Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Fesyen

5 Alasan Tas Mewah Dijual dengan Harga Miliaran, Laku Banget Lagi!

Paula Gianita Primasari oleh Paula Gianita Primasari
14 April 2022
A A
5 Alasan Tas Mewah Dijual dengan Harga Miliaran, Laku Banget Lagi! Terminal Mojok.co

5 Alasan Tas Mewah Dijual dengan Harga Miliaran, Laku Banget Lagi! (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pasar bagi industri mode sesungguhnya sudah berada di titik jenuh. Perusahaan di bidang fashion berkompetisi dalam red ocean di mana pelaku bisnis dalam jumlah yang banyak berebut pangsa pasar yang sama. Akan tetapi, anomali terlihat pada penjualan produk tas mewah berharga fantastis. Permintaan produk tersier tersebut terus bertumbuh bahkan para calon pembelinya harus rela menunggu antrean untuk memperoleh tas impian mereka. Bukan hanya menyentuh angka puluhan juta, angka ratusan juta, bahkan miliaran pun tidak menjadi hal yang mustahil untuk brand tas high fashion seperti Hermes.

Salah satu toko Hermes (Shutterstock.com)

Bagi kita rakyat jelata yang belanja minyak goreng saja kudu berpikir berkali-kali, fenomena tas dengan harga ratusan juta tersebut terdengar mengada-ada. Toh, fungsi utama tas, kan, untuk membawa barang-barang pribadi. Jadi, buat apa beli mahal-mahal? Jika disuruh membandingkan dan membayangkan mempunyai uang 500 juta, kaum mendang-mending seperti saya jelas akan memilih mencicil rumah daripada membeli tas yang kalau dimakan saja nggak bikin kenyang.

Akan tetapi, kekepoan saya berlanjut untuk menelisik mengapa orang mau saja merogoh kocek seharga mobil baru hanya demi sebuah benda bernama tas? Ternyata, selain karena pasarnya memang masih ada, tas yang sering dijadikan alat flexing tersebut memang memiliki value yang pantas dilabeli dengan harga gila-gilaan.

#1 Penggunaan bahan dengan kualitas wahid

Alasan pertama dan yang paling masuk akal tentu saja berkaitan dengan proses produksinya, termasuk dalam pemilihan bahan baku. Bahan utama yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tas kelas atas tersebut adalah kulit hewan asli, seperti anak lembu. Seperti yang kita tahu, bahan kulit asli mempunyai mutu dan ketahanan yang lebih baik dibandingkan dengan bahan sintetis yang rentan terkelupas dimakan usia atau disebabkan penyimpanannya kurang tepat.

Belum lagi, jika material kulit yang dipakai berasal dari hewan-hewan eksostis yang lebih sulit didapat seperti buaya, alligator, atau burung unta, harga yang dipatok untuk satu buah tas bisa membuat kita geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak? Apabila untuk memperoleh kulit buaya saja harus didatangkan dari tempat khusus seperti Florida, Australia, dan Sungai Nil?

Kecuali itu, penambahan logam mulia sebagai material pelengkap turut bertanggung jawab atas menjulangnya harga tas mewah tersebut, di luar kesuksesan branding yang dilakukan oleh perusahaan terkait. Tengok saja bagian hardware tas seperti kunci dan gesper. Tidak sedikit dari brand high-end tersebut yang menggunakan palladium hingga emas sebagai aksesorinya. Terkadang, beberapa seri tas mewah bahkan menyematkan tambahan batu mulia seperti berlian sesuai dengan pesanan khusus para pelanggan yang rela membelanjakan uang lebih.

Faktor berikutnya, selain bahan premium yang digunakan, proses pengerjaan berbagai tas mewah tersebut turut pula menyumbang alasan mengapa harganya bisa selangit. Sebagai contoh, masing-masing unit tas Hermes dibuat secara manual oleh tangan pengrajin yang juga harus bertanggung jawab terhadap kualitas unit yang dikerjakannya. Tidak heran, pengerjaan satu unit tas ini bisa sangat lama sehingga biaya pembuatan yang dibebankan pun berlipat ganda. Oleh sebab itu, harga yang dipatok untuk satu buah tas Hermes saja bisa mencapai nominal ratusan juta bahkan hingga miliaran.

