Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Apa Kemanusian Kita Sebegitu Rendahnya Sampai Musibah Virus Corona Dibisnisin Juga?

Aliurridha oleh Aliurridha
5 Maret 2020
A A
Apa Kemanusian Kita Sebegitu Rendahnya Sampai Musibah Virus Corona Dibisnisin Juga?
Share on FacebookShare on Twitter

Setelah Presiden Jokowi mengumumkan secara langsung bahwa dua orang WNI positif terinveksi virus corona, kepanikan terjadi. Mau menyembunyikan rasa panik, mengatakan kami tidak tidak panik juga tidak akan ada yang percaya. Lihat saja barang-barang di supermarket wilayah Ibukota dan sekitarnya ludes seperti negeri yang sudah mengumumkan untuk berperang. Parahnya masih ada yang mengambil keuntungan dari kepanikan ini.

Reaksi panik warga bisa dimaklumi karena memang secara konseptual virus itu dipahami dalam bingkai perang. Secara kognitif manusia memaknai suatu fenomena baru dengan meminjam ranah pengalamannya. Dalam kasus virus ini manusia mengkonseptualisasikan virus sebagai musuh dalam bingkai perang untuk memahami virus sebagai suatu fenomena baru. Manusia memiliki pengalaman tentang perang bahwa dalam perang di mana ada musuh yang dilawan, ada wilayah yang dilindungi, ada tentara yang berperang, dan ada hasil yang didapatkan.

Pengalaman tentang perang ini secara kognitif mengajari manusia memahami virus sebagai sebagai musuh yang harus dilawan dan tubuh adalah wilayah yang harus dilindungi. Semua ini adalah untuk mendapatkan kemenangan yang berarti manusia selamat dari invansi virus. Sistem kognisi manusia memproses informasi tentang virus dari pengalaman manusia ini yang memunculkan ungkapan-ungkapan linguistik seperti virus menginvansi tubuhnya; sistem imunnya berusaha mempertahankan dan melawan virus; virus itu menang atas sistem imunnya dan ia pun jatuh sakit.

Tidak hanya pada aspek linguistik saja dalam aspek perilaku reaksi kepanikan yang membuat barang-barang di supermarket habis adalah suatu perilaku yang dilakukan manusia dalam situasi perang. Perlengkapan yang dibeli juga adalah segala perlengkapan yang memungkinkan untuk bersembunyi menunggu keadaan kembali normal, bila perlu menghindari untuk bertemu siapa pun. Yap, seperti fans klub yang ketika kalah memutuskan untuk masuk goa. Apa mungkin Cules memanfaatkan situasi panik ini untuk persiapan masuk goa?

Melihat reaksi kepanikan warga yang membeli segala jenis barang-barang dari supermarket setelah diumumkannya dua orang yang positif terinveksi virus sedikit berbarengan dengan kalah telaknya Barcelona oleh musuh bebuyutannya Real Madrid, membuat saya menjadi suudzon. Jangan-jangan mereka memang Cules yang memanfaatkan situasi?

Reaksi panik dari masyarakat memang tidak terhindarkan. Mereka tidak pernah disiapkan untuk situasi ini. Begitu wabah corona menyebar saja elite negeri baik dari kalangan pemerintahan sampai publik figur lebih banyak ngelantur. Dari Menteri Kesehatan yang mengentengin situasi, ustaz yang mengatakan virus corona tentara Allah, akademisi yang mengatakan ruqyah bisa menyembuhkan corona, sampai Wakil Presiden yang mengatakan corona bisa ditanggulangi dengan doa qunut. Jadi jangan salahkan jika masyarakat panikan dan gampang percaya hoaks jika publik figurnya saja seperti itu.

Di saat warganya panik oleh virus corona, Menteri Kesehatan bukannya memberikan panduan jika terjadi outbreak corona di Indonesia malah dengan santai mengatakan, “Kasihan nanti nggak ada apa, coba kamu beli masker berapa?” Memang WHO sudah dengan tegas mengatakan untuk orang yang sehat tidak memerlukan masker tapi harusnya publik figur, apapalgi selevel Menteri Kesehatan bisa menyampaikannya dengan lebih baik bukannya mengentengkan masalah.

