Mengkaji Isu Kekerasan Seksual melalui Film Korea – Terminal Mojok

Mengkaji Isu Kekerasan Seksual melalui Film Korea

Artikel

Isu kekerasan seksual rupanya tidak pernah habis. Baru-baru ini, kasus penculikan dan pemerkosaan anak yang dilakukan oleh mantan anggota TNI terjadi di Kendari, Sulawesi Selatan. Kasus amoral serupa juga terjadi di Pontianak, di mana pelakunya adalah seorang ASN (Aparatur Sipil Negara). Kasus menyedihkan lainnya berupa pemerkosaan berujung pembunuhan oleh ayah tiri kepada anaknya terjadi di Sanggau, Kalimantan Barat.

Kasus-kasus pelecehan seksual tidak hanya terjadi di ranah keluarga dan masyarakat. Universitas sebagai medium pendidikan tinggi justru kerap menjadi tempat bersemainya kasus serupa. Yang paling baru, kasus seorang dosen dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember yang melecehkan mahasiswanya. Kasus itu sukses menuai demo dan kecaman. Sementara itu, di awal tahun ini, kasus sejenis juga terjadi di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Kekerasan seksual merupakan peristiwa kejahatan yang tidak sederhana. Dampaknya terhadap korban kerap kali tidak diperhatikan sebesar kronologi kasusnya. Pengungkapan kasus juga terkadang terhalang oleh sistem. Terhambat oleh aturan-aturan tertentu. Dan membuat kekerasan seksual menyerupai fenomena gunung es. Setelah terungkap pun, korban dan keluarga akan sulit menjalani hari-hari seperti biasa. Pelaku? Tentu beberapa tahun kemudian akan menikmati udara kebebasan.

Sementara itu, kasus kekerasan seksual tidak hanya terjadi di negeri kita. Korea Selatan rupanya juga dihantui kasus yang sama. Bahkan, beberapa kasus sangat kontroversial dan disturbing sehingga beberapa sineas film mewujudkannya ke layar lebar. Film-film Korea Selatan berikut ini membantu kita memahami lebih dekat sisi demi sisi peristiwa amoral itu.

Hope
Film dengan nama lain Wish ini merupakan film arahan sutradara Lee Joon Ik yang keluar di tahun 2013. Film yang memenangi penghargaan film terbaik dalam 34th Blue Dragon Film Awards ini mengambil kasus nyata Na-young yang terjadi pada tahun 2008. Sebuah kasus kekerasan seksual di mana seorang anak perempuan berusia 8 tahun dilecehkan oleh seorang lelaki 57 tahun yang sedang mabuk di sebuah toilet umum.

Menonton film ini sukses membuat saya merasa sedih dan marah di saat yang sama. Bagi saya, film ini berfokus pada perjuangan korban setelah mengalami tragedi. Selain itu, film ini juga bercerita tentang kehancuran orangtua korban selama dan setelah pengungkapan kasus. Juga tentang bagaimana masyarakat di sekitar mereka merespons kejadian itu. Yang menyedihkan, tentu saja luka-luka fisik yang sama parahnya dengan trauma mental korban. Kebrutalan pelaku membuat korban sampai harus menjalani operasi colostomy (pemotongan usus) dan memakai kantung colostomy seumur hidupnya.

Baca Juga:  5 Rekomendasi Film Korea dengan Tema Politik

Silenced
Silenced atau The Crucible merupakan film Korea Selatan tahun 2011 yang disutradarai oleh Hwang Dong Hyuk. Film ini didasarkan pada kasus kekerasan seksual yang terjadi di Gwangju Inhwa School. Selama 5 tahun, beberapa murid bisu-tuli dilecehkan secara seksual oleh staf sekolah. Mereka juga mendapatkan kekerasan fisik, kekerasan verbal, dan kekerasan psikis dari beberapa guru dan staf.

Yang menarik dari film ini adalah proses pengungkapan kasus dan penanganannya secara hukum. Klimaks dari film ini berada pada adegan di persidangan, di mana para korban dan pelaku berada dalam satu ruangan. Dan betapa mengerikannya tekanan yang diberikan pihak sekolah pada para korban. Tekanan itu tidak hanya terjadi saat permulaan kasus, namun juga berlanjut sampai ke dalam ruang sidang.

