5 Rekomendasi Film Korea dengan Tema Politik – Terminal Mojok

5 Rekomendasi Film Korea dengan Tema Politik

Artikel

Avatar

Korea Selatan selalu diidentikkan dengan produk hiburan berupa drama dan K-Pop. Dalam ranah film, Korea Selatan juga rupanya tidak main-main. Rekomendasi film Korea dengan muatan nondrama layak menjadi pertimbangan bagi kalian yang menggilai sinema.

Film sebagai pengejawantahan cerita kerap merepresentasikan situasi pada masa tertentu. Pada tempat dan ekosistem tertentu. Misalnya, jika kita ingin melihat situasi Indonesia pada pergolakan 1998, kita bisa menonton film tahun 2015 berjudul Di Balik 98 besutan sutradara Lukman Sardi. Jika kita ingin tahu seperti apa masyarakat memandang perempuan pada masa awal 1900-an, film Kartini karya Hanung Bramantyo dapat menjadi pilihan.

Meskipun film dokumenter lebih akurat dalam menangkap suatu peristiwa, film nondokumenter seperti yang banyak kita tonton juga punya kekuatan menghadirkan cerita secara apik. Banyak dari film-film ini mampu menghidupkan kembali peristiwa penting nan lampau. Maka tak heran jika film sering dianggap sebagai time capsule.

Korea Selatan sebagai negara maju di benua Asia juga punya sejarahnya sendiri. Terlepas dari citranya sebagai negara yang canggih, maju, dan modern, Korea Selatan pernah merasakan pergolakan politik yang bervariasi dari waktu ke waktu.

Berikut deretan film nondokumenter dari Korea Selatan yang sedikit banyak mengupas sisi politik negara tersebut. Let’s check the list.

Rekomendasi film Korea #1 Joint Security Area (2000)

Film bergenre thriller misteri karya sutradara Park Chan Wook ini mengambil cerita dari novel berjudul DMZ karya Park Sang Yeon. Meskipun bersumber dari karya fiksi, JSA bukan berarti tidak menggambarkan situasi politik Korea Selatan pada masanya. Film ini justru memberikan gambaran tentang gesekan politik-militer yang panas antara dua negara. Perpecahan Korea menjadi Korea Selatan dan Korea Utara menciptakan suatu zona perbatasan yang disebut sebagai Demilitarized Zone (DMZ). Perbatasan ini berada di area bernama Joint Security Area (JSA) di desa Panmunjom.

Film JSA berfokus pada proses investigasi yang dilakukan pihak militer Swiss sebagai mediator untuk kasus terbunuhnya dua tentara Korea Utara pada saat berjaga di DMZ. Proses investigasi ini menghantarkan penonton menuju kilas balik dan menilik seperti apa hubungan antara tentara Korea Utara dan Selatan. Di film ini, ketegangan politik dan militer seolah menjadi atmosfer yang menarik untuk melihat bagaimana tentara-tentara ini memandang sesamanya. Film ini dibintangi oleh aktor kawakan Korea Selatan seperti Song Kang Ho, Lee Byung Hun, dan Lee Young Ae serta berhasil memenangi berbagai penghargaan dalam dan luar negeri.

Rekomendasi film Korea #2 The Attorney (2013)

Menjadi debut sutradara Yang Woo Suk, The Attorney menjadi film politik yang patut diperhitungkan. Selain digarap dengan sangat baik, film ini diimbangi oleh peran yang sangat mumpuni dari Song Kang Ho sebagai pengacara. Film ini juga menghadirkan aktor ternama lainnya seperti Kwak Do Won, Im Si Wan, dan Lee Sung Min.

Film ini berlatar masa pemerintahan presiden Chun Do Hwan tahun 1981 dan banyak mengambil latar tempat di Busan. The Attorney menceritakan perjuangan pengacara Song Woo Suk mengungkap kasus Burim. Mengusung label anti komunisme, rezim Chun diceritakan menahan beberapa mahasiswa yang berkumpul di suatu klub buku. Penahanan yang salah ini mendorong pengacara Song yang tadinya dipandang sebelah mata, melakukan pembelaan yang sangat ‘greget’ di pengadilan. Scene terakhir saat pengacara Song memberikan simpulan pembelaannya menjadi scene favorit saya, mengendap di kepala saya untuk waktu yang lama.

