Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Bukannya Nggak Cinta Kabupaten Sendiri, Ini Alasan Warlok Malas Plesir ke Tempat Wisata di Bantul

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
13 Oktober 2025
A A
Bukannya Nggak Cinta kabupaten Sendiri, Ini Alasan Warlok Malas Plesir ke Tempat Wisata di Bantul Mojok.co

Bukannya Nggak Cinta kabupaten Sendiri, Ini Alasan Warlok Malas Plesir ke Tempat Wisata di Bantul (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bantul merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang punya berbagai jenis destinasi wisata. Segala macam tempat untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasih bisa ditemukan di sana. Pantai, laguna, gua, sungai, bukit, dan berbagai tempat asri lainnya semua ada.

Kabupaten dengan julukan Bumi Projotamansari ini juga punya berbagai tempat  ikonik yang mampu menarik minat warga dari kota dan kabupaten lain. Ada wisata-wisata viral yang diserbu oleh muda-mudi, seperti Taman Sakura Imogiri. Bahkan, ada pula destinasi-destinasi yang bukan hanya viral sesaat, tetapi juga tak lekang oleh waktu. Contohnya Puncak Sosok, Puncak Becici, Bukit Bego, dan tentu saja, Pantai Parangtritis.

Setiap akhir pekan, kalau kita lagi berada di Bantul, kita akan sering berpapasan dengan bus-bus yang mengangkut rombongan ibu-ibu pengajian dari luar kota. Ada juga pasangan muda-mudi yang naik motor dari tempat tinggalnya, jauh-jauh ke Bantul buat foto-foto dan update Instagram.

Tapi, pertanyaannya, kenapa ya warga Bantulnya sendiri malah jarang mampir ke semua tempat wisata yang viral dan ikonik itu? Logikanya, tempat tinggal mereka kan lebih dekat, otomatis biaya perjalanannya jadi lebih murah. Tapi, mereka justru mainnya ke tempat yang lain. Ternyata, begini alasannya.

#1 Destinasi wisata di Bantul sudah kelewat biasa bagi mereka

Bagi orang Bantul, Pantai Parangtritis hingga Hutan Pinus Pengger itu bukan tempat wisata. Tempat-tempat itu adalah bagian dari keseharian mereka. Dengan begitu, warga Bantul nggak penasaran dengan tempat-tempat wisata tersebut.

Misalnya, dulu sewaktu kebun bunga matahari di sepanjang Jalan Lintas Selatan, Bantul viral, keluarga saya yang kebetulan tinggal di dekat situ malah nggak berkunjung sama sekali. Bude saya hampir tiap pekan melewati jalan tersebut untuk menghadiri arisan trah atau bertemu teman-teman lamanya.

Kakak sepupu saya malah lebih ekstrem lagi. Saat kami berboncengan melewati lokasi viral tersebut, katanya dulu ia sering naik pohon dan makan buah di dekat situ. Jadi baginya, melihat bunga matahari sudah biasa sekali. Bunga matahari pun bagi warga lokal bukan tanaman yang spektakuler. Soalnya bunga matahari dipakai oleh petani untuk melindungi tanaman cabai dari hama wereng.

Ya sama saja seperti saya, orang Jogja yang nggak pernah foto di depan Tugu atau Malioboro. Meskipun kedua ikon Jogja itu sangat populer di kalangan wisatawan, keduanya hanya bagian dari perjalanan naik motor saya ke sekolah atau kampus.

Baca Juga:

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan

#2 Nggak rela keluar duit

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, destinasi-destinasi wisata yang dikunjungi warga luar kota itu termasuk bagian dari kehidupan sehari-harinya orang Bantul. Oleh karena itu, rasanya enggan untuk mengeluarkan uang demi masuk ke tempat wisata yang bisa kita lihat sembari ngarit atau berboncengan menuju rumah saudara saat Idulfitri.

Kecuali sudah kenal dengan pengelolanya, tentu para pengunjung harus membayar retribusi tiket masuk, parkir, dan toilet jika berkunjung ke tempat wisata tertentu. Jumlahnya kadang nggak seberapa tapi bagi warga lokal yang sehari-harinya lewat situ ya rasanya sayang.

Selain itu, umumnya tempat-tempat wisata ini ramai oleh pengunjung, bahkan macet panjang saat akhir pekan dan tanggal merah. Warga lokal justru jadi malas dan menghindari area tersebut. Mending nggak usah masuk atau bahkan diam di rumah saja daripada ikut berdesak-desakan.

