3 Salah Kaprah tentang Mabuk Perjalanan – Terminal Mojok

3 Salah Kaprah tentang Mabuk Perjalanan

Artikel

Mabuk perjalanan sangat menyengsarakan. Orang lain bersuka cita liburan keliling kota, orang yang mabuk perjalanan sibuk muntah-muntah sepanjang jalan.

Mabuk di jalan biasanya disebabkan oleh gerakan kendaraan dan akan berhenti sendiri saat kendaraannya setop. Oleh karena mabuk perjalanan sering ditemukan, saya pengin cerita tentang tiga salah kaprah soal penyakit on the road ini.

#1 Orang yang biasa mabuk di jalan, naik transportasi apa pun pasti muntah

Nggak semua alat transportasi bikin mual penumpangnya. Saya sendiri sebagai bagian jamaah yang kerap mabuk perjalanan, tidak akan mabuk kalau naik mobil di jalan raya yang mulus dengan lalu lintas yang sepi. Tapi begitu mobil kena jalan yang macet, saya akan mulai merasa mual. Soalnya laju kendaraan jadi tersendat-sendat. Kadang digas, lain kondisi direm mendadak. Itulah sesungguhnya yang menyebabkan mual.

Begitu pula kapal. Saat naik kapal, sebagian orang akan muntah. Istilahnya mabuk laut. Tapi tak semua orang yang mabuk darat otomatis muntah-muntah saat naik kapal. Dalam beberapa kasus yang saya temui, teman dan kerabat yang mabuk darat malah nggak muntah ketika di atas kapal atau perahu.

Mereka termasuk saya malah berpeluang besar muntah ketika berada di dalam mobil. Di mana mobilnya melaju nggak konsisten. Jadi fiks yhaa, bukan karena jenis alat transportasinya, melainkan gerakan kendaraan selama melaju.

Baca Juga:  Rekomendasi Pengharum Mobil selain Stella Jeruk yang Anti Bikin Mual

#2 Pasti karena masuk angin

Salah kaprah kedua adalah masuk angin. Plisss deh, masuk angin sama mabuk perjalanan itu beda kali. Ibarat pensil sama pulpen. Sekilas keduanya sama-sama bisa menghasilkan tulisan, tapi bahannya berbeda.

Masuk angin punya gejala dulu, sedangkan mabuk perjalanan nyaris tak memiliki gejala, selain terdiam beberapa saat sebagai penanda mau muntah. Masuk angin biasanya karena terlalu lama kena angin malam, kena AC, lembur, hujan-hujanan, atau kecapekan. Sedangkan orang sehat pun bisa tiba-tiba mabuk.

Lantaran berbeda, penanganannya juga beda. Ini yang kadang nggak dipahami orang lain, bahkan keluarga sendiri. Orang mabuk kok malah disuruh minum Tolak Angin, Antangin, Bintang Toedjoe, dan sebangsanya.

Ealah, bukannya membikin reda, obatnya pas masuk ke perut malah bingung apa yang mau dia sembuhkan. Beda server.

Sebetulnya menangani mabuk perjalanan simpel banget. Coba deh kendaraannya berhenti dulu dan orang yang mabuk turun. Kemudian muntah sampai tuntas. Jangan langsung masuk kendaraan lagi.

Istirahat dulu sejenak, tapi bukan tidur loh ya. Terus disuruh minum yang hangat-hangat, dengan aroma jahe nggak masalah, malah bagus. Terakhir, sebelum memantapkan diri naik kembali ke kendaraan, minum obat anti-mabuk perjalanan.

Obat anti-mabuk perjalanan efeknya jelas berbeda sama obat masuk angin. Kalau orang yang baru minum obat masuk angin biasanya beberapa saat setelahnya bakalan kentut. Sedangkan minum obat anti mabuk perjalanan, efek orang akan tertidur. Walhasil, tidur itulah yang membikin orang tertahan buat nggak mabuk perjalanan.

Baca Juga:  Ngomong Bahasa Palembang Tak Sekadar Mengganti Huruf Vokal ‘a’ Jadi ‘o’

#3 Mabuk perjalanan pasti karena duduk di belakang

Saya sering dikasih tahu orang tua, supaya nggak mabuk perjalanan harus duduk di depan. Kata mereka duduk di belakang bisa memicu mabuk perjalanan.

Penasaran, saya pun mencari-cari informasinya di internet. Saya membaca sebuah artikel, duduk di belakang, baik di mobil atau bus ternyata memang bisa memicu mabuk kendaraan karena pergerakan roda dan keseimbangan otak.

Nyaris semua moda transportasi darat, termasuk bis, punya sistem kendali roda yang bergerak mengikuti setir. Sedangkan mesin akan lebih dominan menggerakkan roda belakang. Ketika berbelok penumpang yang duduk di depan nggak akan mengalami pusing sebab ikut bersama alur roda depan.

Sementara penumpang yang duduk di belakang terkena haluan mobil atau bus. Wajar kalau di medan yang berkelok, orang akan lebih cepat mabuk.

Namun saya juga sudah membuktikan posisi duduk tak berpengaruh signifikan. Duduk di depan, apalagi di sebelah sopir, juga berpotensi menimbulkan mabuk perjalanan. Karena di mana pun duduknya, kondisi yang dihadapi tetap sama: jalan macet.

Ketika ngerem mendadak, yang duduk di depan langsung sangat kerasa. Perut pun terguncang. Tiba-tiba mual begitu saja. Terlebih penumpang yang biasa mabuk macam saya, kemungkinan besar akan pusing melihat jalan raya yang berkelok-kelok.

Di belakang malah enak. Nggak lihat jalan berkelok atau tanjakan yang akan dilalui. Bisa tidur santai.

Baca Juga:  Nanya Cara Motret Hantu ke Komunitas Fotografi Hantu Indonesia

Waktu lalu, perjalanan ke Semarang naik bis, ada teman yang duduk di depan muntah-muntah. Saya yang langganan mabuk perjalanan duduk belakang malah nggak mual sama sekali. Teman-teman yang duduk di belakang pun sama. Mereka asyik aja tuh gitaran.

BACA JUGA 8 Cara Mengatasi Motion Sickness, Nomor 5 Jangan Dicoba ya! dan tulisan Muhammad Arsyad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.