4 Alasan Markeshow JTV, Stand-up Comedy ala Jawa Timuran Harus Kembali Mengudara – Terminal Mojok

4 Alasan Markeshow JTV, Stand-up Comedy ala Jawa Timuran Harus Kembali Mengudara

Artikel

Muhammad Bintang Aldijana

Sekitar 2016 dan 2017, ada acara stand-up komedi berbahasa Jawa bernama Markeshow di stasiun televisi lokal JTV. Acara itu menampilkan komika melakukan stand up comedy dengan full menggunakan bahasa Jawa. Walaupun tidak ada seri lanjutan dari acara tersebut, rekaman lawas acara Markeshow masih disiarkan di JTV sampai sekarang. Beberapa penampilan juga dapat ditemukan di kanal YouTube @markeshowjtv. Seharusnya acara stand-up comedy berbahasa Jawa seperti Markeshow itu tetap dilanjutkan dalam seri-seri terbaru. Hal tersebut setidaknya disebabkan oleh beberapa alasan.

Pertama, acara stand-up comedy Markeshow bisa menjadi ajang melestarikan tradisi seni bahasa Jawa yaitu parikan. Parikan adalah seni pantun bahasa Jawa yang biasa digunakan untuk membuat guyonan. Dalam acara Markeshow, komika yang sedang melakukan aksi di atas panggung selalu menggunakan parikan dalam membuka dan menutup sebuah penampilan.

Misalnya ketika komika Mas Yudhit melakukan penampilan di acara Markeshow. Dia membuka dengan parikan “Isuk-isuk sarapan pecel.. Mangan pecel nang ndhuwur tekel.. Lak sek kerjo awakmu ngko pegel.. Lak diterusno gegermu tugel..”

Sebenarnya isi parikan yang dilantunkan Mas Yudhit itu tergolong tidak masuk akal. Frasa “gegermu tugel” itu dalam bahasa Indonesia berarti punggungmu patah. Berawal dari sarapan pagi, lalu bekerja, dan menyebabkan punggungnya patah. Sungguh ungkapan yang “nyeleneh”. Namun, justru di situlah letak kelucuannya.

Dalam bahasa Jawa, memang kerap ditemui ungkapan yang kesannya nggak masuk akal, tapi mempunyai arti dan makna yang mendalam dan sukar dijelaskan. Contoh dari ungkapan dalam bahasa Jawa yang “nyeleneh” itu bisa ditemui juga dalam frase “nguntal jagad” yang artinya adalah menelan dunia. Frasa tersebut secara denotatif memang nonsense tapi justru di situ lah ciri khas ungkapan dalam bahasa Jawa. Ungkapan nyeleneh lain yang biasanya juga digunakan dalam parikan adalah kalimat “Awan-awan mangan dingklik..” yang artinya siang-siang makan kursi.

Kedua, acara stand up comedy Markeshow diisi oleh komika-komika yang sudah punya jam terbang di acara-acara televisi nasional. Nama-nama komika dalam acara Markeshow yang sudah Go National itu yaitu Mas Yudhit (kontestan SUCI season 4), Sega (kontestan SUCI season 5), Wahyu Togog (kontestan SUCI season 8), Deddy Gigis (kontestan SUCA season 2), dan Ubet (Kontestan Api Lagi MNC TV).

Nama-nama komika tersebut selain mahir dalam melakukan stand up dengan bahasa Jawa juga tak kalah lucu ketika beraksi di ajang televisi nasional. Saya membayangkan kalau acara Markeshow JTV masih ada, mungkin acaranya bisa dikembangkan menjadi semacam kompetisi seperti ajang-ajang stand up yang ada dalam televisi nasional. Dengan begitu, acara Markeshow bisa menjadi ajang yang kompetitif sekaligus produktif dimana bakat-bakat stand up komedian lokal bisa lebih tertampung dan tersaring.

Ketiga, dalam acara stand-up comedy Markeshow para komika bisa lebih mengeksplor hal-hal lucu yang familiar dengan kota-kota di Jawa khususnya Jawa Timur-an. Misalnya saat Deddy Gigis menceritakan keresahannya terhadap orang Surabaya yang suka meludah sembarangan saat berkendara motor. Dia yang notabene juga orang Surabaya lantas mengejar orang itu dan meludahi balik. Namun, kelucuan terjadi karena dia lupa membuka kaca helm.

Selain menceritakan keresahannya terhadap orang Surabaya yang suka meludah saat berkendara, Denny Gigis juga menyampaikan unek-uneknya yang menyangkut Pantai Kenjeran yang terletak di kota Surabaya. Dia membayangkan Godzilla muncul dari laut Pantai Kenjeran yang biasa dikunjungi orang-orang yang sedang pacaran. Ketika Godzilla itu muncul, dia membayangkan orang-orang yang sedang asyik pacaran itu kaget dan langsung membetulkan baju dan celananya.

Komika lain dalam acara Markeshow yang pernah mengeksplor hal lucu Jawa Timur-an yaitu Wawan Saktiawan asal Malang. Dia menceritakan keluh kesah saat mendengarkan orang Jawa Timur-an meniru kosa kata “loe gue” ala orang Jakarta. Dia juga membahas aksen khas orang Jawa Timur-an seperti dirinya yang mengucapkan kota Batu dengan “kota mBatu” atau kota Galek (Trenggalek) dengan “kota ngGalek”.

Pernah juga mas Wawan asal Malang itu menyinggung makanan khas kota Kediri yaitu sambel tumpang. Dia menyebut sambel tumpang itu makanan yang hari Minggu dimasak, hari Senin dihangatkan, hari Selasa dihangatkan lagi, sampai hari Kamis berubah menjadi sayur blendrang.

Memang, seharusnya acara Markeshow di JTV itu terus diadakan dan dilestarikan. Bagi orang Jawa Timur seperti saya, acara Markeshow JTV memberikan nuansa berbeda terhadap stand-up comedy yang biasanya dihelat di stasiun televisi nasional. Selain menghidupkan kembali tradisi parikan yang sudah mulai jarang didengarkan oleh orang Jawa sendiri, acara Markeshow JTV memberikan kesan unik dengan menyuguhkan humor terkait hal-hal berbau lokal atau dekat dengan telinga.

BACA JUGA Menurut Saya, Audisi SUCI IX bak Pelamar Kerja Bertemu Orang Dalam dan tulisan Muhammad Bintang Aldijana lainnya.

Baca Juga:  Dilema Jadi Orang Kota Batu yang Dikira Masih Bagian dari Malang
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
8


Komentar

Comments are closed.