Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal, salah satunya bikin malu saja

Abdur Rohman oleh Abdur Rohman
11 Juli 2026
A A
5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal

5 kebiasaan buruk saat ada orang meninggal

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai warga desa yang tinggal di lingkungan religius, saya sangat terkesan dengan kehidupan masyarakat yang sangat guyub. Dalam setiap hal, setiap orang seperti akan spontan menawarkan bantuan. Kami memang melakukan semua hal bersama-sama. Tak boleh ada yang tertinggal. Termasuk ketika ada yang meninggal.

Tapi, ada satu hal yang menurut saya makin berlebihan ketika ada orang meninggal. Betul bahwa muslim lainnya ibarat saudara. Dan salah satu keutamaannya, kami wajib ikut mensholatkan hingga memakamkan saat ada orang yang meninggal. 

Sayangnya, kini kewajiban tersebut malah kebablasan. Seringnya malah ketambahan budaya yang tak baik. Nah, berikut saya jelaskan!

#1 Semua orang bebas melihat orang meninggal dimandikan

Di desa saya, saat ada orang meninggal, informasinya bisa tersebar dalam hitungan detik. Itu sangat baik, sebab masyarakat langsung berbondong-bondong membantu proses pemakaman.

Ada yang menggali kubur, menebang pohon, mencari bambu sebagai keranda, mengambil terop, dan lain sebagainya. Tapi, ada satu hal yang menurut saya akhirnya berlebihan, yakni saat proses memandikan jenazah. 

Saya rasa, semua paham batasan-batasan aurat. Baik laki-laki maupun perempuan. Tapi, saat memandikan jenazah di desa, kadang banyaknya tamu membuat mereka tak sungkan untuk melihat proses pemandian yang meninggal. Padahal, mereka bukan siapa-siapanya.

Saya tidak masalah jika dia memiliki kepentingan. Misalnya orang yang paham cara memandikan jenazah. Tapi kadang banyak yang hanya berdiri untuk menonton saja. 

Ketidaksetujuan saya ini, selain masalah aurat, kadang juga malah jadi bahan gunjingan. Entah bentuk tubuhnya, atau apa saja tentang orang yang meninggal. Menyedihkan sekali.

Baca Juga:

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Mengapa Nasi Berkat Tahlilan Terasa Nikmat padahal Lauknya Sederhana?

#2 Ada ritual agar hantu tidak gentayangan

Cerita hantu di desa saya itu sangat populer. Makanya, banyak yang mengenal desa saya sebagai desa yang angker.

Saya tak menyangkal tentang adanya jin/setan. Sebagai orang beragama saya tetap percaya pada hal gaib. Tapi, kalau orang meninggal bakal hidup lagi dan jadi hantu, saya tidak percaya, sih.

Namun, dalam konteks desa saya, kepercayaan pada hal demikian kadang sampai membuat masyarakat berlebihan. Kadang, agar si arwah yang meninggal tidak bergentayangan, mereka sering melakukan ritual tertentu. Saya tidak tahu lebih tepatnya, sebab beda orang maka kepercayaan pada teknik ritualnya berbeda-beda.

Ada tetangga saya menanam telur di pojok pekarangan rumah supaya si arwah betah di rumahnya sendiri. Haduh, jadi si tuan rumah dong yang dihantui.

#3 Tuan rumah harus jadi story teller padahal lagi sedih ditinggal meninggal

Selanjutnya, setelah memakamkan yang meninggal, ada kebiasaan buruk yang menurut saya tidak pantas. Kebiasaan itu adalah kebiasaan tamu yang menuntut si tuan rumah menjadi story teller. 

Tamu model gini akan akan mengulik secara detail detik-detik sebelum yang bersangkutan meninggal. Kan tuan rumah lagi sedih itu.

Biasanya, mereka akan memulai dengan pertanyaan “sakit apa”. Oke, ini masih biasa. Namun, pertanyaan basa-basi itu akan merembet. Diobati ke mana saja, sejak kapan sakitnya, gimana kondisi anak/orang tua yang ditinggal, apa ada firasat tertentu. 

Pokoknya detail kayak wartawan infotainmet. Kalau si tuan rumah tidak menceritakan, si tamu akan terus mengejar kisah orang meninggal.

Masalahnya lagi, karena budaya yang berlebihan ini, si tuan rumah akhirnya harus bercerita berkali-kali sampai tujuh hari dengan cerita yang sama. Nggak kasihan?

#4 Niat menyumbang orang meninggal malah berubah jadi utang

Saya tahu, sudah banyak sebetulnya yang membahas masalah ini. Tapi, saya ingin menambahkan betapa tidak idealnya gaya orang bertamu pada orang yang sedang berduka di desa saya. 

