aja. Cuma memenuhi rak buku. Ujung-ujungnya, usang karena nggak pernah tersentuh. Bukan rusak karena terlalu sering dipakai.
Cuma jadi beban bagi yang nggak mampu
Lagi pula, nggak semua keluarga yang ditinggalkan mampu untuk cetak buku Yasin. Kok rasanya kalau nggak bagi-bagi Yasin pas tahlilan 40 atau 100 hari, kayak nggak afdal. Padahal, mah biasa aja. Itu semua cuma tradisi. Nggak dijalankan nggak dosa.
Kadang kalau dapat buku Yasin baru dari acara tahlilan, saya membatin pertanyaan, “Siapa sih yang memulai kebiasaan ini?”. Cuma asal ditiru kebiasaannya tanpa memikirkan manfaatnya. Sayang kan. Jadi beban juga bagi orang yang nggak mampu bikin.
Dengan keimanan yang masih suka naik turun kayak roller coaster, saya berusaha menggilir buku-buku Yasin yang selama ini saya dapat. Nggak semuanya saya yang dapat sih, tapi intinya, buku Yasin yang ada di rumah saya. Cuma kan, kalaupun iman saya lagi naik dan lagi getol-getolnya ngaji, masa saya bacanya Yasin terus?
Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Menjadi Penulis Kata Pengantar Buku Yasin
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