#3 Piknik versi orang Bantul itu berbeda

Untuk saya yang tinggal di Kota Jogja, piknik itu harus datang ke tempat yang alami, asri, dan rindang. Saya healing-nya di tempat-tempat seperti itu. Oleh karena itu, saya lebih sering main ke Bantul atau Kulon Progo dibandingkan nongkrong di kafe. Padahal di sekitar tempat tinggal saya ada banyak sekali kafe yang saling bersaing di bidang rasa, harga, dan keestetikannya.

Artinya, saya mencari hal yang nggak bisa saya temukan di sekitar rumah. Rumah saya adanya kafe, nggak ada pegunungan dengan udara segarnya atau pantai dengan ombaknya.

Begitu pula dengan orang Bantul. Mengingat kabupaten ini memang punya banyak sekali tempat wisata alami dan kebetulan nggak punya mall, makanya orang Bantul lebih suka “ngalor” dengan main ke Kabupaten Sleman atau Kota Jogja.

Ada pula warga Bantul yang main ke Gunungkidul karena adanya wisata baru dan viral di sana. Saya pernah mengobrol dengan pedagang minuman di Pantai Parangtritis. Belakangan ini pantai tersebut nggak sepopuler dulu karena para pengunjungnya main ke Obelix Sea View yang dulu viralnya sampai bikin macet di jalan alternatif. Padahal sama-sama pemandangannya laut, tapi warga Bantul pun ikut main ke sana. Soalnya sensasinya tentu berbeda dan mungkin mereka pun sudah bosan dengan Pantai Parangtritis.

Itulah alasan kenapa warga Bantul malah jarang main ke tempat wisata ikonik kabupatennya sendiri. Intinya sih destinasi-destinasi wisata tersebut merupakan suatu hal yang dekat dan selalu ada setiap hari, jadi nggak ada urgensi untuk dikunjungi.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Alasan Warlok Sleman Malas Berwisata ke Kaliurang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2025 oleh

Tags: BantuldiyJogjaKabupaten Bantultempat wisata bantulwisata bantulwisatawanYogyakarta
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

borobudur magelang yogyakarta mojok

Panduan Menjawab di Mana Letak Candi Borobudur agar Kalian Nggak Salah Tag Lokasi di Instastory

1 September 2020
Kerja Part Time di Jogja Adalah Jalan Pintas Menuju Perbudakan, Gaji Setengah UMR pun Nggak Ada! umr jogja gaji di jogja gaji umr jogja

Begini Rasanya Hidup dengan Gaji UMR Jogja: Makan Mahal Dikit, Hancur Rencana Keuangan yang Sudah Disusun

10 Oktober 2024
Ini Ciri-ciri Warung Mi Ayam Enak di Jogja terminal mojok.co

Ciri-ciri Warung Mi Ayam yang Enak di Jogja

4 Oktober 2021
Ambisi PT KAI Perluas Lempuyangan Bikin Pelaju KRL Jogja Solo Menderita (Unsplash)

Terbitnya SP3 dari PT KAI buat Warga Lempuyangan dan Bayangan Mengerikan Biaya Transport Pelaju KRL Jogja Solo sampai Setengah UMP Jogja

18 Juni 2025
5 Alasan Cikarang Lebih Terkenal dari (Kabupaten) Bekasi Terminal Mojok UMK

4 Alasan Orang Bekasi Merantau padahal UMK-nya Besar

4 Desember 2022
Kuliner khas kalimantan barat

4 Rekomendasi Kuliner Khas Kalimantan Barat di Jogja

30 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto” Mojok.co

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

25 Januari 2026
Karimun Wagon R: Mobil Kecil yang Menyelamatkan Pemiliknya dari Gosip Kampung

Karimun Wagon R: Mobil Kecil yang Menyelamatkan Pemiliknya dari Gosip Kampung

25 Januari 2026
Malang Hari Ini Adalah Definisi Cantik tapi Toxic (Unsplash)

Sisi Gelap Malang Hari ini: Masih Cantik, tapi Semakin Toxic

25 Januari 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

27 Januari 2026
4 Sisi Terang Mahasiswa Kupu-Kupu yang Selama Ini Dipandang Sebelah Mata Mojok.co

Mahasiswa Kupu-Kupu Jangan Minder, Kalian Justru Lebih Realistis daripada Aktivis Kampus yang Sibuk Rapat Sampai Lupa Skripsi dan Lulus Jadi Pengangguran Terselubung

27 Januari 2026
Tiga Tradisi Madura yang Melibakan Sapi Selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, Biar Obrolan Nggak Itu-Itu Aja

4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan

29 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa
  • Sebagai “Alumni” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 
  • Memfitnah Es Gabus Berbahaya adalah Bentuk Kenikmatan Kekuasaan yang Cabul
  • Waste to Energy (WtE): Senjata Baru Danantara Melawan Darurat Sampah di Perkotaan
  • AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah
  • Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.