Pengalaman Mengajarkan Saya Mengatasi Sea Sickness alias Mabuk Laut – Terminal Mojok

Pengalaman Mengajarkan Saya Mengatasi Sea Sickness alias Mabuk Laut

Artikel

Saya dan keluarga termasuk pengguna setia kapal laut. Selain tak terlalu mahal tarif per kepalanya, kapal juga bisa digunakan untuk mengangkut moda transportasi lainnya seperti motor atau mobil. Sayangnya, moda transportasi ini juga rawan membuat orang mabuk. Tentu mabuk yang dimaksud bukan mabuk dikarenakan miras. Melainkan mabuk karena kapal yang senantiasa digoyang dan diombang-ambingkan oleh gemulai ombak bercampur angin. Mabuk semacam ini lebih dikenal sebagai mabuk laut alias sea sickness kalau dalam bahasa Inggrisnya.

Umumnya, orang yang terkena mabuk laut akan mengalami gejala-gejala seperti muntah dan pusing. Bagi yang baru pertama kali naik kapal laut mungkin akan merasakan hal semacam ini. Tak perlu malu atau takut jika Anda mengalami sea sickness.

Saya yang sudah puluhan kali naik kapal saja masih bisa mengalami sea sickness. Terutama ketika saya sudah sampai tujuan beberapa jam kemudian. Hanya saja saya tak sampai mengeluarkan isi perut alias muntah.

Bagi yang mungkin ingin atau harus naik kapal laut untuk pertama kali, saya akan memberikan beberapa tips. Tips ini saya susun berdasarkan pengalaman naik kapal laut selama hampir puluhan tahun. Semoga bermanfaat bagi Anda yang membacanya.

Menggunakan kapal feri

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, ukuran serta kecepatan kapal menentukan tingkat goyangan kapal terhadap permukaan laut. Semakin kecil dan cepat, maka semakin besar goyangan yang ditimbulkan. Dengan demikian, peluang seseorang terkena mabuk laut bisa semakin meningkat.

Oleh karena itu saya kerap memilih kapal laut jenis ferry ro-ro yang ukurannya jauh lebih besar daripada kapal cepat (semacam speedboat). Meskipun waktu tempuhnya dua kali lipat dari kapal cepat, yakni dua jam, kapal ferry ro-ro memiliki tingkat goyangan atau hentakan yang lebih sedikit. Sea sickness bisa diminimalisir.

Keluar dari ruangan penumpang

Ketika naik kapal jenis ferry ro-ro, saya biasanya akan keluar dari ruangan penumpang. Aktivitas ini biasanya saya lakukan ketika kapal sudah melepas jangkarnya alias berlayar. Bisa dibilang metode ini terbilang ampuh untuk mengurangi efek mabuk alias pusing akibat naik kapal laut.

Ketika Anda berada di luar ruangan penumpang, cobalah untuk memandang ke bawah alias ke permukaan laut. Melihat gerakan kapal yang maju setidaknya mampu mengaburkan sinyal di otak akan gerakan naik turun kapal yang bikin pusing. Kalau sangat beruntung, Anda bisa saja sekalian melihat kawanan lumba-lumba saling berenang dan berkejaran.

Tapi, jangan sampai Anda lengah ketika sedang menyandarkan diri di rail pembatas. Terlebih jika Anda sedang membawa anak kecil seperti bayi atau balita. Sebab celah-celah rail pembatasnya tergolong cukup besar untuk dilewati mereka. Terlebih tinggi rail-nya tak sampai dada orang dewasa.

Tidur

Selain keluar dari ruangan penumpang, tidur bisa menjadi alternatif lainnya untuk mencegah efek mabuk laut. Kalau boleh saya menyarankan, usahakan untuk tidur sebelum kapal berlayar. Sebab ayunan ombak selama di perjalanan bisa saja menyulitkan Anda untuk tidur.

Kalau ingin tidur, sebaiknya Anda memilih ruangan yang menyediakan lesehan atau tempat tidur. Kalau tak bisa memejamkan mata, mode tiduran juga dapat mencegah potensi terkena mabuk laut. Mode ini bisa membantu kepala mereduksi efek goyangan dari kapal.

Memperhatikan waktu keberangkatan

Jika kegiatan naik kapal dilakukan dalam rangka kegiatan yang tidak dikejar waktu maupun kepentingan, ada baiknya untuk memperhatikan waktu keberangkatannya. Sebab musababnya ada beberapa waktu dimana gelombang laut cenderung tinggi.

Pertama, jangan berangkat naik kapal di malam hari. Pada waktu tersebut, gelombang laut cenderung sedang tinggi-tingginya. Terlebih jika hari sedang hujan atau berangin.

Kedua, usahakan naik kapal di luar musim penghujan. Sama seperti paragraf sebelumnya, gelombang laut di bulan-bulan penghujan juga tergolong tinggi. Tak jarang hal ini juga turut memengaruhi waktu tempuh kapal hingga berjam-jam lamanya.

Oleh karena itu, bagi yang merencanakan ingin naik kapal, usahakan untuk berangkat di bulan-bulan kering alias musim kemarau atau saat hari sedang cerah. Pada waktu tersebut, gelombang laut tidak begitu tinggi alias cenderung santai. Hanya saja Anda harus siap dengan yang namanya panas-panasan.

Demikian beberapa tips yang bisa Anda coba untuk meminimalkan sea sickness akibat naik kapal laut. Jika masih merasakan mabuk, mungkin anda bisa mencoba minum obat anti mabuk seperti Antimo. Maaf ya kalo jadinya sedikit ngiklan begini. Hehehe.

BACA JUGA 3 Salah Kaprah tentang Mabuk Perjalanan dan tulisan Muhammad Fariz Kurniawan lainnya.

Baca Juga:  Telat Menikah Itu Bukanlah Sebuah Masalah, dan Ini Serius
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.