Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Kiat Menjadi Pakar dengan Modal Kuota Internet

Erwin Setia oleh Erwin Setia
12 Juni 2019
A A
pakar modal kuota internet

pakar modal kuota internet

Share on FacebookShare on Twitter

Kata siapa untuk menjadi pakar dalam suatu bidang harus sekolah tinggi-tinggi dan baca buku sebanyak mungkin? Udah nggak zaman lagi yang kayak begitu. Sekarang udah era Revolusi Industri 4.0. Ingat, Revolusi Industri 4.0—ada jalan pintas untuk menjadi pakar.

Tidak harus dengan cara menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin. Apalagi seperti Maudy Ayunda yang sampai kebingungan memilih Stanford atau Harvard University. Yang kamu butuhkan cukup sebuah gadget dan kuota internet—dengan kedua hal itu, kamu bisa menjadi pakar segalanya.

Mau menjadi pakar agama? Gampang—tinggal rajinlah sowan ke Syekh Google. Nggak perlu lagi itu yang namanya belajar kitab kuning atau nyantri bertahun-tahun. Sekarang kamu bisa belajar melalui Google—yang warna logonya bukan cuma kuning, tapi merah, kuning, hijau, dan biru sekaligus. Lebih berwarna, bukan?

Kamu juga bisa belajar lewat YouTube. Sudah nggak perlu lagi datang jauh-jauh ke suatu daerah untuk bersimpuh di hadapan kiai—apalagi sampai pergi ke negeri Cina. Selain Cina itu jauh banget dan mahal ongkos buat ke sananya, bisa-bisa kamu nanti dicurigai sebagai antek aseng. Jadi, mendingan duduk kalem di depan layar laptop. Ketik keyword apa pun yang pengen kamu kuasai—maka jadilah.

Mau jadi pakar politik? Itu lebih gampang lagi. Sekarang ilmu politik ada di mana-mana. Bukan lagi menjadi monopoli institusi pendidikan atau seorang ahli yang kepalanya botak dan kalau ngomong bahasanya njelimet.

Kamu bisa belajar ilmu politik melalui berita-berita media online, Wikipedia, blog-blog yang sama sekali nggak kredibel dan nggak jelas siapa penulisnya sangat bermanfaat, dan potongan-potongan video YouTube. Bahkan, kamu juga bisa belajar dari broadcast WhatsApp yang katanya kebanyakan mengandung hoaks itu—bohong itu, karena nggak pernah ada hoaks di dalam broadcast-broadcast WhatsApp. Nggak pernah ada sedikit, maksudnya. WhatsApp adalah sumber kebenaran.

Untuk paham soal komunisme, sosialisme, anarkisme, dan isme-isme yang lain juga bukan lagi hal rumit. Kamu bisa menjadi pakar dari semua isme dengan cara yang praktis. Kalau mau menguasai komunisme—misalnya. Nggak perlu lagi melahap Das Kapital yang setebal bantal beserta segala penjelasannya. Kamu hanya perlu mendengarkan “Bahaya Komunis”-nya Jason Ranti selama sehari semalam. Maka jadilah kamu pakar komunisme!

Atau kamu bisa menonton film Pengkhianatan G 30 S-PKI yang banyak beredar di YouTube. Putarlah film itu berulang-ulang sampai seluruh adegannya kamu hafal di luar kepala. Jika sudah hafal, resmilah sekarang kamu menjadi pakar komunisme terbesar di abad ini. Gimana, gampang banget, kan?

Baca Juga:

Iklan Indomilk Gemas 2022: Iklan Cerdas yang Tampar Masyarakat Indonesia

Iklan Kritik Sosial Terbaik Jatuh kepada Sampoerna A Mild

Perlu juga kamu tahu, kiat belajar nan mudah yang saya paparkan ini bukan omong kosong saya belaka. Kamu tahu Eka Kurniawan, Sastrawan Indonesia yang telah mendunia itu? Beliau pernah membahas soal ini.

“Seperti banyak bisnis, artis, selebriti, bermunculan melalui dunia internet dan digital. Saya yakin dunia intelektual seharusnya juga demikian,” tulis Eka dalam opininya di Jawa Pos (6/4/2019). “Apa yang disebut sebagai intelektual publik, yakni intelektual atau pakar yang tidak berasal dari lingkungan akademis, justru sangat mungkin lahir dari kultur tersebut.”

Lihat—beliau tidak mengharuskan menjadi seorang intelektual atau pakar mesti melalui jenjang akademis pada umumnya. Tapi bisa juga melalui dunia internet dan digital!

“Orang bisa belajar pemrograman dan bahkan merakit mesin melalui internet. Jadi, kenapa tidak belajar sosial, politik, agama, juga filsafat? Sekarang pokok soalnya, bagaimana kita menciptakan pakar-pakar baru sama baiknya melalui perguruan tinggi maupun YouTube atau layanan lain. Itu seharusnya menjadi tantangan baru dunia intelektual kita,” tutupnya.

Tuh, dengar baik-baik kata beliau. Kita bisa menciptakan pakar-pakar lewat YouTube. Kamu bisa menjadi pakar hanya bermodal YouTube dan Google—hanya dengan bermodalkan kuota internet!

Jadi, kamu nggak perlu lagi membebani orang tua dengan UKT perguruan tinggi yang mahalnya minta ampun. Atau membeli buku yang harganya kian hari kian melangit. Ingat, kamu hanya butuh seperangkat gadget dan kuota internet—yang sangat murah dan mudah didapatkan.

Bagaimana, sudah siap menjadi pakar? Sudah siap membuat status-status sok pinter bergizi dan penuh ilmu di media sosial? Sudah siap menyelesaikan semua persoalan umat? Sekarang sudah tahu kan caranya? Yap, betul. Kamu sudah nggak memerlukan lagi guru, buku, kampus—yang kamu butuhkan hanyalah kuota internet!

            Soal ketika listrik padam kamu tiba-tiba jadi kebingungan nyari referensi, nggak usah dipikirin!

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2022 oleh

Tags: Kritik SosialMenjadi PakarModal Kuota InternetRevolusi Industri 4.0
Erwin Setia

Erwin Setia

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

ArtikelTerkait

emansipasi

Berbicara Soal Emansipasi Tapi Masih Tanya Alasan Cewek Sekolah Tinggi: Ngana Sehat?

13 Agustus 2019
membalas pesan

Malasnya Berurusan Dengan Orang yang Online Tapi Enggan Membalas Pesan

2 Agustus 2019
maling

Romansa Maling Tak Tertangkap

26 Agustus 2019
ah cuma

Banyak Masalah Dalam Hidup Kita Dimulai Dari Kalimat ‘Ah Cuma’

3 September 2019
pelakor

Sudah Saatnya Berhenti Menggunakan Istilah Pelakor dan Pebinor

20 Juli 2019
toleransi kebahagiaan

Toleransi Terhadap Perbedaan Kadar Kebahagiaan

5 Juni 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.