Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Kami Adalah Tumbal Romantisasi “Bakti Anak” yang Terpaksa Menjadi Dana Pensiun Berjalan Bagi Orang Tua yang Gagal Menabung

Fauzia Sholicha oleh Fauzia Sholicha
27 Januari 2026
A A
Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Tapi Tumbal Orang Tua (Pexels)

Generasi Sandwich Bukan Pahlawan, Tapi Tumbal Orang Tua (Pexels)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu istilah yang paling saya benci di dunia ini melebihi istilah “revisi minor” dari klien. Istilah itu adalah Pahlawan Keluarga untuk menyebut Generasi Sandwich.

Sering sekali saya mendengar motivator, ustaz di televisi, atau tetangga yang julid, memuji anak-anak muda yang menanggung beban hidup orang tua dan adik-adiknya sebagai sosok pahlawan. “Wah, hebat ya Mbak Fauzia, sudah bisa biayain orang tua. Berkah lho, Mba. Pintu rezeki terbuka lebar.”

Mendengar itu, bibir saya tersenyum sopan. Tapi di dalam hati, batin saya menjerit: “Berkah gundulmu!”

Maaf kalau saya terdengar kasar. Tapi mari kita bicara jujur, dari hati ke hati, sesama Generasi Sandwich yang tulang punggungnya sudah mau patah ini.

Kami bukan pahlawan. Pahlawan itu orang yang berkorban secara sukarela untuk kepentingan orang banyak dan biasanya punya kekuatan super. Kami? Kami tidak punya kekuatan super. Dompet kami tipis. Mental kami rapuh. Dan yang paling penting: Kami tidak melakukan ini secara sukarela.

Baca juga Bagi Generasi Sandwich, Perencanaan Keuangan Nggak Semudah Kata Raditya Dika

(Kebanyakan) Generasi Sandwich itu terpaksa, bukan sukarela

Kami, Generasi Sandwich, melakukan ini karena terpaksa dan tidak ada pilihan lain. Bayangkan saja. Jika kami berhenti mentransfer uang barang satu bulan saja, maka dapur di rumah orang tua akan berhenti mengepul, PLN memutus listrik, dan sekolah mengusir adik saya.

Kami bukan pahlawan, tapi korban, bahkan kadang tumbal. Generasi Sandwich adalah korban dari kegagalan perencanaan finansial orang tua di masa lalu. Kini, banyak orang membungkusnya dengan kertas kado bertuliskan “Bakti Anak”.

Baca Juga:

Generasi Sandwich Adalah Takdir Bajingan yang Bikin Muak: Saya Baik pada Keluarga Bukan karena Cinta, tapi karena Sudah Lupa Hidup Sebenarnya untuk Apa

Derita Gen Z Punya Nama Sri yang Sering Dikira Bibi Kantin dan Pembantu

Anak adalah investasi sebagai mitos paling toksik

Akar dari semua penderitaan ini adalah pola pikir jadul. Banyak yang masih menganutnya. Yang saya maksud adalah sebutan: “Anak adalah investasi masa tua.”

Coba ingat-ingat, pernahkah orang tua kalian bercanda (tapi serius) gini: “Nanti kalau kamu sudah sukses, Bapak mau minta dibeliin mobil ya,” atau “Ibu nanti kalau tua mau ikut kamu aja, biar kamu yang urus.”

Kalimat itu terdengar manis, tapi sebenarnya mengerikan. Itu artinya, mereka melahirkan dan membesarkan kita dengan harapan “balik modal” (Return on Investment). Mereka menganggap anak sebagai aset bergerak. Banyak dari Generasi Sandwich yang menjadi “dana pensiun” mereka.

Mereka gagal menabung saat muda, tidak punya aset, dan kebanyakan tidak melek asuransi. Alasannya klasik: “Habis buat nyekolahin kamu.”

Lho, tunggu dulu. Menyekolahkan anak itu kewajiban orang tua, bukan utang piutang beserta bunganya yang menjadi beban kita semata. Ketika narasi “balas budi” ini didengungkan terus-menerus, itu namanya Financial Gaslighting.

Situasi ini membuat banyak Generasi Sandwich merasa bersalah seumur hidup ketika menikmati hasil keringat sendiri. Mau beli kopi mahal dikit, ingat ibu di kampung belum beli beras. Kita mau traveling ke Bali, ingat bapak belum bayar iuran BPJS. Menabung buat nikah? Eh adik minta laptop baru buat kuliah.

Akhirnya? Gaji kita cuma numpang lewat. Generasi Sandwich kerja keras bagai kuda, tapi yang menikmati hasilnya bukan kita. Kita menjadi sapi perah atas nama “Dharma Bakti”.

