Kata Siapa Presentasi Itu Lebih Gampang Dibanding Ujian?

Artikel

Avatar

Selama belasan tahun menjadi pelajar, tidak jarang saya menghadapi rekan-rekan yang selalu berusaha menukar ujian tertulisnya dengan proyek dan presentasi. Ketika pengajar menawarkan perubahan, mereka dengan semangat menyetujui dan berusaha agar pengajar tidak kemudian berubah pikiran. Ketika pengajar keukeuh ingin mengadakan ujian tertulis pun, mereka tetap berusaha meluluhkan hati dengan berbagai macam cara.

Proyek dan presentasi sering dianggap penolong sakti untuk dapat nilai bagus dan menghindar dari ketidaklulusan. Padahal, tidak selamanya pilihan tukar bentuk ujian itu berujung bahagia.

Menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengerjakannya

Seorang teman menolak keras ketika ada ujian berdurasi dua jam yang hendak ditukar dengan proyek yang harus dipresentasikan. Teman yang lain berlomba-lomba menghujat sambil berusaha memberikan pencerahan bahwa belajar untuk ujian tersebut menghabiskan waktu yang lama. Bahkan bisa berlangsung mulai dari sore setelah kegiatan belajar-mengajar selesai dan terus berlanjut tanpa tidur sampai sesaat sebelum ujian dimulai. Bahkan, kalau bisa materi tersebut terus diucap sebagai mantra sepanjang jalan berangkat.

Saya memahami alasan ini jika ujian dilaksanakan ketika kita harus menghadapinya secara fisik, baik di sekolah maupun di kampus. Jarak dan waktu yang ditempuh untuk pulang tidaklah sedikit, apalagi jika kita belajar di perantauan sehingga harus mengurus diri sendiri.

Cari makan, laundry baju (jika punya uang, kalau tidak ya cuci sendiri), bersih-bersih kamar kosan, ya begitulah rutinitas pembelajar rantau yang cukup menghabiskan waktu. Akan tetapi, ada saja yang berusaha melakukan hal ini ketika pembelajaran jarak jauh? Lah?

Dalam banyak kasus, mengerjakan proyek dan/atau mempersiapkan presentasi membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang. Tidak perlu belajar? Seringkali untuk bisa mengerjakan si proyek, kita tetap harus belajar secara mendalam sama seperti mempersiapkan diri untuk ujian tertulis jika proyek ini membutuhkan kemampuan teknis secara luas.

Berpresentasi? Tidak semua orang bisa menemukan intisari materi dan memahaminya langsung ketika membaca literatur dan mengetikkannya ke PowerPoint. Banyak orang perlu mempelajarinya terlebih dahulu, memahaminya berulang kali, mulai merangkum, dan barulah rangkuman akhirnya menjadi slide presentasi yang kalian lihat. Bukan semalam suntuk lagi, bisa jatuh bangun berhari-hari pun tidak cukup.

Belum tentu sekelas merasa senasib sepenanggungan

Dengan ujian tulis, kelompok orang-orang yang dianggap pandai dianggap memiliki keuntungan. Mereka bisa mendapatkan nilai yang bagus tanpa perlu belajar keras ketika teman-temannya sudah berusaha jumpalitan dan tetap saja nilainya pas-pasan (bahkan bisa jadi tidak lulus). Ketika ujian tertulis berubah menjadi proyek dan/atau presentasi, akan ada yang tersenyum bahagia karena merasa bahwa mereka akan menghabiskan banyak waktu secara bersama-sama, senasib sepenanggungan.

Eits, tunggu dulu! Benar bisa senasib sepenanggungan, jika yang ditugaskan bukan persoalan teknis. Misalnya, sewaktu masih SD, kami pernah diberikan tugas pada hari Jumat untuk mewawancarai petugas keamanan di Taman Impian Jaya Ancol setelah pukul sepuluh malam dan harus mengumpulkan laporan lengkap dengan foto sebagai bukti pada hari Senin-nya. Di sini betul bahwa semuanya senasib sepenanggungan, bagaimana mereka bisa merayu orang tua, kakak yang sudah dewasa, atau siapa pun yang bisa dipercaya untuk mendampingi. Belum lagi waktunya begitu luar biasa, di luar kebiasaan.

Akan tetapi, lain lagi ceritanya jika tugas berbeda antar orang dan bisa dipilih. Apalagi jika pemilihannya berbasis siapa cepat dia dapat. Orang-orang yang dianggap cukup pandai biasanya akan segera bergegas memilih tugasnya, semudah mungkin untuk dikerjakan dan sebagus mungkin untuk potensi memperoleh nilai yang bagus. Dengan melakukan skimming, mereka langsung mencoret pilihan yang mungkin tidak dipahami.

