Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Mencoba Berdialog dengan Para Pengusung Khilafah

Rohmatul Izad oleh Rohmatul Izad
8 Desember 2019
A A
Mencoba Berdialog dengan Para Pengusung Khilafah
Share on FacebookShare on Twitter

Kita yang merasa sangat cinta tanah air atas nama nasionalisme dan kebangsaan, boleh jadi sudah terbiasa membaca ide-ide besar yang ingin diwujudkan dalam skenario pendirian negara Islam berbasis syariah. Sebab literatur tentang tema khilafah memang sudah sedemikian membludak, bahkan hampir semua orang membicarakannya. Bila dipikir-pikir, pernahkah kita mencoba untuk berdialog langsung dengan para pengusung khilafah itu? Sekadar ingin mendengar tentang bagaimana mekanisme dalam mewujudkan negara Islam di Indonesia ini.

Ingatan kita tentang ideologi khilafah mungkin hanya terpusat di HTI, karena organisasi inilah yang paling getol dan lantang dalam menyuarakan aspirasi politik berbasis negara Islam. Meski mereka sudah bubar dan entah gerakan macam apa yang ingin mereka lakukan pasca dibubarkannya HTI, yang jelas, banyak orang sekarang ini yang justru terpusat pada gagasan khilafah ala FPI, yang menurut saya baru terdengar lantaran pemerintahan Jokowi belum juga memperpanjang izin ormas yang diduga juga mengusung sistem khilafah ini.

Saya sendiri tidak terlalu mengetahui apa saja materi yang tercantum dalam anggaran dasar/rumah tangga di tubuh ormas FPI ini. Banyak orang yang ternyata juga baru tahu bahwa FPI, dalam anggaran dasarnya, mencantumkan sebuah gagasan khilafah yang menurut pemerintah perlu dikoreksi agar ormas ini bisa diperpanjang izinnya.

Pertanyaannya, bila memang FPI secara terang dan jelas mengusung sebuah sistem khilafah, betapa pun berbeda dengan HTI, tapi kenapa baru dipersoalkan sekarang? Mengapa dulu-dulu tidak pernah ada persinggungan yang membahas materi dari anggaran dasar dari ormas tersebut? Apakah orang-orang yang berwenang mengurusi perpanjangan ormas ini dari tahun ke tahun telah lalai? Atau memang gagasan khilafah FPI tidak cukup berbahaya bagi eksistensi NKRI.

Yang jelas, wacana kekhilafahan di tubuh FPI baru diwacanakan lantaran pemerintah sudah terlebih dahulu membubarkan HTI, dan di sisi lain juga sedang gencar-gencarnya membasmi penyakit agama yang disebut radikalisme-terorisme. Meski cara pembasmiannya pun masih menjadi polemik di kalangan masyarakat, tapi intinya pemerintah sedang ingin bersih-bersih soal konservatisme dalam agama.

Menarik disimak dari Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Pancasila, Megawati Sukarnoputri, bahkan beliau menantang para pengusung khilafah untuk datang ke Fraksi PDIP di Dewan Perwakilan Rakyat. “Kami Fraksi PDI Perjuangan itu membuka diri, mari datang ke fraksi kami”, ungkap Megawati dalam Presidential Lecture Internalisasi dan Pembinaan Pancasila di Istana Negara, Jakarta, Desember 2019.

Bagi saya, mungkin juga kita semua, apa yang disampaikan oleh Bu Mega itu cukup memberi angin segar atas kegelisahan banyak orang tentang eksistensi para pengusung ide khilafah itu. Bahwa tidak cukup bagi kita untuk sekadar mempelajari dan menentang ide-ide mereka atas nama NKRI dan Pancasila, kita butuh mendengar langsung apa yang sesungguhnya diinginkan oleh para pengusung khilafah itu.

Lebih jelas lagi, kita perlu mendengar dan menanyakan secara langsung kepada mereka tentang siapa yang akan menjadi khalifah bila sistem negara Islam diterapkan di Indonesia? Bagaimana pula mekanisme menjalankan hukum-hukum agama dalam suatu negara, apakah seluruh konstitusi negara ini harus diganti atau bagaimana? Sebab, sistem khilafah adalah sebuah nation tanpa border (negara tanpa batas), lalu bagaimana cara memilih khilafah?

Baca Juga:

Isu Ijazah Jokowi Palsu Adalah Isu Goblok, Amat Tidak Penting, dan Menghina Kecerdasan, Lebih Baik Nggak Usah Digubris!

Rumah Pribadi Jokowi di Solo Memang Cocok Jadi Destinasi Wisata Baru

Dalam Pasal 6 AD/ART FPI ditulis bahwa visi dan misi FPI adalah penerapan syariat Islam secara kafah (menyeluruh) di bawah naungan khilafah Islamiah menurut manhaj nubuwwah, melalui pelaksanaan dakwah, penegakkan hisbah, dan pengamalan jihad.

Menurut Ketua Dewan Pengurus Pusat FPI, Ahmad Sobri Lubis, maksud dari pasal di atas adalah mensinergikan hubungan kerja sama semua negara Islam khususnya anggota OKI, untuk menghilangkan semua sekat yang ada di antara negara-negara tersebut. Seperti Arab Saudi, Mesir, Turki, Yaman, Pakistan, Malaysia, Brunei, dan sebagainya.

Dalam acara diskusi Indonesia Lawyers Club di TVOne, Selasa malam, 3 Desember, Lubis juga menjelaskan lagi pengertian khilafah Islamiyah yang diperjuangkan oleh FPI. Menurutnya, penerapannya adalah membangun kerja sama untuk persatuan dunia Islam. Contohnya adalah dengan adanya pembangunan parlemen bersama dunia Islam, penyatuan mata uang dunia Islam, menghilangkan atau menghapus sekat-sekat antara wilayah seperti visa.

