Kulon Progo memang sedang naik daun sebagai destinasi wisata. Alamnya cantik, jalannya mulai rapi, dan branding-nya pelan-pelan naik kelas. Tapi, soal oleh-oleh, ada satu masalah klasik yang jarang dibahas secara jujur: banyak camilan khasnya tidak didesain untuk dibawa pulang. Bukan soal rasa saja, tapi soal tekstur, daya tahan, bahkan konsep makanannya sendiri.
Ironisnya, justru yang sering direkomendasikan sebagai “oleh-oleh khas” itu sering jadi jebakan bagi wisatawan. Kelihatannya unik, tapi begitu sampai rumah, rasanya berubah. Teksturnya hancur dan jadi tidak layak dimakan.
#1 Geblek yang cepat jadi karet tidak cocok jadi oleh-oleh Kulon Progo
Geblek adalah ikon Kulon Progo. Terbuat dari tepung tapioka yang digoreng. Bentuknya khas seperti angka delapan. Rasanya gurih, teksturnya unik. Banyak orang salah kaprah membawanya sebagai oleh-oleh.
Muncul masalah yang sederhana. Makanan ini hanya enak saat panas. Begitu dingin, teksturnya berubah drastis jadi keras dan alot. Ini camilan yang harus dimakan di tempat.
Sebagai oleh-oleh? Hampir tidak masuk akal. Perjalanan 1–2 jam saja sudah cukup untuk merusak pengalaman makan. Teksturnya cepat berubah dan berminyak saat dingin
#2 Cetot, camilan Kulon Progo yang tidak awet
Cetot adalah camilan dari singkong. Makanan ini bertekstur kenyal. Biasanya ditaburi kelapa parut. Rasanya manis dan tradisional.
Masalahnya bahkan sudah diakui sendiri. Makanan ini tidak tahan lama. Ini bukan oleh-oleh. Ini makanan yang harus dimakan saat itu juga. Membawanya pulang sama saja seperti membeli masalah.
#3 Growol yang secara konsep sudah bermasalah
Growol sering disebut sebagai warisan pangan alternatif berbahan singkong. Tapi masalahnya bukan pada sejarahnya. Namun, pada pengalaman makannya.
Growol dibuat dari singkong yang difermentasi selama beberapa hari. Hasilnya adalah tekstur padat, rasa hambar, dan sedikit asam. Aromanya pun mendekati bau singkong busuk. Sebagai oleh-oleh, ini jelas redflag.
Growol bukan camilan ringan. Growol adalah makanan berat. Gorowol itu tidak praktis dan tidak fleksibel. Growol tidak cocok jadi buah tangan. Membawa growol sebagai oleh-oleh itu seperti membawa nasi dingin ke rumah orang. Orang yang menerimanya pun bingung harus menikmatinya dengan cara apa.
#4 Srontol yang musiman dan rentan basi jelas tak cocok jadi oleh-oleh
Srontol atau binggel adalah camilan berbasis singkong. Makanan ini populer saat Ramadan. Srontol itu berbasis singkong basah. Sehingga, makanan ini mudah basi. Ini bukan oleh-oleh. Ini camilan situasional yang dipaksakan jadi komoditas.
#5 Tempe benguk yang pahit dan tidak familiar kurang aman dijadikan oleh-oleh Kulon Progo
Tempe benguk atau besengek dibuat dari kacang koro. Rasanya berbeda jauh dari tempe biasa. Rasanya cenderung pahit, teksturnya kasar, dan aromanya kuat. Ini makanan yang sangat kontekstual. Tidak semua orang bisa menerima rasanya, termasuk orang lokalnya.
Untuk orang luar daerah, ini bukan sekadar unik. Ini justru menjadi makanan yang membingungkan. Bahkan, cenderung ditolak lidah karena aneh. Masalahnya bukan di keunikan, tapi di adaptasi rasa.
#6 Peyek Belalang, camilan ekstem yang belum tentu semua orang doyan
Kulon Progo sempat terkenal dengan belalang goreng sebagai makanan ekstrem. Masalahnya, ketika belalang dijadikan peyek kemasan, yang terjadi bukan kuliner autentik. Peyek belalang pun menjadi gimmick murahan.
Tekstur peyeknya sering melempem. Belalangnya kering seperti serpihan kayu. Rasanya didominasi minyak serta tepung. Tidak ada yang spesial selain pemakaian belalang.
Camilan ini juga tidak ada keseimbangan rasa dan kenikmatan. Yang ada hanya sensasi “aneh” yang dijual mahal. Justru, bisa berpotensi juga menyebabkan sakit kalau cara pengolahannya salah.
#7 Kerupuk kulit singkong yang berminyak dan bau sebaiknya dipikir ulang sebagai oleh-oleh Kulon Progo
Kerupuk berbahan singkong memang umum. Namun, di Kulon Progo justru memakai kulit singkongnya. Secara konsep, sudah unik dan menarik. Namun pada tahap pelaksanaan, bisa dibilang gagal. Masalah utamanya ada di proses pengolahan yang tidak bersih.
Hasilnya, kerupuk berbau apek, berminyak berlebihan, dan tidak renyah sempurna. Bahkan, ada yang meninggalkan rasa pahit di akhir. Kerupuk seharusnya ringan dan nagih. Kalau malah bikin eneg setelah dua gigitan, itu tanda jelas untuk tidak dibeli.
#8 Gula semut yang kehilangan identitas
Gula semut adalah gula aren. Berbentuk butiran seperti gula pasir. Gula semut sering dijual sebagai produk unggulan bahkan ekspor. Masalahnya bukan kualitas, tapi keunikan.
Produk ini sudah terlalu umum. Dengan kata lain, bisa ditemukan di mana-mana. Sebagai oleh-oleh khas, ia gagal total. Hal ini karena tidak ada pengalaman khas yang membuatnya layak dibawa jauh-jauh.
Itulah, 8 camilan khas Kulon Progo yang sebaiknya dipikir berulang kali sebelum dijadikan oleh-oleh. Kulon Progo memang kaya akan makanan tradisional yang unik. Namun, keunikan itu tidak melulu berarti layak dibawa pulang. Membeli oleh-oleh seharusnya menjadi cara membawa pulang pengalaman, bukan penyesalan.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