Jika kelompok yang merasa dirinya biasa saja dan tingkat “kerajinannya” pun juga biasa saja, dia akan cenderung santai-santai dalam memilih dan pilihan dijatuhkan lebih berdasarkan kesukaan. Nah, tidak senasib sepenanggungan lagi kan karena yang pandai justru memilih tugas yang lebih mudah? Rasa senasib itu hanya mungkin dimiliki jika mereka tertantang untuk menyelesaikan tugas yang lebih sulit dan ternyata benar-benar sulit baginya.

Baca Juga:  Terberkatilah Para Tukang Presentasi Tugas Kuliah Snob

Menghabiskan uang dan belum tentu sesuai harapan

Poin ini mungkin lebih terasa ketika kita belajar secara fisik dan mengumpulkan penugasan juga secara fisik. Semasa saya sekolah dan kuliah, tugas ini biasanya berbentuk kliping, makalah, atau poster. Untuk bentuk-bentuk tugas yang sudah tergolong sederhana seperti ini pun, biaya yang dikeluarkan pun bisa jadi besar. Lho?

Idealnya, sebuah makalah yang baik memiliki struktur yang baik pula. Paling tidak, cover, kata pengantar, daftar isi, dan daftar pustaka itu ada. Isinya sendiri biasanya tidak kurang dari sepuluh halaman. Itu belum termasuk biaya untuk menjilidnya ya, sekalipun hanya dengan kertas mika di depan, kertas bufalo di belakang, dan lakban hitam. Uang 10 ribu sudah dipastikan melayang dari dompet, lebih mahal dibandingkan seporsi nasi kuning di kantin Dallas seharga 8 ribu (plus tempe orek, bihun atau mie goreng, kentang balado, dan telur dadar iris). Maksud saya, kasihanlah bagi teman Anda yang masuk dalam kategori ekonomi menengah ke bawah (alias pas-pasan).

Cerita lain datang ketika saya mendapatkan tugas membuat poster secara berkelompok di semester tiga perkuliahan. Karena diberikan pada pekan ujian akhir semester, kelompok lain memilih fokus belajar di huniannya masing-masing dan poster dibuat secara digital. Itu pun bukan berarti mereka membuat desainnya sendiri sampai siap dicetak. Mereka hanya menyiapkan materi yang hendak ditulis per bagian dan diserahkan kepada desainer untuk tata letak serta urusan hias-menghiasnya. Bisa dibayangkan, biayanya tidak murah!

Kelompok saya kebetulan terdiri dari laki-laki semua dan kami terkenal perhitungan. Kalau bisa datang lebih pagi demi WiFi yang kencang dan tugas bisa terselesaikan tanpa kuota terbuang sekaligus masih bonus menonton YouTube, mengapa harus datang mepet jam mulainya kelas? Jika bisa memiliki buku versi serba elektronik dan secara gratisan, mengapa kami harus fotokopi apalagi membeli buku aslinya? Kami mengambil risiko dengan membuat poster tersebut secara manual alias gunting, tulis, tempel. Dilihat wujudnya, jelas jauh lebih buruk dibandingkan kelompok lainnya.

Ketika nilai mata kuliah diunggah ke sistem, perwakilan setiap kelompok membandingkan nilainya masing-masing dan jarak antara kelompok terbaik dengan yang terburuk (pastilah kami di sana) hanya berselisih tiga poin! Kelompok terbaik memang mendapatkan hadiah berupa dipajangnya poster di papan mading dan biskuit Beng-Beng, tetapi tetap saja mereka nyesek. Nyesek modalnya!

Berita baik dengan adanya study from home, tugas terbatas diberikan secara digital. Terkecuali harus membuat video berukuran besar dan mengunggahnya dengan paket internet kuota, biaya bisa ditekan secara signifikan.

Standar penilaian semakin membingungkan

Tidak selamanya standar penilaian bisa dipertimbangkan dalam satu ujian tertulis, apalagi jika sudah melibatkan soal esai. Pilihan ganda, benar atau salah, juga isian singkat memiliki aturannya jelas, benar dapat poin, salah antara dinilai nol atau malah dikurangi. Bagaimana dengan esai? Sekalipun pelajaran itu adalah pelajaran matematika, sulit untuk membandingkan nilai antar orang jika si penilai tidak memiliki standar yang konsisten.

Ketika penilaian diberikan dalam bentuk proyek atau presentasi, semuanya semakin tidak jelas. Rasanya sangat langka untuk menemukan pengajar yang mau memberikan kisi-kisi standar penilaiannya sebelum penugasan dimulai kan? Bandingkan dengan kisi-kisi ujian tertulis yang justru lebih mudah didapat. Ketika kisi-kisi ini tidak ada, bisa jadi pengajar menggunakan subjektivitasnya yang terdengar absurd di kepala kita.