Sejatinya, niat berkunjung ke rumah orang meninggal itu berbela sungkawa. Jika punya rezeki lebih, bagus ikut bersedekah.

Tapi di desa, hal demikian seakan-akan sudah berubah total. Orang yang berbela sungkawa, sumbangannya sudah tidak lagi untuk bersedekah, tetapi sebagai “utang” bahkan secara terang-terangan.

Sudah biasa di desa saya, warga mencantumkan nama ke beras sumbangan untuk orang meninggal. Kebiasaan ini kayak jadi “peringatan” bahwa tuan rumah juga harus menyumbang dengan nilai yang sama ketika si penyumbang berduka.

#5 Tahlil itu sedekah, tapi kini malah bikin tuan rumah susah

Ingat, SAYA TIDAK MENOLAK TAHLIL. Sebaliknya, saya sangat menyetujui budaya ini, sebab filosofinya kuat sekali. 

Terlepas dari doa-doa yang oleh beberapa golongan dianggap tidak akan sampai (saya percaya itu sampai), ada hal lain yang menurut saya tetap masuk akal. Maksud saya adalah amal jariyah.

Misalnya, saat saya mengundang orang untuk mendoakan nenek saya yang meninggal, saya melihat hidangan yang saya suguhkan sebagai sedekah. Apa yang saya sedekahkan adalah bentuk terima kasih saya pada nenek yang telah mendidik saya sehingga saya punya rasa ikhlas. 

Yakni, ikhlas memberikan suguhan pada para undangan. Mudah, kan. Apakah itu tidak disebut amal baik?

Ya tapi saya akui, beberapa tahlilan akhir-akhir ini memang malah kelewat batas. Orang-orang kadang sampai harus utang hanya untuk mengadakan tahlilan orang meninggal. 

Padahal, sedekah itu ya semampu kita, tak perlu sampai utang. Akhirnya hanya membuat kita sendiri susah. Nah, baru ini tidak baik. Maka dari itu, ini perlu diubah.

Penulis: Abdur Rohman

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2026 oleh

Tags: memandikan jenazahmeninggalorang meninggalsebab orang meninggalsumbangan orang meninggaltahlilan
Abdur Rohman

Abdur Rohman

Seorang warga sipil Bangkalan dengan selera yang kontradiktif: mencintai segala jenis olahan mie, namun memiliki alergi akut terhadap mie-literisme.

ArtikelTerkait

Ketika Orang Aceh Tahlilan di Jakarta

Tipe-tipe Orang yang Hadir dalam Tahlilan

1 Desember 2020
menu wajib berkat tahlilan mojok.co

5 Lauk yang Secara Misterius Selalu Ada di Berkat Tahlilan

26 Agustus 2020
Ketika Orang Aceh Tahlilan di Jakarta

Tahlilan, Tradisi Pererat Silaturahmi Sekaligus Penggerak Ekonomi

29 Juni 2023
Menganalisis Kelas Sosial Penyelenggara Tahlilan Berdasarkan Suguhannya terminal mojok

Menganalisis Kelas Sosial Penyelenggara Tahlilan Berdasarkan Suguhannya

15 Juni 2021
Selamatan Orang Meninggal di Gunungkidul: Tradisi Baik yang Berubah Jadi Ajang Adu Gengsi

Selamatan Orang Meninggal di Gunungkidul: Tradisi Baik yang Berubah Jadi Ajang Adu Gengsi

1 Mei 2024
Nasi Berkat Bungkus Daun Jati Terbaik, tapi Mulai Langka Tergerus Zaman

Nasi Berkat Bungkus Daun Jati Terbaik, tapi Mulai Langka Tergerus Zaman

5 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengakuan jujur saya sebagai orang Semarang menghadapi kuliner kambing Tegal yang garang Mojok.co

Pengakuan orang Semarang yang kalah mental menghadapi garangnya kuliner kambing Tegal

7 Juli 2026
3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang Mojok.co

3 Minuman Tegal yang Aman untuk Lidah Orang Semarang yang Nggak Suka Kuliner Menantang

5 Juli 2026
Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

Culture Shock Anak Jombang Tinggal di Bogor: Makan Bubur Ayam Malam Hari Itu Aneh dan Nggak Kenyang!

10 Juli 2026
Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

Tasikmalaya, Kota dengan UMK Imut yang Penuh Coffee Shop Baru

9 Juli 2026
Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

11 Juli 2026
3 Kali Gagal Tes Sekolah Kedinasan, Akhirnya Malah Lolos Kedokteran UGM yang Terpaksa Direlakan karena Biaya Mojok.co

3 Kali Gagal Tes Sekolah Kedinasan, Akhirnya Malah Lolos Kedokteran UGM yang Terpaksa Direlakan karena Biaya

6 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.