Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Wisata Purworejo Kurang Menggoda Dibanding Daerah Plat AA Lain, padahal Potensial

Riko Prihandoyo oleh Riko Prihandoyo
27 September 2025
A A
Wisata Purworejo Kurang Menggoda Dibanding Daerah Plat AA Lain, padahal Potensial

Wisata Purworejo Kurang Menggoda Dibanding Daerah Plat AA Lain, padahal Potensial (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau kita bicara soal plat nomor AA, cakupannya meliputi lima kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kelimanya adalah Magelang, Wonosobo, Temanggung, Kebumen, dan Purworejo. Dari lima daerah ini, sebenarnya Purworejo punya modal wisata alam yang tidak kalah dengan lainnya. Sebut saja pantai selatan yang menawan, air terjun yang bertebaran, gua bersejarah, hingga hutan pinus yang instagramable.

Akan tetapi di mata wisatawan maupun warganya sendiri, Purworejo sering dianggap “kalah pamor” dibanding empat tetangganya. Alhasil, banyak orang Purworejo justru lebih rela menempuh perjalanan ke luar daerah untuk berlibur, meskipun destinasi dalam kabupatennya sendiri tidak kalah berpotensi.

Potensi wisata di wilayah plat AA

Sekarang mari kita bandingkan secara singkat. Magelang jelas unggul dengan Candi Borobudur, destinasi kelas dunia yang sudah tidak perlu diragukan lagi. Belum lagi sederet wisata alam di kaki Gunung Merbabu dan Sumbing. Tidak heran kalau orang Purworejo yang ingin menikmati wisata budaya atau spot sunrise ikonik lebih memilih ke Magelang.

Lalu ada Wonosobo yang punya “negeri di atas awan” di kawasan Dieng Plateau. Daya tarik Dieng sangat kuat, mulai dari Telaga Warna, Kawah Sikidang, hingga acara Dieng Culture Festival. Ketika orang Purworejo ingin mencari suasana pegunungan yang sejuk dan eksotis, pilihan pertama mereka sering kali bukan daerah sendiri, melainkan Wonosobo.

Temanggung pun mulai mencuri perhatian. Spot seperti Posong atau Embung Kledung sukses viral di media sosial karena latar pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing. Lokasinya relatif dekat dari Purworejo, sehingga wajar bila banyak warga Purworejo yang “melipir” ke sana untuk sekadar hunting foto atau sekadar menikmati sunrise. Belum lagi suasana perkebunan tembakau yang khas, yang memberi pengalaman berbeda dari wisata di Purworejo.

Sementara itu, Kebumen sudah lama dikenal dengan wisata pantainya. Sebut saja Pantai Menganti, yang bahkan dijuluki “Raja Ampatnya Jawa Tengah.” Jika warga Purworejo ingin ke pantai dengan fasilitas lebih lengkap dan pemandangan lebih eksotis, mereka lebih sering meluncur ke Kebumen ketimbang puas dengan pantai di wilayah sendiri. Padahal punya Pantai Jetis Ketawang atau Jatimalang.

Purworejo punya potensi, tapi nggak bisa mengelola

Di sinilah letak persoalan Purworejo. Potensinya besar, tapi kalah dalam hal branding, promosi, dan pengelolaan. Pengelolaannya masih sederhana, tidak sebanding dengan potensi narasi sejarah dan geowisata yang bisa dikembangkan. Begitu pula dengan curug-curugnya yang keindahannya sering tak kalah dari air terjun di daerah lain, tetapi akses jalan, fasilitas, dan promosi digital masih minim. Padahal di era wisata Instagram, akses dan branding justru jadi penentu apakah suatu destinasi bisa populer atau tidak.

Bahkan dari segi letak, Purworejo sebenarnya punya keuntungan strategis. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan Daerah Istimewa Yogyakarta dan menjadi salah satu pintu masuk menuju Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo. Artinya, peluang untuk menjaring wisatawan sebenarnya terbuka lebar.

Baca Juga:

Jatinom, sebuah tempat rahasia yang akan membuatmu jatuh cinta berkali-kali sama Klaten

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

Akan tetapi tanpa inovasi dan keseriusan dalam mengemas destinasi, Purworejo akan terus tertinggal. Warga lokal pun akhirnya lebih memilih “wisata ke tetangga” karena merasa destinasi di daerah sendiri belum mampu memberi pengalaman yang sama menariknya.