Kasus serupa baru-baru ini juga terjadi di Indonesia. Kita tentu mengetahui cerita Joni dan Jeni yang kontroversial setelah pelakunya divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Cibinong. Kesamaan dari film Silenced dengan kasus Joni Jeni adalah korban yang memiliki disabilitas. Dalam film Silenced, korban memiliki disabilitas fisik, yaitu tuna rungu dan tuna wicara. Sementara, dalam kasus Joni Jeni, Joni merupakan penyandang disabilitas intelektual. Kelompok penyandang disabilitas, baik disabilitas fisik, disabilitas mental, maupun disabilitas intelektual menjadi kelompok yang rentan mengalami berbagai jenis kekerasan, termasuk kekerasan seksual.

Han Gong Ju
Film ini didasarkan dari kasus Miryang yang terjadi pada tahun 2004, disutradarai oleh Lee Su Jin dan ditayangkan pertama kali pada tahun 2013 pada Busan International Film Festival. Han Gong Ju merupakan nama karakter utama dalam film. Seorang gadis SMA yang mengalami pemerkosaan oleh sekelompok siswa SMA.

Reaksi saya menonton ini kurang lebih sama. Sempat merasa kesal, bahkan marah karena kasus ini cukup kontroversial. Setelah tragedi yang dialaminya, Han Gong Ju justru tidak memiliki dukungan sosial. Secara ironis, ibunya justru bersikap egois dengan tidak mau bertemu dengannya. Sementara ayahnya justru memilih menerima uang dari para orang tua murid pelaku pemerkosaan sebagai upaya rekonsiliasi. Film ini digarap apik dengan plot maju mundur yang membuat efek psikologis korban terasa begitu nyata.

Baca Juga:  Dear Wanita: Jika Ingin, Katakanlah

Selama menonton Han Gong Ju, saya sempat teringat fenomena yang juga marak di negeri sendiri. Pembenaran akan sexual assaults dan kritik yang ditempatkan secara salah kaprah, justru pada sang korban yang kebanyakan adalah wanita. Victim blaming dengan segala alasannya.

Film tidak hanya menjadi medium hiburan. Namun, juga wadah pembelajaran. Melalui film, kita bisa mengenal berbagai peristiwa, memahami isu-isu terkini, dan melatih kepekaan sosial. Banyak peristiwa yang terjadi di dunia melampaui batas kewajaran hingga membangkitkan daya kritis dan nalar penonton.
Menonton ketiga film di atas membuat saya memikirkan banyak hal. Bahwa kasus kekerasan, apapun itu, tentu tidak sederhana, tidak boleh dianggap sederhana. Keharuan mencelus dari hati saya ketika tahu seperti apa penderitaan korban. Ketidakadilan hukum juga membuat saya geram. Bahkan pada beberapa titik selama berjalannya film, pipi saya mendadak basah. Ketiga film itu mampu menimbulkan kesedihan dalam diri saya, dan memampukan saya untuk lebih aware terhadap isu kekerasan seksual.

Tentu kita berharap tidak akan ada lagi Han Gong Ju-Han Gong Ju lain di sekitar kita. Tidak perlu ada Na-young lain yang menderita. Juga berharap tidak ada lagi sekolah atau universitas di mana pun di dunia ini yang menjadi wadah kekerasan. Peristiwa memilukan itu mungkin berlangsung tidak lama, tetapi efek yang ditimbulkan akan membekas lama untuk para korban. Efek jangka panjang yang mungkin tidak kita tahu adalah perjuangan mereka untuk tetap hidup, meski dunia terkadang tidak sama lagi memandang mereka.

Mari belajar dari film-film ini. Juga dari peristiwa sekitar. Untuk meyakinkan diri kita dan orang-orang di sekitar kita. Supaya tetap menjadi manusia. Manusia yang wajar. Yang masih bertumpu kewarasan, berpegang pada rasionalitas. Pada akhirnya, saya melihat bahwa film, sebagai salah satu medium seni, tidak melulu menawarkan hiburan, tetapi juga pengajaran.

---
16


Komentar

Comments are closed.