4 Ciri Orang yang Perlu Dihindari dalam Transaksi Utang-Piutang – Terminal Mojok

4 Ciri Orang yang Perlu Dihindari dalam Transaksi Utang-Piutang

Artikel

Setiap orang yang ingin meminjami uang, pasti berharap uangnya kembali tepat waktu, entah berapa pun jumlahnya. Sayangnya transaksi utang-piutang sering tidak berjalan lancar dan justru memecah pertemanan.

Tidak hanya setiap orang, semua lembaga keuangan pemberi kredit pasti juga memiliki target waktu pengembalian. Makanya, sering kali saat menagih utang yang menunggak, pihak penagih bersikap dingin, keras, dan terkesan menyeramkan. 

Untuk itu, perlu adanya indikator penilaian secara dini untuk mengetahui apakah calon debitur (pengutang) layak diberikan pinjaman atau tidak. Kalau tidak bisa-bisa kamu yang kelimpungan menagihnya. Orangnya menghilang, uang pun tinggal kenangan. Utang-piutang tidak pernah jadi perkara sederhana. Ketahuilah ciri-ciri calon pengutang yang kayaknya nggak bakal ngembaliin uangmu ini.

Ciri #1 Jarang berhubungan, sekali tanya kabar langsung bermaksud pinjam uang

Kebanyakan orang pernah menjumpai hal demikian. Dia yang tak pernah berkabar, tiba-tiba SMS, telepon, atau kirim pesan lewat medsos. “Assalamu’alaikum. Gimana kabarnya?” Padahal kamu pun sudah lupa kapan berkontak terakhir dengan dia.

Tanpa ada angin lesus atau hujan durian runtuh, dia langsung bertanya,“Kamu ada uang ** juta nggak? Aku lagi butuh banget ini.” Tentu saja kaget lah. Secara udah lama nggak kontakan, sekarang juga entah tinggal dimana. Yang beginian lebih baik dihindari. Kemungkinan besar urusan utang-piutang dengan orang seperti ini tidak berjalan lancar. Antara terlambat mengembalikan dan tidak kembali sama sekali.

Ciri #2 Sering gonta-ganti nomor HP maupun WhatsApp

Ada pernyataan bahwa setiap orang yang nomor HP-nya sudah bertahan sampai 10 tahun lebih, maka orang tersebut bisa dipercaya. Saya sendiri memiliki nomor HP yang sudah bertahan lebih dari 10 tahun. Artinya? Artikan sendiri saja. Hahaha.

Hampir setiap orang yang sering ganti nomor HP bisa dipastikan memiliki masalah. Entah masalah keluarga, teman, utang-piutang, atau hal lainnya. Intinya cuma satu, untuk menghindar dari teman dan kenalannya. Coba bayangkan kalau kamu memberi utang ke orang kayak gini. Eh beberapa jam setelah diberi utang, nomor sudah tidak aktif. 

Kalaupun aktif (dan saya yakin ini hanya sementara), WhatsApp yang sering digunakan untuk berkomunikasi akan diblokir olehnya. Entah alasannya apa ngeblokir. Padahal awalnya merengek minta bantuan, giliran sudah dibantu, malah ngeblokir. Mending nggak usah berurusan dengan tipe orang yang satu ini. 

Ciri #3 Orang yang suka bilang, “Besok ya…”

Maksudnya adalah orang ini selalu menunda-nunda pembayaran utang. Sebenarnya tidak hanya utang, dengan hal lain juga suka menunda-nunda. Artinya, sikapnya untuk memprioritaskan orang lain sudah hilang. Kalau begini gimana mau bayar utang cepet?

Misalnya kamu segera butuh uang tapi saat ditagih dia malah menjawab, “Besok ya….” Lalu kamu tagih lagi dan mangkir lagi dengan jawaban yang sama. Fix nggak usah diladeni.

Ada kisah yang sangat parah dialami oleh anggota koperasi tempat saya bekerja. Niatnya baik untuk membantu tetangga, dipinjamilah tetangganya beberapa rupiah. Janjinya akan dikembalikan dalam satu minggu. Setiap ditagih, jawabannya, “Lagi nggak punya uang, Mbak. Besok lah kalau ada uang.” 

Begitu terus sampai berminggu-minggu. Yang bikin jengkel, tetangganya malah beli motor baru. Utang-piutang dengan orang yang plin-plan seperti ini sebaiknya dihindari.

Ciri #4 Orang yang suka bilang “Bunga bank itu riba.”

Untuk masalah riba akan bunga bank silakan kembali ke kepercayaan masing-masing. Entah halal atau haram tergantung sikap dan ilmu yang kita terima. Cuma yang paling ngeselin bagi saya, terutama para pekerja lembaga keuangan, kalau sudah tahu riba, kenapa masih pinjam uang di lembaga keuangan? Kenapa masih nabung di tempat kami?

Bagi kami, alasan tersebut sangat menjengkelkan. Belum lagi jika mereka beralasan, “Kemarin lagi mepet, Mas. Terpaksa pinjam di sini.” Itu hal yang paling konyol dalam sejarah pendengaran nasabah. Pas ditagih, malah berteriak “Haram, kuwi riba, Mas.” Ah pingin tak hiiih.

Pernah pada waktu penagihan, saya dan teman tim menagih anggota yang statusnya macet (keterlambatan angsuran lebih dari setahun). Tentu saja kami melakukan “pendekatan” khusus. Tapi beliau malah berujar,

“Ingat Mas-mas. Bunga bank itu haram. Aku nggak mau ngasih barang haram ke kalian, Mas.”

“Lho, kan yang berutang wajib melunasi, Pak. Kalau gitu ngapain ngutang di tempat kami?”

“Pokoknya saya nggak mau bayar. Titik.” Eh malah ngegas.

Jadi, kalau mau berutang tanpa bunga-bungaan, mending berutang ke orang tua saja. Tidak perlu sampai ke bank. Dijamin aman dari tagihan. Malah mungkin dikasih sekalian, nggak dianggap berutang. Mau nabung di bank pun nggak usah. Daripada bikin ribet banyak orang sih.

Utang-piutang itu boleh saja dilakukan, yang penting komitmen buat mengembalikannya harus dijaga betul. Ada beberapa kasus utang-piutang yang bisa membantu menjalin tali silaturahmi, justru berakhir di balik jeruji besi. Kan nggak enak.

Memberi utang juga termasuk orang baik. Membantu meringankan beban orang lain. Tapi dalam hal itu juga harus dilihat kondisi pribadi dan orang yang mau berutang.

BACA JUGA Biar Nggak Gagal Paham, Saya Kasih Tahu Bedanya Bank, Leasing, dan Koperasi dan tulisan Hepi Nuriyawan lainnya.

Baca Juga:  Diteror Debt Collector Pinjol Lebih Ngeri dari Horor Suster Keramas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.