6 Alasan Bodoh Mengapa Orang Nggak Mau Pakai Helm – Terminal Mojok

6 Alasan Bodoh Mengapa Orang Nggak Mau Pakai Helm

Artikel

Banyak orang di Indonesia yang masih sering menyepelekan masalah keamanan dan keselamatan dalam berkendara, terutama kendaraan roda dua. Kesadaran orang-orang Indonesia dalam memperhatikan keselamatan berkendara masih sangat minim sekali. Saya coba mengamati pengendara motor di lingkungan tempat tinggal saya. Kerap saya jumpai banyak yang nggak memakai helm baik itu sengaja maupun nggak sengaja.

Kebanyakan pengendara menganggap bahwa memakai helm saat berkendara kendaraan bermotor di jalanan justru banyak merugikan bagi si pengendara. Seperti kepala si pengendara yang nggak leluasa mendapatkan angin segar saat berkendara di jalan. Kominfo mengatakan bahwa setiap satu jam setidaknya terdapat 3 orang yang meninggal akibat kecelakaan di jalanan Indonesia. Terdapat banyak faktor yang menjadi penyebabnya, 61% karena faktor kesalahan manusia, 30% karena faktor lingkungan, dan 9% karena faktor kendaraan. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat masih kurang menaati peraturan lalu lintas yang ada.

Helm adalah salah satu perlengkapan keamanan yang wajib dipakai oleh pengendara roda dua. Namun walau begitu masih saja banyak yang tak mau memakainya dengan berbagai alasan-alasan yang membosankan.

Nggak punya

Alasan ini cukup sering dipakai pengendara saat mereka sedang ketilang dan ketahuan nggak pakai helm. Sebenarnya alasan ini sangat nggak masuk akal, karena seharusnya jika seseorang punya motor harusnya mereka juga harus punya helm. Padahal biasanya setiap kita membeli motor baru pasti akan mendapatkan bonus sebuah helm kan. Banyak yang beralasan kalau mereka membeli motornya bekas makanya mereka nggak dapat bonus.

Ketika disuruh membeli, terus beralasan kalau harganya mahal-mahal. Ternyata mereka maunya helm yang keren, ya pantas mahal. Mereka nggak mau jika helmnya jelek yang harganya murah-murah. Padahal fungsi utamanya kan untuk melindungi kepala bila terjadi kecelakaan bukan untuk terlihat keren. Asalkan sudah sesuai dengan standar SNI maka berarti layak untuk dipakai.

Baca Juga:  Menghitung UMR Ba Sing Se, Kota Terbesar dalam Jagat Avatar The Legend of Aang

Nggak ada polisi

Pengendara motor di Indonesia sepertinya nggak takut jika terjadi kecelakaan di jalan, yang mereka takutkan justru jika ketemu polisi di jalan saat sedang nggak memakai helm. Mereka hanya akan memakai helm bila ada polisi saja. Kalau nggak pakai helm, kan ntar kena tilang. Mereka, sepertinya, lebih takut kehilangan uang daripada nyawa.

Saat sedang berkendara, ada beberapa yang sebenarnya membawa helm, tapi ya itu hanya dibawa tapi nggak dipakai. Bahkan ada yang naruhnya di dengkul. Sepertinya bagi mereka dengkul jauh lebih berharga daripada kepala.

Atau memang karena otak mereka ada di dengkul?

Merasa hebat

Saya pernah punya teman yang kalau disuruh pakai helm susahnya minta ampun. Bahkan dia memiliki taglinenya sendiri “Helm hanya untuk orang-orang lemah.” Dia sudah merasa hebat dalam mengendarai motor dan seolah kebal saat jatuh. Padahal sikap merasa hebat seperti inilah yang biasanya justru malah akan mendatangkan musibah.

Seorang pembalap MotoGP seperti Valentino Rossi atau Marc Marquez sekalipun yang sudah terbukti kehebatannya dalam mengendari motor masih saja tetap memakai helm untuk keamanan mereka. Kenapa kita yang hanya pengendara biasa memilih nggak makai dan merasa sudah hebat serta merasa kebal sakit? Padahal kemampuan mengendarai motor kita pastinya nggak sehebat kedua pembalap itu.

Gerah

Memakai helm memang akan membuat kita gerah, tapi itu bukan berarti kita nggak usah memakai helm saat berkendara. Saya juga sering merasa kepanasan dan kegerahan setiap kali mengendarai motor. Apalagi saya sering berkendara jauh di siang bolong, saat matahari sedang terik-teriknya. Tapi saya tetap memilih memakai helm untuk keamanan, karena saya pernah merasakan sakitnya jatuh di jalan dan kepala saya membentur jalan tapi untungnya nggak masalah karena saat itu saya memakai helm.

Bikin rambut lepek

Salah satu ketakutan terbesar seseorang saat memakai helm adalah bikin rambut menjadi lepek. Penampilan rambut sangat penting, terutama bagi wanita. Apalagi jika rambut tersebut masih basah, pasti akan mudah sekali menjadi lepek. Setelah itu, jika rambut lepek akan menyebabkan polusi dan debu mudah sekali menempel di rambut kepala.

Baca Juga:  Mengkhawatirkan Flora dan Fauna Jika Ibu Kota Pindah ke Kalimantan

Hal inilah yang akhirnya membuat seseorang malas memakai helm. Mereka lebih memilih untuk tampil keren dengan mengibas-ngibaskan rambutnya saat berkendara. Mungkin menurut mereka itu keren, tapi nggak guna juga jika hanya akan membuat kepala mengalami cedera jika terjadi kecelakaan.

Cuma deket

Alasan inilah yang paling sangat sering diutarakan orang jika ditanya “kok nggak pakai helm?” Karena merasa hanya akan menempuh jarak yang dekat, mereka berpikir jika nggak perlu memakai helm karena nggak akan terjadi apa-apa di jalan. Semisal jika pergi ke minimarket, mereka hanya akan memakai kaos oblong, celana pendek, dan sandalan jepit saja terus langsung pergi ke minimarket tanpa peduli memakai helm. Apalagi jika itu dilakukan secara berulang-ulang, bukankah peluang kemungkinan terjadinya musibah juga akan bertambah?

Padahal musibah bisa datang secara tiba-tiba dan nggak ada yang tau, tanpa memandang jarak orang tersebut jauh atau dekat. Sekali orang tersebut memutuskan untuk pergi naik motor tanpa memakai helm maka saat itulah pula musibah akan terus mengintai. Bahkan bukan saja hanya kamu yang akan terkena tapi bisa juga orang-orang disekitar juga akan terkena dampaknya.

BACA JUGA Rasanya Jadi Orang Batang yang Terpaksa Ngaku Orang Pekalongan dan tulisan Yuarandhi Shulistyo Nooraruma lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4

Komentar

Comments are closed.