Pernah juga Pak Menteri ini ngedumel nyalahin warga yang bikin harga masker naik. Yaelah Bapak Menteri ini sudah tidak memberikan solusi malah ngomel, coba bagikan gratis, kan tidak naik harganya. Lagian masker satu-satunya proteksi yang bisa melindungi dari benda kasat mata di saat negara dengan santainya menggampangkan situasi. Bukannya bersiap-siap menghadapi kondisi terburuk malah santainya mengincer wisatawan mancanegara yang batal mengunjungi China, Korea, dan Jepang. Bahkan sampai menggelontorkan dana 500 juta subsidi untuk diskon tiket pesawat biar Indonesia diserbu wisatawan aseng.

Baca Juga:

Alfamidi Solo Baru Pantas Dinobatkan sebagai Alfamidi Terbaik di Kabupaten Sukoharjo, Inilah Alasannya!

4 Kelebihan Produk Superindo yang Tidak Dikatakan Orang-orang

Dalam kondisi normal ini sih okay saja. Tapi ini ada wabah global yang membuat semua negara menutup diri sampai Arab Saudi menutup pemasukan dari kolom asetnya untuk sementara dari kunjungan umroh. Lah Indonesia justru galak-galaknya ngincer para wisatawan padahal persiapan menghadapi serangan corona paling kurang. Jadi wajar saja kalau ada warga negaranya yang sampai menimbun masker yang sebelumnya hanya seharga 30 ribu kemudian menjualnya dengan seharga 350 ribu. Wong pemerintahnya saja masih coba-coba nyari profit di tengah siutasi menghimpit.

Saya sih maklum kalau bisnis itu mensyaratkan untuk kejelian melihat peluang dalam segala masalah. Tapi ya nggak gitu juga, Bambang. Masa semua-semua mau dibuat bisnis sampai hal yang menyangkut nyawa juga mau dibisnisin. Kalau sampai wabah ini menyebar secara luas yang rugi ya kita-kita juga. Kalau sampai gara-gara kurang duit ada warga yang mungkin terinveksi corona tidak mau beli masker yang rugi ya kita semua. Nggak penguasa, nggak rakyat jelata orientasinya kok profit terus. Apakah sisi kemanusiaan kita sudah seluntur itu sampai musibah juga dibisnisin? Hah?

BACA JUGA Saya Tinggal di Depok, Khawatir Virus Corona, Tapi Saya Tidak Sebar Hoax dan Borong Masker atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2020 oleh

Tags: maskermenteri kesehatansupermarketvirus corona
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

virus corona masker sampah kesehatan bekas pakai operasi masker mojok.co

Saya Tinggal di Depok, Khawatir Virus Corona, Tapi Saya Tidak Sebar Hoax dan Borong Masker

3 Maret 2020
7 Produk Mustika Ratu yang Bagus untuk Perawatan Diri di Rumah Terminal Mojok

7 Produk Mustika Ratu yang Bagus untuk Perawatan Diri di Rumah

17 September 2022
Lockdown Mandiri di Desa Bikin Sadar kalau Cuma Ketua RT yang Bisa Nyelametin Kita

Lockdown Mandiri di Desa Bikin Sadar kalau Cuma Ketua RT yang Bisa Nyelametin Kita

30 Maret 2020
social distancing

Paradoks Social Distancing buat Pelaku UMKM yang Terpaksa Mecat Pekerjanya

26 Maret 2020
spoiler aot MAPPA terpesona Mengulik Persamaan Menkes Budi Gunadi dan Reiner Braun dari Attack on Titan  terminal mojok.co

Mengulik Persamaan Menkes Budi Gunadi dan Reiner Braun dari Attack on Titan 

26 Desember 2020
Prestasi DPR Selain Mempersatukan Avatar Korea dan Avatar Anime terminal mojok.co

Dibanding Tenaga Kesehatan, Emang Anggota DPR Udah Ngapain Kok Minta Diprioritasin?

24 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

Growol, Makanan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Dipikirkan Dua Kali kalau Mau Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung
  • Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja
  • Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA
  • Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah
  • Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional
  • Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.