#2 Eksklusivitas

Alasan yang kedua adalah eksklusivitas yang dijanjikan oleh brand tas ternama papan atas produk mereka. Masih terkait dengan proses pembuatannya yang rumit, masing-masing seniman tas berkeahlian tinggi tersebut bisa menghabiskan waktu hingga 48 jam untuk sekali pengerjaan, tergantung dari detail dan kerumitan tiap-tiap seri. Melihat dari konsumsi waktu yang dibutuhkan, jelas tidak mungkin tas tersebut bisa diproduksi massal layaknya tas produksi mesin pabrik.

Baca Juga:

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan ‘Parkir Gratis’!

Sebuah tas mahal (Shutterstock.com)

Di samping pengerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi, setiap buah karya pengrajin Hermes akan menghasilkan karakteristik tas yang berbeda-beda mengingat prosesnya yang sangat sedikit sekali melibatkan mesin. Hampir semua proses dilakukan dengan tangan mulai dari memotong, menjahit, sampai memasang semua tetek bengeknya. Keunikan inilah yang menjadikan tas tersebut eksklusif dan pantas dibanderol dengan harga mencekik.

#3 Nilai investasi

Selanjutnya, alasan tas bernilai ratusan juta hingga miliaran tersebut tetap diburu oleh pencinta tas branded adalah sebagai instrumen investasi. Bagi kaum menengah seperti saya, mungkin investasi itu sebatas membeli tanah, emas, atau deposito di bank. Tetapi bagi para crazy rich, investasi tak melulu pada instrumen investasi konvensional. Mereka percaya bahwa tas mewah juga akan memberikan nilai jual yang lebih tinggi di kemudian hari, khususnya untuk seri tertentu yang memang langka.

Sebagaimana benda antik atau kuno yang semakin hari semakin bernilai tinggi, beberapa model tas mewah, khususnya merek Hermes, sering dijadikan alat investasi kaum borjuis. Misalnya saja, tas Birkin klasik diperkirakan memiliki harga jual dua kali lipat sejak produk tersebut dirilis di pasaran. Bagaimana bisa? Untuk contoh kasus Hermes ini, memang tidak semua orang bisa seenak jidat membeli seperti jika kita datang ke butik meskipun seandainya duit kita juga tidak terbatas. Untuk mendapatkan produk asli Hermes, seseorang diwajibkan terdaftar terlebih dahulu sebagai member VIP di toko resminya. Sudah jelas, untuk perkara membeli saja ribetnya setengah mati seperti ini yang artinya tidak sembarang orang bisa membelinya. Oleh karena itu, wajar saja jika tas mahal ini kemudian diincar banyak kaum jetset sebagai koleksi sekaligus investasi mereka.

#4 Simbol strata sosial

Alasan yang satu ini sudah menjadi rahasia umum. Selain jam tangan serta mobil sport, tas merupakan salah satu benda yang melambangkan kekayaan seseorang, khususnya kaum perempuan. Bahkan, sering terdengar selentingan jika belum menyanding Hermes, orang tersebut belum layak dinobatkan sebagai sosialita. Hal ini bisa dipahami mengingat harga satu tas Hermes seri tertentu bahkan bisa mencapai angka miliaran rupiah. Bagi beberapa orang, status sosial ini penting untuk dipertontonkan, entah untuk menunjang rasa percaya diri atau menciptakan image sebagai sosok yang sukses sehingga memuluskan urusan bisnis mereka di mata relasi serta klien.

Crazy rich, bingung duitnya buat apa (Shutterstock.com)

Saking kuatnya merek Hermes ini sebagai simbol kesuksesan dan kemakmuran seseorang, usaha persewaan tas tersebut juga laris manis di kalangan tertentu. Gosipnya, beberapa nama tersohor di negeri kita pernah menggunakan jasa ini demi tampil maksimal di depan khalayak dan mendapatkan validasi dari masyarakat. Nah, kalau bisnis sewanya saja bisa laris manis, sudah tentu penjualan tas mahal tersebut ikut terdongkrak. Artinya, selama minat pasar masih tinggi, produk tersebut masih akan eksis di dalam industri fashion.

