Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

3 Lagu Lawas Indonesia yang Liriknya Bikin Bingung

Annisa R oleh Annisa R
24 Agustus 2022
A A
3 Lagu Lawas Indonesia yang Liriknya Bikin Bingung (Unsplash.com)

3 Lagu Lawas Indonesia yang Liriknya Bikin Bingung (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Awal Agustus 2022, saya pernah menulis kalau khazanah musik saya semasa sekolah itu sangat sempit. Saya hanya mendengarkan lagu dari penyanyi yang itu-itu saja. Yah, kalau sekarang, kamu bisa menganggapnya sebagai kebiasaan mendengarkan lagu lawas Indonesia. Untungnya, sekarang, sudah mendingan.

Ada beberapa sebab kenapa perbendaharaan lagu lawas Indonesia saya nggak banyak. Salah satunya, setiap kali mendengar lagu dalam bahasa yang saya pahami, alih-alih menikmati musiknya, nggak jarang saya malah jadi terlalu memikirkan liriknya dan berakhir capek sendiri.

Nah, kalau buat saya, ada 3 lagu yang kalau liriknya disimak secara serius, saya malah jadi bingung sendiri. Inilah dia:

#1 Nidji, Akhir Cinta Abadi (2007)

Lirik dari lagu “Akhir Cinta Abadi” ini selalu sukses bikin saya bingung. Saya mencoba mengingat tujuan Nidji menulis lagu ini. Kalau tidak salah, Nidji mendedikasikan “Akhir Cinta Abadi” untuk ayah dari beberapa personel mereka yang sudah meninggal.

Berikut penggalan lirik dari salah satu lagu lawas Indonesia yang bikin saya bingung kepikiran sekarang:

Akankah kau melihatku saat ‘ku jauh

Akankah kau merasakan kehilanganku

Baca Juga:

Gultik Blok M: Saksi Bisu Pergaulan Anak Muda, Perkembangan Musisi, dan Kehidupan Orang di Jakarta Selatan

Suara Hati Penggemar Berat Nidji: Giring, Nge-band Lagi, dong

Jiwaku yang telah mati bukan cintaku

Janjiku selalu abadi hanya milikmu

Aku pergi dan takkan kembali

Akhir dari cinta yang abadi

Sejak kali pertama mendengar lagu lawas Indonesia ini, saya langsung heran. Saya langsung kepikiran bahkan sejak membaca judulnya. Kenapa sesuatu yang abadi menemui akhirnya? Bukankah hal itu saling bertentangan? Katanya abadi, kok, berakhir? Sebelumnya, si Aku bilang yang sudah mati adalah jiwanya, tapi cintanya tidak. Lha kok sebait kemudian menyatakan cintanya yang abadi tadi itu berakhir. Maunya apa….

Mungkin, waktu itu saya nggak berhasil memahaminya karena masih SD. Namun, pas sudah sebesar sekarang, kok ya juga belum ketemu jawabannya, sih.

#2 D’Masiv, Cinta Ini Membunuhku (2008)

Ternyata yang membunuh itu bukan merokok, tapi cinta. Aduh, maafkan komedi dari saya ini.

Berikut lirik intro lagu lawas Indonesia yang bikin saya gemas:

Kau membuatku berantakan

Kau membuatku tak karuan

Kau membuatku tak berdaya

Kau menolakku, acuhkan diriku

Lirik ini sangat mengandung pertentangan. Katanya si Dia bikin berantakan, nggak keruan, dan nggak berdaya. Tapi, yang menulis lirik ini pakai kata “acuh” di bagian lirik: “Kau menolakku, acuhkan diriku.” Lho, niatnya menolak kok malah peduli dan mengindahkan?

Apakah Rian, vokalis sekaligus yang menulis lirik lagu ini nggak paham arti acuh? Menurut KBBI, kata acuh itu punya arti ‘peduli’. Kan lagu lawas Indonesia ini jadi susah dipahami maksudnya. Saya jadi khawatir Uda Ivan Lanin tiba-tiba tersedak kopi waktu mendengarkan lirik ini.

