Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Hasil Adu Antara Kopi Gadjah vs Kopi Kapal Api, Mana yang Lebih Unggul?

Dhimas Raditya Lustiono oleh Dhimas Raditya Lustiono
4 Mei 2021
A A
Hasil Adu Antara Kopi Gadjah vs Kopi Kapal Api, Mana yang Lebih Unggul_ terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Pandemi Covid-19 telah membuat beberapa pencinta kopi mengurangi intensitasnya untuk ngopi di kafe yang menyediakan kopi single origin dengan berbagai metode seduhan. Alasannya jelas kondisi pandemi memaksa dompet berubah menjadi mode hemat. Oleh karena itu, kopi saset menjadi salah satu alternatif ngopi yang hemat dan bersahaja.

Untuk urusan ngopi saset, ada salah satu pendatang baru di dunia kopi hitam yang iklannya cukup menarik bagi saya, di mana salah seorang aktor laga Yayan Ruhian didaulat menjadi bintang iklan kopi tubruk tersebut. Kopi pendatang baru yang saya maksud adalah Kopi Gadjah.

Saya pun menerka-nerka, apakah kopi ini akan lebih enak dari Kopi Kapal Api yang sudah telanjur menjadi default bagi bapak-bapak praktisi ronda?

Demi menjawab rasa penasaran, saya memutuskan untuk mencoba mengadu kedua kopi tersebut, Kopi Gadjah vs Kopi Kapal Api. Oh ya, tulisan ini tidak bertujuan untuk memunculkan polarisasi antara tim Gadjah dan tim Kapal Api, karena dalam hal selera, kualitas bukanlah yang utama.

Setidaknya, saya memiliki alasan untuk mengadu kedua kopi saset yang kini mudah ditemui di supermarket, minimarket, hingga warung kelontong tersebut.

Pertama, kedua kopi saset tersebut memiliki harga yang sama. FYI, saya beli di warung tetangga, bukan di minimarket. Kedua, karena bintang iklannya sama-sama aktor laga, di mana Kopi Gadjah menjadikan Yayan Ruhian alias Mad Dog sebagai bintang iklannya, sedangkan Kopi Kapal Api pernah menjadikan Iko Uwais sebagai bintang iklannya. Kedua aktor tersebut sama-sama jago berkelahi dan jago dalam melawan banyak orang. #HalahLogikaMacamApaIni.

Baiklah, langsung saja saya sampaikan hasil adu kopi antara Kopi Gadjah vs Kopi Kapal Api yang telah saya lakukan, cekitout.

#1 Tagline

Kopi Gadjah memiliki tagline “Tubrukers, yuk ngopi Gadjah”. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa produk Kopi Gadjah menyasar penikmat kopi hitam tubruk. Tubruk sendiri dalam bahasa Jawa memiliki arti tabrak, di mana metode ini sudah menjadi metode seduh ala Indonesia sebelum film Filosofi Kopi merangsang warga +62 untuk ngopi ala-ala.

Baca Juga:

Ketika Americano Dianggap Lebih Maskulin ketimbang Es Kopi Susu

Pengalaman Mencoba Coffee Gold Indomaret: Enak, Murah, tapi Bingung karena Kasir Indomaret Merangkap Baristanya

Tagline ini rupanya memiliki tujuan untuk mempertahankan tradisi kopi tubruk di Indonesia yang saat ini tengah digempur berbagai kopi kekinian.

Sementara Kopi Kapal Api memiliki tagline “Jelas lebih enak”. Tagline tersebut sungguh menembus alam bawah sadar konsumen, apalagi jika dibaca sambil nyanyi.

Saya pernah menyaksikan bukti kesuksesan dari tagline ini, di mana kala itu ada tukang di rumah saya yang meminta dibuatkan kopi hitam. Kebetulan saat itu saya hanya memiliki kopi Arabica Sumbing (sejenis single origin lah). Setelah kopi autentik tersebut disuguhkan, ternyata si tukang protes seraya berkata, “Nggak cocok”. Alhasil si tukang malah memberikan Kopi Kapal Api ke Bibi saya.

