Mengulik Persamaan Menkes Budi Gunadi dan Reiner Braun dari Attack on Titan  – Terminal Mojok

Mengulik Persamaan Menkes Budi Gunadi dan Reiner Braun dari Attack on Titan 

Artikel

Prima Ardiansah Surya

Hal ini tidak mungkin terjadi! Pemilihan Bapak Budi Gunadi sebagai menteri kesehatan ini benar-benar di luar perkiraan sebagian besar masyarakat. Utamanya para dokter-dokter. Jelas mirip dengan Reiner Braun dalam anime Attack on Titan, yang awalnya tidak dipercaya menjadi kandidat pewaris Titan Berzirah! 

Bagaimana tidak? Sepanjang sejarah bangsa ini, tercatat hanya dokter yang dipercaya mengemban tugas menjadi menteri kesehatan. Coba lihat Wikipedia dan googling satu-satu nama menkes di sana. Mulai dari dokter Boentaran Martoatmodjo yang menjabat di awal negara ini berdiri, sampai dokter Terawan Agus Putranto yang didepak kemarin.

Mirip seperti Reiner. Sudah menjadi aturan dalam semua seleksi, kalau pemenang adalah dia yang terbaik. Apalagi pewaris titan, dia harus cerdas, berbadan kuat, dan bermental baja. Lha, tugasnya bakal ditempatkan ke medan perang kok, nggak ada kata abal-abal, dong. 

Episode terbaru Attack on Titan secara lugas mengungkapkan kalau Reiner Braun ini bukanlah prajurit yang pantas. Bahkan, dari ketujuh calon yang akan diangkat menjadi titan, hanya ada enam kursi, dengan kata lain, bakal ada salah satu yang harus berpuas diri menjadi manusia biasa. 

Nah, Reiner Braun adalah karakter yang paling tidak kompeten. Satu satunya kelebihan hanyalah loyalitasnya kepada negara yang dia tulis habis-habisan waktu ujian. Ya gimana lagi, banyak soal yang nggak terjawab kok, ya itu saja yang bisa dilakukan.   

Kembali ke Pak Budi Gunadi, supaya Anda semua tahu, ketika berembus kabar bahwa beliau bakal jadi menteri, grup-grup WA isinya orang yang ramai berdebat. Intinya, mana mungkin seseorang yang bukan dokter mampu mengemban amanah sebagai menteri kesehatan? Bapak Terawan yang seorang dokter sekaligus pemilik senyum cengar-cengir penutup semua cibiran itu saja kewalahan, lho. Apalagi ini yang sekolahnya sama sekali tidak ada hubungan sama sekali sama bidang kesehatan. Ah, mampus, ah. 

Sebagai seorang dokter muda yang belum juga diluluskan, saya sangat paham mengapa senior saya nyinyir dan ngeyel supaya menteri kesehatan harus dokter. Kalau mau jawaban kasar, ya memang calon dokter itu sekolah supaya paham seluk beluk kesehatan dari mulai pencegahan sampai pengobatan. Semuanya sistematis, lengkap, dan selalu update.

Saking lengkapnya, otak saya yang kapasitasnya terbatas ini harus banyak mengulang di beberapa mata kuliah. Seluk beluk kesehatan yang seperti hutan belantara ini juga dibuktikan dengan waktu studi kami yang panjang. Lima setengah tahun untuk memperoleh gelar dokter, belum lagi internship yang harus selesai supaya kami bisa praktik. 

Makanya senior saya mencak-mencak karena zaman dulu pendidikannya jelas lebih keras dan makan waktu lebih lama. Memangnya seorang yang kuliah di jurusan Fisika Nuklir, lalu menjadi bankir, diakhiri jadi Wamen BUMN, bisa memahami kompleksitas kesehatan bangsa ini? 

Ketidakpercayaan para dokter kepada Pak Budi Gunadi ini selaras dengan ketidakpercayaan teman-teman Reiner. Utamanya salah satu teman yang bernama Marcel. Reiner dianggap hanya akan menjadi prajurit yang gagal. Memangnya ada yang akan terpilih dengan modal loyal?