#3 Agnes Monica, Matahariku (2008)

Saya jadi menaruh curiga kalau Rian D’Masiv itu menulis lirik “Cinta Ini Membunuhku” barengan sama Agnes Monica waktu nulis “Matahariku”. Eh, yang menulis liriknya itu Agnes bukan, sih? Yah, terlepas dari fakta itu, kedua lagu ini kayak janjian untuk sama-sama menghadirkan kontradiksi. 

Liriknya kayak gini:

Berjuta warna pelangi di dalam hati

Sejenak luluh bergeming menjauh pergi

Tak ada lagi cahaya suci

Semua nada beranjak aku terdiam sepi

Menurut KBBI, kata bergeming itu bermakna ‘tidak bergerak sedikit juga’ atau ‘diam saja’. Namun, oleh entah siapa yang menulis lirik, kata bergeming disandingkan dengan frasa “menjauh pergi”.

Apakah si penulis lagu memang sengaja? Ya kalau kamu mau mencoba memahaminya kayak gini bisa sih: “Warna pelangi di dalam hati itu luluh. Lalu setelah luluh, warna-warni pelangi tadi diam dulu. Baru deh setelah diam, berjuta warna pelangi tadi pergi dari hati.” Lebih masuk akal? Kecuali memang yang dimaksud adalah “sekejap luluh tak bergeming, menjauh pergi”. Lain, deh.

Selingkungnya penulis lirik?

Saya nggak bermaksud jadi manusia dogmatis yang apa-apa harus baku sesuai EYD. Bahkan di tulisan ini saya nggak menyoal lirik lagu yang mengandung lema nggak baku seperti nafas disebut napas, atau embus dinyanyikan sebagai hembus. Saya menganggap itu “selingkung penulis lirik”.

Benar, bahasa di lagu lawas Indonesia ini nggak kaku dan yang penting dapat tersampaikan. Hanya, jika memang arti sebaliknya yang dimaksud, ini agak fatal. Bagaimana mau dipahami dan pesannya dapat sampai, jika kode yang dikirim bertolak belakang. Jadi gagal emosional saat menikmati lagunya.

Mungkin, problematika seperti ini kini bisa diminimalisasi karena KBBI sudah bisa diakses daring. Namun, saran saya untuk penulis lagu, nulisnya pas malam saja. Kalau siang, KBBI daring sering ngadat.

Penulis: Annisa Rakhmadini

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kenapa sih Kangen Band Suka Pakai Kata Bintang pada Lirik Lagunya?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2022 oleh

Tags: agnes monicad'masivelagi lawas indonesialagu lawasnidjitop 40
Annisa R

Annisa R

Belajar geografi lingkungan. Penduduk, pejalan kaki, dan pengguna transportasi umum.

ArtikelTerkait

Dewa 19, Nidji, dan Sederet Band Indonesia yang Masih Eksis meski Ditinggal Vokalisnya Terminal Mojok.co

Dewa 19, Nidji, dan Sederet Band Indonesia yang Masih Eksis meski Ditinggal Vokalisnya

30 Maret 2022
agnez mo weird genius MOJOK.CO

Salty Benci Agnez Mo karena Kesuksesan Weird Genius Itu Bentuk Sesat Pikir

13 Juli 2020
Film Superhero dan Hobinya Menggunakan Lagu Lawas sebagai Soundtrack

Film Superhero dan Hobinya Menggunakan Lagu Lawas sebagai Soundtrack

28 Mei 2022
giring presiden pemilu mojok

4 Langkah yang Bisa Ditempuh Giring agar Mulus Menjadi Capres

25 Agustus 2020
3 Lagu Lawas Indonesia yang Liriknya Bikin Bingung (Bagian 2) (Unsplash.com)

3 Lagu Lawas Indonesia yang Liriknya Bikin Bingung (Bagian 2)

7 September 2022
Lagu pop Indonesia makin nggak asyik. (Unsplash.com)

Menye semua! Ketika Lagu Pop Terbaru Indonesia Makin Nggak Asyik

5 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026
8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya (Wikimedia Commons)

8 Tipe Mahasiswa KKN yang Menjadi Beban Kelompoknya

10 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok (Wikimedia Commons)

4 Dosa Pedagang Sate Maranggi yang Bikin Pembeli Kapok

11 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.