Romantisasi penderitaan Generasi Sandwich di media sosial

Yang bikin makin muak adalah bagaimana media sosial meromantisasi penderitaan ini. Banyak konten kreator bikin video sedih-sedih, “Pov: Gaji UMR tapi nanggung 5 nyawa. Semangat ya tulang punggung!” Lalu kolom komentarnya penuh dengan, “Semangat Kak, pasti diganti Tuhan berlipat ganda.”

Hei, sadarlah. Romantisasi ini berbahaya. Ini membuat kita menerima nasib buruk ini sebagai sesuatu yang “mulia”. Padahal, ini adalah masalah struktural yang membebani kehidupan dan kesehatan mental.

Dengan memuji Generasi Sandwich sebagai pahlawan, masyarakat seolah membenarkan ketidakbecusan orang tua dalam mengatur keuangan. “Nggak apa-apa nggak punya tabungan pensiun, kan nanti ada anak yang nanggung.”

Pola pikir ini akan terus berulang. Nanti, saat kita tua, karena uang kita habis buat ngurus orang tua sekarang, kita jadi nggak punya tabungan juga. Akhirnya? Kita akan membebani anak kita kelak. Lingkaran setan kemiskinan tidak akan pernah putus.

Matematika yang tidak masuk akal

Mari kita berhitung memakai logika, bukan perasaan. Gaji fresh graduate atau pekerja muda di Jakarta rata-rata Rp5 sampai Rp7 juta. Biaya hidup sendiri (kos, makan, transportasi, menabung, dan kebutuhan lainnya) di Jakarta minimal Rp3 sampai Rp4 juta. Sisa Rp1 sampai Rp3 juta.

Kalau orang tua tidak punya penghasilan sama sekali, kita harus kirim minimal Rp1,5 sampai Rp2 juta ke kampung. Sisa berapa? Nol. Atau ada saja Generasi Sandwich yang keuangannya minus.

Lalu kapan kita nabung buat beli rumah, menikah, dan investasi? Jawabannya: tidak akan pernah.

Kehidupan memaksa Generasi Sandwich hidup dalam mode survival selamanya. Sakit adalah aib. Nggak boleh resign meskipun lingkungan kerja toksik, karena ada mulut-mulut di rumah yang harus disuapi. Posisi tawar kita lemah. Kita menjadi budak korporat yang patuh karena kita butuh uangnya desperately.

Agama sebagai senjata

Seringkali, ketika kita mencoba menetapkan batasan (boundaries) finansial kepada orang tua, dalil agama langsung muncul. “Ridho Allah ada pada ridho orang tua.” “Ibu sudah mengandungmu 9 bulan, masa minta uang segini aja kamu hitung-hitungan?”

Ini adalah kartu As yang mematikan bagi Generasi Sandwich. Kita langsung kicep dan merasa jadi anak durhaka penghuni neraka jahanam.

Padahal, setahu saya (koreksi jika salah), dalam agama mana saja, mengajarkan bahwa orang tua tidak boleh membebani anak di luar kesanggupannya. Tapi jarang yang membahas ayat itu. Mereka cuma membahas ayat tentang kewajiban anak.

Generasi Sandwich, generasi paling “sial” tapi paling mulia

Saya sering bilang ke teman-teman saya. Generasi Milenial dan Gen Z adalah generasi yang paling “sial”. Kenapa? Karena kita menanggung beban dua Generasi. 

Kita mengurus orang tua kita (Generasi Boomers/Gen X) yang tidak siap pensiun. Dan di saat yang sama, kita harus membiayai anak-anak kita (Gen Alpha) yang biaya pendidikannya makin gila-gilaan.

Kita terjepit di tengah. Atas butuh duit, bawah butuh duit. Tengah-tengahnya (kita) remuk redam.

Tapi, mungkin ada sisi mulianya. Kita punya kesempatan untuk menjadi Chain Breaker. Kitalah generasi yang harus berdarah-darah menghentikan kutukan ini.

Caranya? Dengan sadar diri. Kita harus menanggung orang tua kita (karena ya nggak mungkin menelantarkan orang tua). TAPI, kita harus bersumpah. Kita tidak akan menyusahkan anak kita nanti.

Meskipun sekarang berat, usahakan tetap sisihkan sedikit buat dana pensiun sendiri. Jangan biarkan anak kita nanti mengalami apa yang kita alami. Jangan biarkan anak kita nanti menulis esai marah-marah seperti saya ini di masa depan. Cukup kita, Generasi Sandwich, yang jadi tumbal dan menderita.

Baca juga Usia Baru 20 Tahun Tapi Sudah Jadi Generasi Sandwich

Stop menyebut Generasi Sandwich itu pahlawan

Jadi, tolong. Berhentilah menyebut Generasi Sandwich pahlawan. Sebutan itu tidak bisa untuk membayar tagihan listrik atau menyembuhkan sakit punggung kami.

