Topik soal daerah asal biasanya jadi menu paling menarik kalau lagi ngobrol bareng teman lintas daerah. Dari situ biasanya obrolan melebar ke mana-mana, mulai dari flexing pariwisata, bandingin budaya, sampai adu nasib masalah sosial. Dari sekian banyak obrolan begini, saya menemukan pola yang cukup seragam, yaitu ketidaktahuan orang luar Madura tentang Madura ternyata sudah keterlaluan.
Banyak yang akhirnya ngaku kalau selama ini bayangan mereka tentang Madura tertutup kabut tebal stigma. Untungnya, sebagian bisa tercerahkan setelah diajak ngobrol.
Masalahnya, nggak semua orang mau update isi kepala. Ada juga yang tetap “batu” mempertahankan pandangan norak dan stigmatik. Di tengah dunia yang makin terhubung secara global, ternyata banyak yang cara mikirnya masih kolot, terutama kalau urusan melihat Madura.
Berikut beberapa pandangan norak orang luar terhadap orang Madura yang sering saya temui.
#1 Nggak tahu kalau Madura itu punya empat kabupaten
Di Madura ada empat kabupaten. Ini bukan pengetahuan yang disembunyikan oleh elit global, bukan juga konspirasi yang dihapus dari buku sejarah Indonesia, tapi masih saja banyak orang luar yang nggak tahu.
Saya sering dapat pertanyaan konyol dari teman non-Madura soal kejadian tertentu di Madura. Misalnya, ada kejadian di Kabupaten Bangkalan, tapi yang ditanya detail peristiwanya malah saya yang orang Sumenep. Ini jelas nggak nyambung. Jarak Sumenep ke Bangkalan itu setara jarak Surabaya-Lumajang. Sekarang pertanyaannya, apakah orang Surabaya tahu detail peristiwa yang terjadi di Lumajang? Ya belum tentu, kan!
Belum lagi kalau ngobrolin soal budaya. Memang ada beberapa budaya yang sama, tapi nggak semuanya seragam. Perubahan-perubahan sosial bikin tiap daerah berkembang dengan caranya masing-masing. Dalam cara bertutur, misalnya.
Dulu, saya dan beberapa teman-teman yang kuliah di Jawa sering diragukan kemaduraannya cuma karena tutur bahasa yang—menurut pikiran norak mereka—nggak menggambarkan Madura. Katanya “Kok bahasanya halus? Bukannya orang Madura bicaranya kasar, ya?” Di titik ini kelihatan banget mereka mainnya kurang jauh.
#2 Menganggap orang Madura SDM rendah
Ini sering banget saya temui di media sosial. Sentimen soal orang Madura sebagai SDM rendah banyak tersebar di konten-konten, kolom komentar, dan mungkin juga menetap di alam bawah sadar orang luar. Meski memang, kalau bicara data, tingkat pendidikan di Madura itu konsisten jadi yang terendah di Jawa Timur, tapi itu nggak bisa dijadikan acuan mutlak buat menggeneralisasi.
Coba tengok realitas sedikit. Berapa banyak akademi berdarah Madura yang lagi berkarir di kampus-kampus besar? Kayaknya hampir nggak ada kampus di pulau Jawa yang nggak punya dosen asal Madura.
Belum lagi fakta kalau banyak penerbit buku independen kayak Diva Press, Basabasi, Cantrik Pustaka, dan Antinomi itu didirikan oleh pemuda asli Madura. Selain itu, komunitas-komunitas progresif juga tumbuh subur, mulai dari komunitas literasi, sastra, kesenian, sampai hobi, tinggal pilih aja sesuai selera!
Memang, kalangan akademisi, budayawan, dan aktivis ini masih minoritas, tapi seenggaknya ini membuktikan kalau anggapan SDM Madura itu rendah perlu ditinjau ulang.
Baca halaman selanjutnya



