Dua jam kemudian, saya melihat gelas berisi Kopi Kapal Api hanya menyisakan ampas, sedangkan kopi Arabica Sumbing masih menyisakan 75% dari ukuran gelas.

Oke, fix. Tagline “Jelas lebih enak” telah menjadi bukti bahwa tagline atau slogan suatu produk lebih penting daripada kualitas.

#2 Aroma

Kopi Gadjah menawarkan aroma yang kuat dan tebal. Tanpa bermaksud berlebihan, aroma yang ditawarkan Kopi Gadjah memang mendekati kopi autentik. Bubuk kopi yang digiling sangat halus menjadikan aroma kopinya menguar maksimal.

Sementara Kopi Kapal Api menawarkan aroma yang lebih soft. Meski tidak sekuat Kopi Gadjah, aroma yang keluar dari bubuk kopinya memang menggoda.

#3 Turunnya ampas

Mengendapnya ampas merupakan momen di mana kopi siap untuk disesap. Setidaknya kopi tubruk bisa disesap dengan keniqmatan paripurna saat 70% ampasnya mengendap. Hal ini dikarenakan adanya degradasi suhu dan ampas yang tidak membuat lidah terganggu oleh residu pahit dari bubuk kopi.

Untuk mengetahui waktu turunnya ampas, saya aktifkan stopwatch pada gawai saya.

Kopi Gadjah membutuhkan waktu 12 menit 7 detik sampai ampasnya turun sebanyak 70%. Penghitungan ini dimulai setelah saya mengaduk dengan pola angka 8 sebanyak 10 adukan.

Sedangkan Kopi Kapal Api membutuhkan waktu 10 menit 20 detik sampai ampasnya turun sebanyak 70%. Penghitungan waktu dimulai setelah saya mengaduk dengan penerapan yang sama dengan Kopi Gadjah, 10 adukan dengan pola angka 8.

#4 Rasa

Ini adalah hal yang paling penting untuk diuji, karena kata bapaknya Malika, rasa tidak bisa bohong. FYI, penyesapan dimulai ketika stop watch menunjukkan menit ke-13.

Kopi Gadjah menghasilkan rasa yang strong. Ibarat musik, kopi ini memiliki genre rock progressive. Soal rasa, kopi ini mengarah pada kopi tubruk klasik ala Indonesia, di mana bubuk kopi yang dihasilkan adalah kopi yang sudah di­-roasting secara fine roast, lalu ditumbuk sampai halus dan diayaki untuk mendapatkan bubuk kopi yang paling halus. FYI, semakin halus bubuk kopi, maka semakin strong pula rasa yang dihasilkan.

Jika ada yang bilang “kopimu kurang kenthel”, maka Kopi Gadjah bisa menjadi salah satu alternatif untuk menjalani ritual cangkir alias ngancang pikir.

Sehingga Kopi Gadjah cocok dinikmati saat kita terlibat obrolan tentang hal-hal yang agak berat, seperti pelarangan mudik tapi dibukanya tempat wisata atau soal impor garam padahal negeri kita memiliki laut yang luas.

Sementara untuk Kopi Kapal Api, rasa yang dihasilkan memang tidak se­-strong Kopi Gadjah. Namun setelah beberapa sesapan, saya merasakan ada rasa asam yang benar-benar nge-blend dengan body dari kopi berlogo kapal tersebut. Menurut saya hal inilah yang menjadi nilai plus dari Kopi Kapal Api, di mana rasa asam yang muncul menjadikan kopi ini sesuai dengan tagline-nya “jelas lebih enak”.

Menikmati kopi ini sangat cocok dinikmati pada waktu yang terbatas, seperti momen sarapan pagi atau break makan siang. Hal ini dikarenakan turunnya ampas yang lebih cepat dan rasa yang dihasilkan tidak terlalu berat.

