4 kuliner Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya berbeda

4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda Mojok.co

4 jajanan tradisional Bandung yang bikin orang Semarang gagal paham. Nama dan tampilan mirip, tapi rasanya jauh berbeda (unsplash.com)

Ada yang pernah cicipi kuliner Bandung ini?

Sebagai orang Semarang yang belasan tahun menumpang hidup di Jogja, urusan kuliner Jawa Tengah dan sekitarnya saya sudah khatam. 

Berbekal jam terbang itu, saya datang ke Bandung dengan rasa percaya diri tinggi. Saya merasa sudah punya modal kuat untuk membandingkan camilan Bandung dengan camilan yang ada di Jawa Tengah dan sekitarnya. 

Awalnya, saya sempat sok tahu. Melihat kuliner pinggir jalan di Bandung, saya sering bergumam bahwa camilan di sana hanyalah hasil copy-paste dari apa yang biasa saya temukan. Secara tampilan memang mirip dan nama-namanya terasa akrab di telinga. 

Akan tetapi, kepongahan saya ambyar begitu saja setelah mencicipi kuliner tradisional Bandung. Sederet kuliner kaki lima di sana ternyata punya karakter rasa yang jauh berbeda dengan bayangan saya. 

#1 Bandros dan gandos, nama dan bahan-bahannya mirip, tapi rasanya berbeda

Secara esensi, keduanya memang waffle lokal yang lahir dari adonan tepung beras dan parutan kelapa. Namun, begitu bicara soal resep rahasia, bandros dan gandos punya prinsip yang berbeda. 

Bandros menggunakan tambahan tepung tapioka sehingga sensasi gurih dan asinnya jauh lebih dominan. Sebaliknya, gandos khas Semarang punya kartu as berupa telur ayam. Alhasil, perpaduan rasanya lebih kompleks, ada gurih, asin, dan  sentuhan manis yang samar di lidah.

#2 Jajanan Bandung kue balok bukan sekadar pukis yang salah adonan

Keduanya memang sering tertukar karena sama-sama berbentuk setengah lingkaran. Padahal, kue balok asal Bandung punya tekstur yang jauh lebih berat dan sering disajikan setengah matang. Sementara, pukis jauh lebih ringan, fluffy, dan berongga. Penggunaan ragi dan santan dalam adonannya membuat pukis terasa lebih enteng saat dikunyah. 

Selain itu, pukis biasanya dimasak sampai matang total hingga mengembang sempurna ke atas. Jelas sangat berbeda dengan karakter kue balok yang lebih padat dan agak susah ditelan tanpa air minum.

#3 Surabi khas Bandung bukan saudara kandung serabi dari Jawa Tengah

Sekilas, surabi Bandung dan Jawa Tengah mungkin tampak sama. Tapi, begitu dicicipi, surabi dan serabi itu seperti dua orang yang punya kepribadian jauh berbeda. Mulai dari bahan baku sampai cara memasaknya.

Surabi Bandung punya ciri khas yang unik. Kudapan ini dimasak pakai tungku tanah liat yang meninggalkan aroma smoky. Teksturnya tebal dan berisi. Adonannya adalah perpaduan tepung terigu dan tepung beras. Soal topping, surabi bukan cuma bermain aman dengan yang manis-manis. Tapi, juga varian asin seperti oncom, telur, sampai ayam.

Bandingkan dengan serabi Solo yang bertekstur tipis, renyah di pinggiran, tapi lembut di tengah. Menggunakan bahan dasar tepung beras, santan, dan gula, serabi ini sering disajikan dengan cara digulung dalam balutan daun pisang yang bikin aromanya wangi. Rasanya pun dominan manis. Basanya bertabur meses atau nangka.

Nah, kalau mau ditarik lagi perbandingannya, ada pula serabi Ambarawa. Ukurannya jauh lebih mungil dibanding teman-temannya dari Bandung maupun Solo. Uniknya, serabi dari kota kecil di Jawa Tengah ini selalu disajikan berenang dalam limpahan kuah santan dan gula jawa yang pekat.

#4 Wajit, saudara dekat wajik yang sembunyi di balik klobot

Meskipun namanya hanya beda satu huruf, tekstur dan bahan pelengkap keduanya ternyata cukup berbeda. Wajit khas Sunda diracik dari campuran beras ketan, gula merah, dan kelapa yang dimasak sampai super lunak dan lengket. 

Ciri paling kentara dari wajit adalah bungkusnya yang menggunakan daun jagung kering alias klobot dengan tekstur yang cenderung basah dan menempel di mulut.

Di sisi lain, wajik lebih mengandalkan beras ketan yang dimasak bersama santan dan gula merah sampai padat berisi. Teksturnya lebih solid dan disajikan dengan potongan berbentuk belah ketupat. Wajik juga tak memakai daun jagung. Tapi, cuma dibiarkan terbuka di nampan anyaman atau tampah. Versi modern wajik Jawa Tengah malah hanya sekadar dibungkus plastik bening saja.

Itulah beberapa kuliner Bandung yang sempat membuat saya terkecoh. Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa meski nama dan wujud sering kali menipu, selalu ada cerita dan karakter rasa unik yang tersimpan di balik setiap santapan.

Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Pengakuan orang Semarang yang kalah mental menghadapi garangnya kuliner kambing Tegal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version