Harus belajar dari daerah sekitar

Fenomena ini bukan sekadar soal gengsi, melainkan juga soal pola konsumsi wisata. Warga Purworejo yang ingin pantai bagus pergi ke Kebumen. Kalau mau ke gunung dan sunrise pergi ke Temanggung. Pengin cari wisata budaya dan candi malah ke Magelang. Dan yang menginginkan suasana dingin plus festival budaya ke Wonosobo.

Padahal ironisnya, Purworejo punya semua itu dalam versi berbeda: pantai, pegunungan, air terjun, hutan pinus, bahkan situs sejarah. Sayangnya, hingga kini semua itu masih berjalan sendiri-sendiri tanpa strategi promosi terpadu.

Purworejo sebenarnya bisa belajar dari tetangga satu platnya. Misalnya, Wonosobo berhasil menjual Dieng lewat event tahunan, atau Magelang yang konsisten memoles Borobudur dengan narasi spiritual dan budaya. Ada juga Kebumen mengemas pantainya dan Temanggung memanfaatkan media sosial untuk mempopulerkan Posong.

Nah, kalau Purworejo mampu menemukan “ikon kuat” dan mengangkatnya secara serius, bukan mustahil daerah ini tidak lagi menjadi “penonton” yang hanya mengirim warganya ke kabupaten lain. Tetapi ikut jadi magnet wisatawan di wilayah plat AA.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jangan Harap Menemukan Kehidupan Selepas Isya di Purworejo

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 September 2025 oleh

Tags: Kabupaten PurworejoKebumenmagelangPurworejotemanggungwisata purworejowonosobo
Riko Prihandoyo

Riko Prihandoyo

Bekerja membantu usaha orang lain sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Menulis ketika suasana hati memberi ruang, sembari terus belajar menyemangati diri sendiri.

ArtikelTerkait

Jalan Magelang-Semarang Adalah Halang Rintang Berkedok Jalan Raya Mojok.co

Jalan Magelang-Semarang Adalah Halang Rintang Berkedok Jalan Raya 

21 Maret 2024
Kali Bangkong Adalah Surga Ciblon di Payaman Magelang, Bukan Waterboom Kalibening Mojok.co

Kali Bangkong Adalah Surga Ciblon di Payaman Magelang, Bukan Waterboom Kalibening

22 Januari 2024
Desa Bumiayu Magelang, Desa Paling Seronok untuk KKN (Unsplash)

Benefit KKN di Kota Memang Banyak, tapi KKN di Desa Jauh Lebih Seronok. Apalagi di Desa Bumiayu Magelang!

8 September 2024
Oleh-oleh Khas Magelang yang Perlu Kamu Ketahui biar Tahunya Nggak Cuma Getuk

Oleh-oleh Khas Magelang yang Perlu Kamu Ketahui biar Tahunya Nggak Cuma Getuk

26 November 2024
Jalan Sukorejo-Parakan, Jalan Paling Berbahaya di Temanggung yang Mengancam Pengendara

Jalan Sukorejo-Parakan, Jalan Paling Berbahaya di Temanggung yang Mengancam Pengendara

9 Februari 2024
Carica, Buah Khas Dieng yang Awalnya Terpinggirkan namun Kini Bermanfaat bagi Banyak Orang (Joydeep via Wikimedia Commons)

Carica, Buah Khas Dieng yang Awalnya Terpinggirkan namun Kini Bermanfaat bagi Banyak Orang

10 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
5 istilah hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang Mojok.co

5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang

12 Agustus 2026
Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya Mojok.co

Pengalaman membangun rumah di desa, mahal di mental karena ada saja konfliknya 

11 Agustus 2026
Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh boso jonegoroan

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

11 Agustus 2026
Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga Mojok.co

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga

12 Agustus 2026
5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena jalan-jalan dan dibayar Mojok.co

5 penderitaan jadi peneliti lapangan yang sering dikira pekerjaan enak karena isinya jalan-jalan dan dibayar

11 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.