Cerita pertama datang ketika saya masih SMP. Senior mengatakan bahwa guru tertentu cenderung menilai sebuah makalah berdasarkan ketebalannya dan beliau ini tidak memperhatikan konten yang terkandung di dalamnya.

Ketebalan minimum yang disampaikan adalah standar untuk nilai minimum kelulusan (alias KKM) dan kenaikan nilai berikutnya dihitung secara proporsional. Tipsnya, jelas menggunakan margin kertas yang lapang dan font size yang besar.

Baca Juga:  Terbakarnya KyoAni dan Isu Plagiat

Saya mencoba melawan, mengumpulkan makalah yang dikerjakan sepenuh hati dan mengandung pemikiran pribadi. Teman-teman mengumpulkan, semuanya memiliki ketebalan lebih dari lima puluh halaman bermodal hasil copas, margin lapang, dan font size besar, mereka diberi nilai seratus! Saya mengumpulkan empat puluh sembilan halaman, margin standar, font size standar, dan berpikir dalam mengerjakannya, 98 diberikan untuk saya. Ketika ditanya ke penilai, jelas jawabannya adalah ketebalan.

Masih baik jika subyektivitas ini adalah sesuatu yang bisa diukur dan dihitung. Masih ketika SMP, kami diberikan tugas membuat film secara berkelompok. Ketika kelompok lain berusaha memilih tempat yang bagus (termasuk mengeluarkan biaya transportasi dan tiket masuk ke taman hiburan yang indah), kelompok saya malah meminjam beberapa ruangan di sekolah yang tidak terpakai untuk rekaman sepulang sekolah. Kameranya berkualitas kurang sehingga hasil video semutan, jalan cerita membosankan, dan malah sedikit mengandung unsur kekerasan (karena sekelompok semuanya laki-laki). Tiba-tiba kami dapat nilai paling baik dan alasannya adalah bisa membuat film dengan modal paling rendah.

Banyak cerita lain yang jika dibagikan, artikel ini akan terasa sangat panjang dan melelahkan untuk dibaca. Satu lagi deh. Saya sudah banyak membahas soal proyek, tetapi sedikit soal presentasi. Kita semua tentu tahu esensi presentasi, yaitu menyampaikan suatu hal kepada pendengar secara singkat, padat, jelas, dan menarik.

Masalah ada di kata terakhir, menarik. Saya pernah menghadapi kenyataan bahwa suatu presentasi dikatakan menarik jika paling tidak ada satu animasi GIF yang ditampilkan. Ada pula presentasi yang dianggap menarik jika contohnya sesuai dengan apa yang disukai oleh pendengar. Misalkan, saya berpresentasi tentang pengaruh besarnya kuota internet terhadap kepuasan pengguna. Nah, kartu yang dijadikan contoh kasus haruslah kartu yang paling banyak dipakai oleh pendengar, jika ingin punya nilai yang bagus.

Tidak jarang memutar lagu sambil berpresentasi memberikan suasana yang lebih baik. Tentunya kita berpikir jika menggunakan musik klasik instrumental yang tenang akan lebih baik. Pengalaman menunjukkan bahwa beberapa kali itu salah. Mau diputar musik, mau diam, pendengar tetap bosan dan tidur! Solusinya? Lagu Korea. Gangnam Style dari PSY, Ddu-ddu-du-du dari BLACKPINK, dan Gotta Be You dari 2NE1 pernah saya gunakan agar pendengar tetap bersemangat.

Cerita paling kejam adalah penilaian berbasis ranking. Misalkan nilai minimum adalah 55 dan nilai maksimum adalah 100 dengan penugasan diberikan kepada lima kelompok. Pengajar memutuskan membentuk barisan aritmatika sehingga nilai untuk kelompok terbaik hingga terburuk adalah: 100, 89, 78, 67, dan 56 (bonus satu poin supaya selisih antarperingkat konsisten). Meskipun selisih kualitas antarperingkat itu sangat tipis, pengajar tetap keukeuh memberikan nilai seperti ini. Bisa dibayangkan apa yang terjadi. Jika itu adalah proyek, antar kelompok berusaha mengetahui apa yang dikerjakan kelompok lain dan mencuri kelebihan mereka.

Jika itu adalah presentasi, kelompok berusaha maju paling terakhir ketika pengajar membebaskan urutan tanpa memberikan bonus poin kepada yang maju lebih dulu dan tidak membekukan materi yang akan dibawakan sebelum kelompok pertama maju.

Begitulah ceritanya, teman-teman Mojokers. Bagi kalian yang masih sekolah dan kuliah, proyek dan presentasi tidak selalu seindah bayangan. Jika nasib kurang baik, justru hal ini lebih buruk dibandingkan ujian tertulis!

BACA JUGA Membandingkan Desktop Rakitan vs Laptop Mainstream Rp10 Juta, Siapa yang Menang? dan tulisan Christian Evan Chandra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

 

---
0


Komentar

Comments are closed.