Rekomendasi film Korea #3 1987: When The Day Comes (2017)

Salah satu film favorit saya ini merupakan film thriller politik Korea yang powerful. Film ini disutradarai oleh Jang Joon Hwan, menghadirkan aktor ternama seperti Kim Yoon Seok, Ha Jung Woo, dan Kim Tae Ri. Storylinenya sendiri mengacu pada peristiwa June Democratic Uprising yang terjadi pada masa kediktatoran presiden Chun Do Hwan.

Kisah bermula saat seorang mahasiswa aktivis meninggal dunia setelah menjalani interogasi pihak militer. Hal ini menimbulkan benturan keras antara pihak pemerintahan yang berniat menutup-nutupi kasus itu dan pihak-pihak lain yang berusaha keras membuktikan fakta sebenarnya. Unsur politik di film ini sangat kental, seperti ketika kejaksaan dan pihak militer bahu membahu mengusahakan tidak tereksposnya kasus ini. Di sini, goncangan politik, kuatnya kekangan pemerintah, dan pengaruh militer yang grande bercampur dengan perjuangan demonstrasi para mahasiswa, kejujuran seorang jaksa, serta keberanian seorang jurnalis. Film ini berhasil mengasah kepekaan kita terhadap kesadaran berpolitik dan berorasi untuk kepentingan kebenaran. Pun memunculkan rasa patriotik yang tidak bisa disangkal. Barangkali karena dalam penggarapannya, film ini mendekati peristiwa secara nyata, detail, dan mendalam.

Rekomendasi film Korea #3 A Taxi Driver (2017)

Mungkin sudah banyak yang pernah nonton film satu ini. Film karya sutradara Jang Hoon yang dibintangi Song Kang Ho dan Thomas Kretschmann. Peristiwa yang menginspirasi film ini lagi-lagi terjadi pada masa pemerintahan Chun Do Hwan, yaitu Gwangju Uprising. Di daerah Gwangju terjadi perlawanan besar-besaran dari mahasiswa terhadap pemerintahan Chun. Perlawanan ini digempur balik oleh pihak militer hingga menimbulkan banyak korban berjatuhan. Kejadian ini ditutupi dari pihak luar Gwangju. Akibatnya, area Gwangju dijaga ketat oleh militer, menghalau orang memasukinya.

A Taxi Driver menceritakan perjalanan seorang supir taksi mengantar wartawan Jerman memasuki area Gwangju yang sedang bergejolak. Separuh awal film bikin saya ketawa-ketiwi nonton supir taksi Seoul ini ngomong bahasa Inggris ke penumpangnya, seolah-olah bikin filmnya jadi bergenre komedi. Perjalanan pun diteruskan sampai ke Gwangju dan genrenya berlanjut menjadi tragedi. Beberapa artikel yang membahas Gwangju Uprising menyatakan kalau peristiwa ini termasuk pergolakan politik yang paling kejam dan menyedihkan dari usaha demokrasi rakyat Korea Selatan tahun 80-an.

Rekomendasi film Korea #5 The Spy Gone North (2018)

Film ini seperti mau bilang kalau setiap negara punya masa kelamnya masing-masing, termasuk Korea Selatan. The Spy Gone North menceritakan spionase dan intrik politik yang terjadi antara Korea Selatan dan Korea Utara pada tahun 1993. Film berjudul asli Gongjak ini disutradarai oleh Yoon Jong Bin. Seolah nggak cukup spektakuler, film ini dipenuhi A-list actors seperti Hwang Jung Min, Cho Jin Woong, dan Lee Sung Min.

Seperti yang kita tahu, Korea Utara punya senjata nuklir yang digadang-gadang dijadikan pertahanan negara. Film ini mengikuti seorang mata-mata Korea Selatan yang menyusup ke Utara untuk mencari tahu soal keberadaan senjata nuklir, mulai dari lokasinya sampai keputusan politik apa yang diperkirakan mempengaruhi aktivasinya.

Melalui lima film di atas, sedikit banyak saya jadi tahu sisi lain sejarah Korea Selatan. Negeri Ginseng itu rupanya tidak hanya menampilkan gemerlap pesona Hallyu, melainkan melewati proses periodisasi sejarahnya sebagai sebuah negara. Last but not least, kelima film di atas merupakan rekomendasi film Korea untuk siapapun yang ingin belajar, membuka pandangan, dan tertarik terhadap sejarah Korea Selatan. Selamat menonton.

BACA JUGA Dibanding Relawan Covid-19 yang Wajib Pakai APD, Kalian Mestinya Bersyukur Cuma Disuruh Maskeran dan tulisan Maria Monasias Nataliani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
10


Komentar

Comments are closed.