#5 Demand tak sebanding dengan supply

Faktor terakhir adalah adanya permintaan yang tidak sebanding dengan penawaran. Alasan terakhir ini terkait dengan beberapa poin yang sudah dibahas sebelumnya. Ingat, tas mewah ini adalah produk yang dibuat dengan kuantitas terbatas padahal mungkin banyak orang yang menginginkan dan memiliki kemampuan untuk membelinya tetapi kesulitan dalam mendapatkan akses untuk memperoleh tas tersebut. Jika permintaan lebih tinggi daripada penawaran, sesuai hukum ekonomi, harga barang tersebut akan semakin naik. Tak terkecuali pada produk-produk mewah seperti tas Hermes ini.

Yang perlu diingat, tas Hermes ini termasuk dalam kategori veblen goods. Ini artinya, semakin tinggi harga suatu barang maka orang akan semakin getol mendapatkannya. Ini karena adanya keyakinan bahwa barang tersebut berkualitas super dan prestisius. Itulah sebabnya, Hermes, khususnya tas Birkin, membatasi pasokan mereka hanya untuk klien khusus. Terlebih, para klien mereka tersebut harus menunggu beberapa tahun sebelum tas situ mendarat ke tangan mereka. Ketimpangan antara pasokan yang terbatas dengan daya beli yang tinggi akan mendorong pertumbuhan harga tas mewah tersebut.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Audian Laili

BACA JUGA Menanggapi Tas Seharga 20 Juta dan Kalimat: Kaya Dulu Aja, Bos!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 April 2022 oleh

Tags: Hermespilihan redaksiTas MahalTas Mewah
Paula Gianita Primasari

Paula Gianita Primasari

Mahasiswa doktoral UNDIP jurusan Manajemen Pemasaran asal Semarang.

ArtikelTerkait

4 Oleh-Oleh Magelang yang Jarang Dilirik Wisatawan, padahal Sangat Pantas Jadi Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Magelang yang Jarang Dilirik Wisatawan, padahal Sangat Pantas Jadi Buah Tangan

7 Juni 2025
Kenapa Bapak-bapak Suka Pakai Helm Motor Gratisan dari Dealer Terminal Mojok

Kenapa Bapak-bapak Suka Pakai Helm Motor Gratisan dari Dealer?

6 Juni 2022
Keluh Kesah Tinggal di Cibarusah, Kecamatan di Ujung Kabupaten Bekasi

Keluh Kesah Saya 20 Tahun Tinggal di Cibarusah, Kecamatan di Ujung Kabupaten Bekasi

11 Maret 2025
Keunggulan The King’s Affection yang Nggak Ada di Kebanyakan Drakor Sageuk terminal mojok.co

Keunggulan The King’s Affection yang Nggak Ada di Kebanyakan Drakor Sageuk

6 November 2021
6 Perang Shipper First Lead vs Second Lead Terheboh di Drama Korea Terminal Mojok

6 Perang Shipper First Lead vs Second Lead Terheboh di Drama Korea

13 Juni 2022
4 Hal yang Sering Disalahpahami sebagai Bukti Kehadiran Makhluk Astral terminal mojok

4 Hal yang Sering Disalahpahami sebagai Bukti Kehadiran Makhluk Astral

12 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal mojok.co

Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal

14 Januari 2026
4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

11 Januari 2026
Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

Jalan Kedung Cowek Surabaya: Jalur Mulus yang Isinya Pengendara dengan Etika Minus

15 Januari 2026
MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

11 Januari 2026
KA Sri Tanjung, Penyelamat Mahasiswa Jogja Asal Banyuwangi (Wikimedia)

Pengalaman Naik Kereta Sri Tanjung Surabaya-Jogja: Kursi Tegaknya Menyiksa Fisik, Penumpangnya Menyiksa Psikis

13 Januari 2026
Jogja Kombinasi Bunuh Diri Upah Rendah dan Kesepian

Beratnya Merantau di Jogja karena Harus Berjuang Melawan Gaji Rendah dan Rasa Kesepian

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.