Tetapi semua terjawab ketika pengumuman. Reiner terpilih menjadi pewaris Titan Berzirah, paralel dengan Bapak Budi Gunadi yang terpilih menjadi menteri kesehatan. Nasib senior saya dan Marcel benar selaras. Mereka melongo, tidak percaya. 

Tetapi, bagaimanapun mereka bingung sampai keluar asap dari kuping, keputusan tetap ada di tangan atasan, bukan di tangan para dokter, ataupun tangan teman Reiner. Lebih lengkapnya di tangan Pak Jokowi, presiden kami yang sangat kami cintai, banggakan, akibat semua omongannya yang masuk akal.

Nahasnya, mereka berdua ini mendapat tugas yang amat berat. Bapak Budi Gunadi harus mengentaskan negara kita dari pandemi Covid-19 dan Reiner harus merebut Titan Koordinat yang ada di Pulau Paradis. Ah, sebuah tugas yang untuk membayangkannya saja bisa-bisa otakku berubah jadi bubur. 

Saya cukup heran. Bapak Terawan saja, seorang dokter yang telah ditempa bertahun-tahun menajamkan intuisinya demi kesembuhan orang-orang, dibuat tidak berdaya sama Covid-19. Saya jelas positif thinking bahwa Pak Terawan ini telah mengeluarkan semua isi otaknya yang dipupuk sejak zaman kuliah, dibantu oleh para ahli-ahli di bidang penyakit menular, sekalian ditopang oleh semua koneksinya. Pak Terawan ini tentu tak kurang-kurang berpikir untuk melibas Covid-19. 

Tetapi, nyatanya? Pak Terawan masih kewalahan. Apalagi dengan Bapak Budi Gunadi ini. Aduh, awas nanti aksinya sama kayak Pak Nadiem dulu. Masih inget toh, beliau bilang kalau seratus hari pertamanya akan digunakan untuk duduk dan mendengarkan para senior dan mentor untuk belajar ilmu dan memahami apa yang harus dibenahi. 

Kalau Pak Budi nanti kayak gini, alamat habis kita dimakan korona. Ini juga membuktikan kalau Pak Jokowi sukanya memang pilih menteri yang suka belajar. Ujiannya pun langsung kasus nyata di depan mata. Gambaran sosok pemimpin sekaligus guru yang trengginas.

Lalu, bagaimana dengan Reiner? Tugasnya jelas lebih berat daripada Pak Budi Gunadi. Dia harus merebut Titan Koordinat dari pihak musuh. Masalahnya pihak musuh ini sudah bersembunyi sejak seratus tahun yang lalu sehingga informasinya hanya seputar spekulasi-spekulasi. Apalagi, sosok Titan Koordinat ini terlindung oleh dinding yang tidak pernah tertembus juga selama seratus tahun kebelakang. 

Sudahkah Reiner mencoba? Sudah, Reiner telah sukses menembus dinding dan aksinya sebagai mata-mata sukses besar di tahun-tahun pertamanya. Namun akhirnya, dia harus berpuas diri untuk pulang ke kampung halaman tanpa membawa Titan Koordinat, bahkan harus kehilangan ketiga teman seperjuangannya, tragis. Untung saja dia tidak pulang dengan tangan kosong. Informasi mengenai siapa pewaris Titan Koordinat dan seluk beluk kekuatan di dalam dinding, dia jelas menguasainya.

Ah, tidak sabar saya menanti kelanjutan Attack on Titan, sama seperti saya yang tidak sabar menanti kelanjutan kesehatan Indonesia di tangan Bapak Budi Gunadi. Hajar terus Pak, Reiner saja bisa, masa Bapak nggak!

BACA JUGA Ngopi di Tempat Remang Adalah Salah Satu Bentuk Pendewasaan Diri dan tulisan Prima Ardiansah Surya lainnya.

Baca Juga:  Alasan Kenapa Perempuan Nggak Perlu Lagi Ngumpetin Pembalut
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
16


Komentar

Comments are closed.