Alih-alih memuji, cobalah mengedukasi. Edukasi para orang tua bahwa pensiun adalah tanggung jawab pribadi. Edukasi masyarakat bahwa punya banyak anak bukan jaminan masa tua sejahtera.

Dan untuk sesama Generasi Sandwich yang sedang membaca tulisan ini sambil menghitung sisa gaji yang tinggal recehan. Menangislah kalau mau menangis. Marahlah kalau mau marah. Kalian berhak merasa lelah dan diperlakukan tidak adil.

Tapi setelah itu, hapus air mata dan kembali kerja. Bukan karena kita ingin jadi pahlawan. Tapi karena kalau kita nggak kerja, kita nggak makan.

Sesederhana dan se-tragis itu realitanya.

Penulis: Fauzia Sholicha

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Generasi Sandwich Nggak Butuh Dukungan, Kami Butuh Uang, Uang yang Banyak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2026 oleh

Tags: apa itu Generasi Sandwichboomerdana pensiungen zgenerasi sandwichGenerasi Sandwich adalahGenerasi Sandwich artinya
Fauzia Sholicha

Fauzia Sholicha

Warga Malang yang percaya bahwa mengurus dua anak laki-laki, membalas chat pembeli, dan menulis artikel adalah bentuk multitasking level dewa. Menulis untuk menyalurkan hobi, jualan online untuk menyalurkan hobi checkout keranjang sendiri.

ArtikelTerkait

Harga BBM Naik, Dana Pensiun Diubah, Istri Ferdi Sambo Tak Ditahan tapi Rakyat yang Kudu Memahami (Unsplash.com)

Harga BBM Naik, Dana Pensiun Diubah, Istri Ferdi Sambo Tak Ditahan tapi Rakyat yang Kudu Memahami

3 September 2022
Karang Taruna: Dikekang Orang-orang Tua, Dibebani Harapan Warga kampung halaman

Karang Taruna: Dikekang Orang-orang Tua, Dibebani Harapan Warga

12 Maret 2023
Gen Z Kerja di Perusahaan Startup Bukan karena Malas dan Menghindari Pekerjaan Berat. Nyatanya Startup Memang Lebih Nyaman dari Perusahaan Konvensional

Gen Z Kerja di Perusahaan Startup Bukan karena Malas dan Menghindari Pekerjaan Berat. Nyatanya Startup Memang Lebih Nyaman dari Perusahaan Konvensional

14 Juni 2024
Gen Z di Dunia Kerja: Punya Potensi, tapi Kurang Disukai Rekan Kerja Sendiri

Gen Z di Dunia Kerja: Punya Potensi, tapi Kurang Disukai Rekan Kerja Sendiri

29 Desember 2023
Nyatanya Guru Tak Pernah Mulia, Sejak Dulu Isinya Hanya Luka MOJOK.CO

Jangan Bilang Gen Z Adalah Generasi Anti Guru, Siapa pun Akan Mikir Berkali-kali untuk Jadi Guru Selama Sistemnya Sekacau Ini

28 November 2025
Gen Z: Generasi Google Maps, tapi Buta Geografi

Ironi Gen Z: Generasi Google Maps, tapi Buta Geografi

20 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

Jalan Dr Sutomo, Jalan Satu Arah yang Mencoreng Nama Baik Muntilan Magelang

2 Juni 2026
Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras Mojok.co

Jembatan Ngancar Klaten Akhirnya Direnovasi, Hidup Warlok Tak Lagi Waswas, Bakal Lebih Waras

3 Juni 2026
Karyawan Indomaret Pekerja Paling Underrated di Indonesia (Unsplash)

Karyawan Indomaret adalah Pekerja Paling Underrated di Indonesia

2 Juni 2026
Indomaret Tutup, Orang Dewasa Depresi Bakal Makin Stres (Unsplash)

Membayangkan Semua Gerai Indomaret Tutup: Ibu-Ibu Merana Kehilangan Promo Minyak Goreng, Orang Dewasa Stres Makin Depresi Kehilangan Kursi Besi Andalan

1 Juni 2026
Kebiasaan Buruk Mahasiswa Saat Menghubungi Dosen, Tolong Jangan Dilakukan Mojok.co

Chat Aneh Mahasiswa ke Dosen Muda, Tolong Jangan Dibiasakan

30 Mei 2026
Korupsi Mandala Krida Bunuh Marwah Jogja Kota Budaya (Wikimedia Commons)

Kasus Korupsi Mandala Krida Membuat Jogja Kehilangan Marwahnya Sebagai Kota Beradab

29 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.