#3 Anak mudanya jamet
Ini juga pandangan yang bikin mereka makin kelihatan norak. Bermodal stigma lama dikombo sentimen yang tersebar di media sosial, kehidupan kaum muda Madura cuma direduksi jadi satu label, jamet!
Padahal, jamet itu fenomena umum, terutama di dataran Jawa. Lagian, apa salahnya jadi jamet? Selama nggak merugikan orang lain, toh itu cara mereka menegosiasikan identitas. Ini juga dilakukan oleh anak muda di mana-mana.
Anyway, kembali ke persoalan kehidupan anak muda. Identitas anak muda Madura itu seberagam anak muda daerah lain, mulai dari abang-abangan aktivis, anak band, sampai anak skena, semuanya ada! Buat yang masih underestimate ke gaya hidup pemuda pulau ini, coba deh sekali-kali mampir ke kafe-kafe fancy yang mulai banyak menjamur. Dijamin culture shock.
Saya ada cerita soal ini. Beberapa bulan lalu, teman dari Jogja sedang berkunjung ke Sumenep. Dia minta dicarikan tempat nongkrong yang menunya menarik dan kondusif buat ngobrol. Singkat cerita, saya bawa ke salah satu kafe favorit muda-mudi lokal. Di sana, dia mengakui culture shock melihat gaya hidup anak muda Sumenep yang nggak sesuai dengan isi kepalanya.
BACA JUGA: 3 Sisi Gelap Jembatan Suramadu yang Bikin Wisatawan Enggan Balik Lagi ke Madura
#4 Identik dengan besi
Soal ini, saya sendiri baru tahu beberapa tahun belakangan, semenjak konten-konten tentang Madura mulai ramai di media sosial. Saya nggak tahu dari mana asal muasalnya, tiba-tiba orang Madura jadi identik dengan besi.
Di tempat saya lahir dan dibesarkan, isu tentang perbesian duniawi hampir nggak relevan. Setelah tanya ke teman sesama Madura, barulah saya paham kalau memang ada satu daerah tertentu yang mayoritas warganya bergelut di industri besi, dan skalanya memang besar. Dari situ stigma ini menyebar, lalu digeneralisasi secara ugal-ugalan.
Keresahan soal ini juga sering muncul dalam cerita teman-teman di perantauan. Jadi, izin… saya menegaskan kalau nggak semua orang ber-KTP Madura punya hubungan romantis dengan besi.
Jadi, tolong, jangan tiap ketemu orang Madura langsung nanya harga besi. Norak tau nggak!
Madura itu beragam, jangan jadikan pikiran norak dan malas belajar kalian itu sebagai modal buat menstigma secara ugal-ugalan. Kalau memang masih males, saya coba sederhanakan biar nggak butuh mikir panjang. Wajah kami beragam dan berlapis-lapis. Ada yang keras, ada yang halus. Ada yang jamet, ada juga yang skena. Dan ada yang jual besi, juga ada yang jadi akademisi. Jadi sebelum sibuk menilai dari jarak jauh, mungkin ada baiknya sesekali mendekat, ngobrol, dan dengerin cerita kita.
Penulis: Puzairi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Hal yang Dibenci dan Melukai Hati Orang Madura, tapi Sering Dianggap Biasa Saja oleh Banyak Orang
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















