Duduk di kursi empuk Sancaka Utara kelas eksekutif itu membuai iman. Sebuah situasi yang mendadak membuat kita seperti manusia kelas menengah yang sudah “sampai” pada tujuan hidup. Setidaknya sampai urusan perut memanggil dan seporsi nasi rames membuatmu sangat kecewa.
Perjalanan dari Bojonegoro menuju Jogja adalah lintasan yang penuh kontradiksi. Di luar jendela, kita melihat hutan jati yang mulai gundul, sawah yang perlahan kehilangan kedaulatannya sebagai sumber kehidupan, sementara di dalam gerbong, kita menikmati ilusi pelayanan prima.
Dan puncak dari drama sosiologis ini terjadi ketika saya memutuskan untuk memesan makan di atas rel. Saya memesan seporsi nasi rames.
BACA JUGA: Kereta Api Sancaka Utara, Kereta Penolong Warga Pantura untuk Menjangkau Daerah Selatan
Nasi rames Sancaka Utara, antara lapar, gengsi, dan label Kedaluwarsa
Nasi Rames di Sancaka Utara bukan sekadar pengganjal lapar. Ia adalah sebuah pernyataan status. Harganya yang “premium” itu setara dengan tiga porsi nasi rames di warung pinggiran Bojonegoro yang porsinya sanggup membuat kuli bangunan kenyang hingga lusa.
Tapi di Sancaka Utara, jujur, saya rela membayar sebab rasa lapar yang tak lagi bisa saya tunda. Mungkin, sebagian dari kita membayar demi sebuah legitimasi bahwa kita sanggup membeli kenyamanan. Termasuk kenyamanan dalam mengunyah di tengah guncangan gerbong.
Namun, baru saja kotak nasi itu mendarat di meja lipat, sebuah pemandangan horor tersaji. Di label kemasannya, tertera angka yang membuat bulu kuduk berdiri: Expired pukul 10:30. Sementara jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 11:00.
Dapat nasi kedaluwarsa
Bayangkan, saya membeli nasi rames yang secara administratif sudah “meninggal dunia” selama 30 menit. Di dunia medis, ini sudah masuk fase persiapan pemakaman. Tapi, di atas Sancaka Utara, para petugas masih menjajakannya dengan penuh percaya diri seolah-olah ia adalah hidangan segar yang baru keluar dari dapur bintang lima.
Maka terjadilah sebuah dialog eksistensial yang sangat sosiologis antara saya dan nasi rames. Makan dengan tangan (muluk) di Sancaka Utara kelas eksekutif itu ibarat memakai sandal jepit di acara gala dinner. Bisa saja saya melakukannya, tapi ada beban moral yang berat di pundak.
Kalian bisa membayangkan situasinya. Di sebelah saya ada orang yang sedang mengetik laporan dengan MacBook terbaru. Lalu, di depan saya, ada ibu-ibu yang wangi parfumnya seharga cicilan motor, dan saya harus meraup nasi rames yang berminyak itu dengan tangan telanjang?
Ini bukan sekadar aktivitas makan. Itu adalah sebuah penghinaan terhadap estetika kelas eksekutif yang sudah susah payah saya beli lewat tiket mahal.
Penderitaan ganda: Nasi rames tak layak makan, tanpa sendok pula
Seolah-olah status “almarhum” pada nasi rames itu belum cukup menghina martabat saya sebagai penumpang Sancaka Utara eksekutif. Eh, kotak nasi itu datang tanpa sendok.
Ini adalah puncak dari sebuah absurditas pelayanan. KAI seolah-olah sedang memberikan pesan subliminal: “Nasi ini sudah kedaluwarsa, jadi buat apa kami kasih sendok? Toh, kamu juga nggak bakal berani makannya, kan?”
Sedikit bersedih batin saya berkata. Nasi rames yang sudah kehilangan marwahnya, dalam kondisi tanpa alat makan, di sebuah gerbong Sancaka Utara yang tiketnya tidak murah. Saya merasa sedang dikerjai oleh semesta lewat perantara manajemen pangan kereta api.
BACA JUGA: 3 Dosa Utama Penjual Nasi Rames yang Masih Kerap Kita Jumpai, Bikin Males Balik Lagi
Birokrasi penantian nasi rames di atas Sancaka Utara
Tentu saja saya protes. Petugas Sancaka Utara memang meminta maaf dengan senyum standar operasional yang terlanjur mainstream itu, lalu membawa pergi nasi bangkai tersebut untuk dievakuasi.
Namun, lagi-lagi saya merasa KAI sedang mengerjai saya habis-habisan. Proses penggantian nasi rames ini ternyata menempuh jalur birokrasi yang lebih panjang dari rel kereta itu sendiri. Seolah-olah petugas harus panen dulu di sawah.
Kereta Sancaka Utara melaju kencang melintasi stasiun, sementara perut saya melakukan orkestra keroncongan yang makin lama makin melengking. Lalu saya melihat jam tangan sudah menunjukkan 25 menit lagi saya tiba di stasiun Tugu Jogja, kalau sesuai jadwal.
Menunggu nasi rames pengganti di atas Sancaka Utara itu rasanya lebih lama daripada menunggu kereta ekonomi yang tertahan sinyal di tengah hutan.
Ketika akhirnya nasi rames pengganti datang, rasanya seperti menerima bantuan pangan di tengah bencana. Sendok itu bukan lagi sekadar alat makan, tapi simbol kemenangan kecil dari seorang penumpang yang nyaris menyerah pada keadaan.
Dear KAI, mungkin kalian sudah berhasil memodernisasi mesin dan mempercepat durasi perjalanan. Tapi, kalian lupa bahwa urusan perut tidak mengenal kompromi waktu.
Nasi rames kedaluwarsa adalah bentuk penindasan halus yang paling nyata di atas Sancaka Utara. Bahwa setinggi-tingginya kasta penumpang kereta, kita tetaplah manusia jelata yang tak berdaya jika sudah berhadapan dengan manajemen pangan yang geraknya lebih lambat dari kecepatan kereta itu sendiri.
Penulis: Faiz Al Ghiffary
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Kasta Makanan Kereta Api dari yang Enak Banget sampai Nggak Banget
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