FPI juga ingin memperjuangkan adanya kesatuan militer bersama negara-negara Islam dan menggelar atau mengadakan seperti satelit penyatuan dunia Islam. Di samping itu, konsep jihad yang ingin digalakkan oleh FPI adalah jihad konstitusional. Artinya berjuang semampu mungkin dalam menerapkan nilai-nilai syariat ke dalam undang-undang sebagaimana kelompok-kelompok lain juga memperjuangkannya.

Bila yang ingin diperjuangkan FPI adalah pendirian khilafah sebagaimana di atas, memangnya negara-negara lain mau berkompromi dengan penyatuan negara Islam? Bila mau, lantas di mana pusat sistem kehilafahan itu? Saya sendiri pesimis bila negara-negara lain mau membangun sistem sebagaimana yang ditawarkan FPI.

Terlepas dari semua itu, yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah, upaya dialog langsung antara pemerintah dengan para pengusung khilafah itu. Bila dimungkinkan, akan lebih baik bila pemerintah mau membangun dialog langsung dengan mereka. Bukan bermaksud memberi kesempatan kepada mereka tentang bagaimana mewujudkan negara Islam, tapi lebih sebagai upaya bersama untuk menjembatani kesenjangan dan ketidaksepahaman pemikiran antara kedua belah pihak.

Kekuatan ideologi memang harus dilawan dengan ideologi pula, tapi bila dua kekuatan itu saling berbenturan terus-menerus tanpa menemukan titik temu yang jelas, akibatnya adalah konflik dan bisa-bisa terjadi chaos di masyarakat. Benturan ideologi dalam konteks jangka panjang juga termasuk sesuatu yang berbahaya.

Untuk itu, perlu adanya ruang dialog yang sehat dan kondusif untuk mempertemukan dua gagasan besar yang saling berlawanan. Salah satu caranya, pemerintah yang saat ini berkuasa memberi fasilitas atas agenda pertemuan itu. Mendengarkan dan berdialog langsung merupakan salah satu cara yang bisa dikatakan akan mampu mencairkan polemik berkepanjangan ini.

Kita harus sadar bahwa berbagai ide khilafah yang diusung oleh banyak kelompok Islam, baik yang ada di Indonesia maupun yang berskala internasional, bukan murni lahir secara internal di tubuh umat Islam sendiri. Para pengusung khilafah menganggap negara-negara dengan sistem politik modern, seperti sekuler dan demokrasi, banyak gagal dalam membangun negara yang adil dan makmur.

Atas dasar itu, muncul solusi Islam yang mereka anggap mampu menjembatani ketidakadilan dan ketimpangan sosial akibat ketidakbecusan sistem negara modern dalam mengatur rakyat dan membangun tatanan sosial yang adil.

Sistem negara modern, sebagaimana juga yang dianut di Indonesia, memang tidak bertanggung jawab atas lahirnya gagasan khilafah. Tapi paling tidak negara perlu mendengar langsung kegelisahan mereka, mencoba memahami keinginan-keinginan mereka, dan selanjutnya mencari solusi bersama atas berbagai masalah yang terjadi. Dengan begitu, hemat saya, akan memudahkan bagi kedua belah pihak untuk saling memahami dan memberi pengertian.

BACA JUGA Membubarkan Banser dan Pembubaran FPI: Serius? atau tulisan Rohmatul Izad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Desember 2019 oleh

Tags: FPIHTIJokowikhilafahMegawati
Rohmatul Izad

Rohmatul Izad

Dosen Filsafat di IAIN Ponorogo.

ArtikelTerkait

Pak Jokowi, Tolong Bikin Kunjungan ke Magelang pada Malam Hari!

Pak Jokowi, Tolong Bikin Kunjungan ke Magelang pada Malam Hari!

5 Mei 2023
Rumah Pribadi Jokowi di Solo Memang Cocok Jadi Destinasi Wisata Baru Mojok.co

Rumah Pribadi Jokowi di Solo Memang Cocok Jadi Destinasi Wisata Baru

6 April 2025
Jokowi Sebaiknya Turun Mendamaikan Babarsari, ketimbang Ngurusin Putin yang Ngeyelan

Jokowi Sebaiknya Turun Mendamaikan Babarsari, ketimbang Ngurusin Putin yang Ngeyelan

5 Juli 2022
Pengambil Alihan TMII dari Yayasan Harapan Kita Adalah Tindakan Pemerintah Paling Gegabah terminal mojok.co

Pengambil Alihan TMII dari Yayasan Harapan Kita Adalah Tindakan Pemerintah Paling Gegabah

9 April 2021
Mitos Seram di Gunungkidul selain Pulung Gantung Terminal Mojok

Pengalaman KKN di Gunungkidul: Warung Tutup Jam 7 Malam dan Menyaksikan Kemenangan Jokowi di Desa Pro Prabowo

4 Agustus 2023
Saya Menyesal Memilih Jokowi

Saya Menyesal Memilih Jokowi

5 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar Mojok.co

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar

26 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

6 Kebiasaan Warga Solo yang Awalnya Saya Kira Aneh, tapi Lama-lama Saya Ikuti Juga

27 Januari 2026
Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

29 Januari 2026
Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep MOjok.co

Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep

30 Januari 2026
Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

28 Januari 2026
8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Mengecewakan Pembeli (Danangtrihartanto - Wikimedia Commons)

8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Sering Disepelekan Penjual dan Mengecewakan Pembeli

30 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.