Jadi, mana yang lebih unggul? Kopi Gadjah yang diendorse Yayan Ruhian a.k.a Mad Dog atau Kopi Kapal Api yang diendorse Iko Uwais?

Saya mencoba menilai seobjektif mungkin di mana kedua kopi saset tersebut memunculkan karakter yang sama-sama kuat. Sehingga membandingkan kedua kopi tersebut sama saja seperti membandingkan Via Valen dengan Nella Kharisma, Sera dengan Monata, atau Nmax dengan PCX.

Mengadu Kopi Gadjah vs Kopi Kapal Api sama halnya kita mengadu Iko Uwais dan Yayan Ruhian. Meski keduanya sama-sama jago berkelahi tanpa senjata, namun pemenangnya tetap ditentukan oleh script writer dan sutradara.

BACA JUGA Rekomendasi Berbagai Merek Teh dan Situasi yang Cocok untuk Menikmatinya atau tulisan Dhimas Raditya Lustiono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Mei 2021 oleh

Tags: KopiKopi Gadjahkopi kapal apikopi sasetkopi tubruk
Dhimas Raditya Lustiono

Dhimas Raditya Lustiono

Membawa keahlian komunikasi dari dunia penyiaran ke dalam ruang perawatan. Sebagai mantan penyiar radio yang kini menjadi perawat,

ArtikelTerkait

Good Day Freeze, Kopi Saset Terbaik yang Pernah Ada. Pendekar Kopi Nggak akan Tahu Rasanya

Good Day Freeze, Kopi Saset Terbaik yang Pernah Ada. Pendekar Kopi Nggak akan Tahu Rasanya

20 November 2023
Membaca Kepribadian Seseorang dari Seduhan Kopi Favoritnya

Membaca Kepribadian Seseorang dari Seduhan Kopi Favoritnya

10 April 2020
Hanya Karena Rumah Saya Dekat Pabrik Gudang Garam, Bukan Berarti Harga Gudang Garam Surya Jadi Lebih Murah, Lur! jawa timur

Gudang Garam Surya Akan Selalu Jadi Rokok Nomor 1 di Jawa Timur

12 Oktober 2023
Minum Kopi Itu Biasa Saja, Nggak Usah Dibikin Ribet dan Diromantisasi kopi artisan kopi senja barista kasta minum kopi terminal mojok.co

Minum Kopi Itu Biasa Saja, Nggak Usah Dibikin Ribet dan Diromantisasi

6 September 2020
Kopitiam Itu Warung Kopi, tapi yang Laris Manis Justru Makanannya Mojok.co

Kopitiam Itu Warung Kopi, tapi yang Laris Manis Justru Makanannya

6 November 2023
metalhead waiter tiran kopi biji kopi mojok

Ketakutan Tiran pada Secangkir Kopi: Dari Sumber Revolusi Sampai Minuman Satanis

18 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi ruang publik yang lebih hidup  Mojok.co

4 hal lazim di Jogja yang masih asing di Tulungagung, tapi perlu dicontoh demi jadi daerah lebih hidup 

17 Juli 2026
Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan Mojok.co kurir paket

Lika-liku kurir saat mengantar paket COD ke desa, kadang jadi pahlawan, seringnya jadi pesakitan

16 Juli 2026
Motor matic itu kutukan yang selalu rusak kalau saya punya uang (Unsplash)

Saya curiga, motor matic punya indra penciuman terhadap saldo rekening karena selalu rusak ketika saya punya uang

16 Juli 2026
4 Tempat Bersejarah di Surabaya Barat yang Bisa Dikunjungi biar Nggak Melulu ke Mal

Surabaya Barat: kota dalam kota yang bikin warga aslinya jadi tamu

17 Juli 2026
Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial yang kerap terlewatkan Terminal

Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial, tapi kerap terlewatkan

12 Juli 2026
Pengalaman Tinggal di Ngaglik Sleman Tak Melulu Enak seperti Kata Orang Mojok.co

Sleman semakin mahal, tetapi narasi kota mahasiswa murah tetap dipelihara

15 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.