Kali ini Purworejo kalah dari Kebumen.
Selama libur Lebaran 2026, ada satu fakta yang cukup menarik, sekaligus agak menyentil. Kabupaten Kebumen berhasil menempati peringkat pertama kunjungan wisata tertinggi di Jawa Tengah. Di bawahnya ada Klaten, lalu disusul Wonosobo. Salah satu penulis Terminal Mojok juga pernah membahasnya dengan apik dengan judul Kebumen Perlahan “Naik Kelas” dari Kabupaten Termiskin Jadi Daerah Wisata, Warlok yang Tadinya Malu Berubah Bangga.
Jujur, sebagai orang Purworejo saya iri dengan Kebumen. Kapan kampung halaman saya bisa “naik kelas” seperti Kebumen, terutama dalam hal pariwisata. Catatan itu seperti mengulang keresahan lama saya yang pernah dituliskan dengan judul Wisata Purworejo Kurang Menggoda Dibanding Daerah Plat AA Lain, padahal Potensial. Waktu itu saya kira masalahnya sebatas soal daya tarik yang kurang menjual. Namun, melihat kondisi sekarang, rasanya persoalannya lebih dalam dari itu.
Kebumen jauh lebih siap daripada Purworejo
Sebagai orang yang lahir dan besar di Purworejo, saya tidak bisa sepenuhnya cuek dengan kondisi kampung halaman. Terlebih, Purworejo sebenarnya punya potensi wisata yang nggak main-main. Coba sebut saja, kami punya pantai indah, pegunungan yang menarik, kulinernya pun menggoyang lidah. Lokasi-lokasinya pun mudah diakses alias tidak terpencil. Persoalannya cuma satu, semua itu hanya sebatas potensi, tidak pernah benar-benar dikelola dengan serius.
Ini jauh berbeda dengan Kebumen. Boleh dibilang, kondisi awal Purworejo sebenarnya lebih baik daripada Kebumen khususnya dalam hal akses. Namun, Kebumen mengelola wisatanya dengan lebih serius sehingga lebih kelihatan hasilnya. Mereka menata pantai-pantainya, membenani akses hingga menggencarkan prompsi. Kebumen pelan-pelan menunjukkan keseriusannya. Upaya untuk menggaet pengunjung terasa nyata. Orang-orang jadi nggak sekadar lewat di Kebumen, mereka ikut mampir.
Kebumen yang sekarang terasa lebih siap. Wisatanya masih jauh dari kata sempurna memang, tapi setidaknya terlihat sudah ada arahnya. Hasilnya pun mulai kelihatan, orang datang, ramai, dan akhirnya jadi pembicaraan.
Di titik ini rasanya Purworejo harus belajar dan melakukan perbaikan. Tidak usah jauh-jauh, cukup lihat ke tetangga sendiri: Kebumen. Belajar bahwa potensi itu tidak cukup kalau tidak diolah.
Potensi saja tidak cukup
Sebagai orang Purworejo, tentu saya ingin daerah ini bisa lebih dari sekadar punya potensi. Karena jujur saja, kata “potensial” itu lama-lama terdengar seperti penghiburan. Seperti harapan kosong, ada kesempatan dan peluanganya, tapi tidak pernah benar-benar terwujud. Bukankah itu justru menyakitkan?
Kita tahu ada yang bisa dibanggakan. Namun, entah kenapa, belum pernah benar-benar dimaksimalkan. Mungkin memang sudah waktunya berhenti merasa cukup dengan potensi, dan mulai serius melihat bagaimana daerah lain bekerja. Perlu juga turunkan ego dan secara humblemengakui daerah ini kalah dari Kebumen yang pernah menyandang status daerah termiskin selama bertahun-tahun.
Kalau tidak berubah secara besar-besaran, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan Purworejo masih akan terjebak pada potensi dan tidak pernah benar-benar dikelola. Dan, ujung-ujungnya, Purworejo semakin tertinggal dibanding Kebumen, bahkan daerah-daerah lain.
Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















