5 Macam Duka Menjadi Editor di Media

Artikel

Avatar

Beberapa bulan ini saya nyambi bekerja sebagai editor di sebuah media online. Meski jumlah pengirim artikelnya belum sebanyak Terminal Mojok, saya bisa merasakan kepala saya berdenyut-denyut nyeri karena berbagai hal. Iya, menulis itu bukan perkara mudah, pun mencari tema-tema yang keren itu juga susah. Sudah berat nyari tema, mengeksekusinya jadi tulisan lebih berat lagi.

Kebetulan media tempat saya nyambi bekerja bukanlah media yang harus menggunakan tata bahasa baku dan bahkan cenderung slengean. Jadi ya sebenarnya saya nggak terlalu mempermasalahkan penggunaan kata nggak baku asal dengan tujuan untuk “lucu-lucuan”. Artinya si penulis sebenarnya tau kalo bahasa bakunya itu seperti apa, tapi memilih menggunakan bahasa yang nggak baku. Ya itu tadi, kayak “tahu” diubah menjadi “tau” dan semacamnya.

Nah, berikut adalah daftar keluhan saya selama menyeleksi sekaligus mengedit tulisan-tulisan yang masuk ke email redaksi.

Duka menjadi editor di media #1 Penulisan di, ke, dan dari

Ini kok ya klise tapi keterlaluan level dewa. Ada saja yang masih bingung nggunain “di” yang dipisah dan “di” yang digabung. Asli, bukannya saya mengidap OCD terhadap hal ini, tapi risih banget kalo ada yang nulis “dimana” atau “kemana” atau “di mainkan” atau “di suapin” bla bla bla. Kayaknya ini pelajaran SMA deh. Apa malah SMP ya? Apa malah SD? Pokoknya pelajaran dasar deh.

Saya nggak terlalu memusingkan typo ya—asal dalam tahap wajar sih—karena biasanya jari emang sering iseng kepeleset mau nulis apa dan jadinya malah apa. Entah kenapa saya lebih memaklumi typo dibandingkan dengan salah penempatan “di”, “ke”, dan “dari”. Perlu diketahui saja bahwa penggunaan “di”, “ke”, dan “dari” hanya dipisah apabila menunjukkan kata tempat atau waktu.

Saya tidak mengatakan bahwa saya adalah pengguna bahasa Indonesia paling benar di semesta ini, tapi setidaknya ya sedikit ngerti dan peduli sama hal-hal kayak gini. Bahkan saking sedikitnya saya ngerti tentang penggunaan bahasa Indonesia, baru beberapa bulan lalu saya ngerti kalo istilah EYD sudah nggak digunakan lagi.

Duka menjadi editor di media #2 Tema bagus, tulisan berantakan vs tulisan bagus, tema berantakan

Tiada yang lebih dilematis antara memilih tulisan yang temanya bagus tapi dieksekusi berantakan atau tulisan bagus tapi temanya biasa aja. Sungguh, tidak bisakah dua kubu ini menjadi satu saja? Biar gampang nentuinnya gitu. Kan kalo tema bagus dan tulisan bagus, sudah auto lolos seleksi dan tayang. Lah, tema bagus kalo tulisan berantakan kan ngeselin banget. Mau ditolak, kok tema bagus. Mau dilolosin, kok ngeditnya berasa ngetik ulang.

Baca Juga:  Untuk Seto Wicaksono, Penulis yang Nyambi Karyawan Swasta dan Disangka Melihara Tuyul

Sementara itu ada juga yang tulisannya uwwwuuu bagus banget, tapi temanya biasa aja. Kan sayang gitu, udah tulisannya bagus, eh yang dibahas biasa aja. Mau ditolak, tulisannya bagus. Mau diterima, topiknya biasa aja. Asli, bikin dilema.

Kalau kebetulan saya punya waktu selo yang lumayan banyak, biasanya saya bakal ngalah buat ngedit yang tema bagus tulisan berantakan. Bukan ngedit sih, lebih ke nulis ulang. Jadi ya saya baca sambil memahami maknanya, lalu saya tulis lagi tanpa mengubah esensi dari tulisan itu. Atau kalo lagi males ya saya diemin dulu dan nunggu males saya ilang kalo mau ngedit, atau saya lupakan kalo ternyata ada tulisan yang rapi dan dengan tema yang uwwwu.

Duka menjadi editor di media #3 Banyak tulisan yang salah tema

Asli, hanya karena media tempat saya nyambi kerja menerima tulisan dengan tema besar “Keresahan Manusia Modern” bukan berarti segala bentuk keresahan diterima sih. Buanyak banget yang salah tema dan ngirim pengalaman pribadi yang lebih kayak tulisan di buku diari.

Iya, pengalaman seseorang biasanya lucu-lucu dan bagus kalo ditayangin di media. Tetapi nggak semua pengalaman yang kalian anggap lucu itu bisa lucu juga kalo dibagiin ke media. Menurut penelitian, pengalaman pribadi seseorang sungguh luar biasa, sampai kemudian menjadi membosankan saat didengar oleh orang lain. Nah, makanya kalo ada yang bisa menuliskan pengalaman pribadinya dan bisa tetep heboh saat dibaca orang lain, sungguhlah luar biasa orang tersebut.

Satu lagi, banyak juga yang ngirim cerpen. Ya ampun, perasaan udah ditulis di ketentuan kalo yang diterima itu artikel dengan tema “Keresahan Manusia Modern”. Ngapa malah ngirim cerpen cinta-cintaan? Masih mending, ada yang ngirim puisi. Ini emang nggak mudeng atau pengin ngerjain editornya sih? Tolonglah, budayakan membaca baik-baik dan memahami ketentuan terhadap segala sesuatu, agar nggak salah sasaran, atau dalam kasus ini, nggak bikin saya jengkel.

Baca Juga:  Bukan Karya yang Berhasil Dibukukan, Justru Ini 5 Hal yang Harus Dimiliki Penulis

Duka menjadi editor di media #4 Naskah masuk banyak, intronya gitu-gitu aja.

Pas buka email dan liat banyak yang ngirim tulisan, rasanya ada harapan bahwa hari itu akan banyak artikel bagus yang tayang. Mulailah saya baca satu per satu artikel yang masuk. Dan bedebah, rata-rata menuliskan “Pada masa pandemi seperti ini…” atau “Selama wabah Covid-19…” atau “Memasuki masa-masa pandemi dan kita harus di rumah aja…” atau… ah pokoknya pembuka-pembuka model gitu deh, asli bikin mual. Udah buanyaaak banget tulisan yang mengawali atau melibatkan wabah, Covid-19, pandemi, kerja dari rumah, di rumah aja, bla bla bla.

Maksudnya, nggak ada intro lain yang menarik, apa? Misal diawali dengan pembahasan efektivitas balon angin WAWAWA terhadap peningkatan konversi penjualan cat, gitu? Atau bahas invasi alien sekalian. Atau bahas partikel akselerator. Atau bahas konsep reaktor nuklir. Atau serah apa aja asal jangan yang berbau-bau pandemi. Asli, mual-mual yang baca.

Duka menjadi editor di media #5 Artikel ditulis pake Microsoft Word versi lebih tinggi

Ini sebenernya salah saya sendiri sih, nggak upgrade Microsoft Word ke versi atas. Saya masih pake versi 2007 karena bukannya nggak ngikutin perkembangan, tapi versi ini yang paling ringkes dan nggak neko-neko. Ya risikonya itu tadi, kalo ada yang ngirim pake versi di atas 2007, spasinya bakal ambyar. Paragrafnya bakal amburadul. Kemudian saya kudu buka dokumennya pake Google Docs. Ya gimana ya, mau misuh-misuh, kok ya salah saya sendiri. Makanya, saat saya dapet dokumen yang spasinya nggak berantakan, level kebahagiaan yang saya rasakan lebih dahsyat daripada sekedar menang giveaway.

BACA JUGA Tipe Komentator Tulisan di Terminal Mojok dan Cara Penulis Menanggapinya dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
9


Komentar

Comments are closed.