Keresahan Radiografer yang Suka Dikatain Mandul dan Profesinya Nggak Ada di KBBI – Terminal Mojok

Keresahan Radiografer yang Suka Dikatain Mandul dan Profesinya Nggak Ada di KBBI

Artikel

Fadlir Nyarmi Rahman

Ketika mendengar ucapan “bekerja di rumah sakit”, pasti profesi yang terlintas di pikiran kamu hanya dokter, perawat, dan bidan. Memang profesi tersebut lebih populer dibandingkan banyak profesi lainnya di bidang medis. Salah satunya adalah “radiografer”.

Terasa asing, bukan? Ya, iya lah. Wong selain karena istilah yang keminggris, kalau dicari di KBBI, kata tersebut sama sekali nggak tersedia. Terjemahan kata tersebut yang harusnya “radiografer” seperti di Google Translate, juga nihil. Beberapa sumber mengartikannya menjadi ahli radiografi. Tapi menurut saya kurang praktis.

Masalahnya di KBBI, Photographer saja diterjemahkan menjadi fotografer, designer menjadi desainer. Masa radiographer alih-alih jadi radiografer, malah jadi ahli radiografi?

Mungkin belum ada yang cukup peka untuk submit istilah tersebut. Tapi perbolehkan saya untuk (tetap ngeyel) menggunakan kata “radiografer” ya.

Sebelum lebih jauh, apakah kamu masih belum tahu radiografer itu kerjanya ngapain? Hadeh, kasihan sekali ya kami ini.

Begini. Meski terdiri dari kata “radio”, mereka bukan seorang yang pekerjaannya menghadapi permasalahan radio atau industrinya. Yang mereka hadapi adalah radiasi gelombang sinar X yang dimanfaatkan untuk memotret organ jeroan manusia. Atau bahasa umumnya foto rontgen, yang juga merujuk pada kata “grafer” di dalamnya.

Baru tahu kan kalau tukang rontgen itu disebut radiographer? Padahal, mungkin thorax atau dadamu pernah difoto rontgen saat cek kesehatan. 

Sebenarnya, terdapat persamaan antara radiographer dengan fotografer. Mereka sama-sama melakukan proses imaging atau memproyeksikan suatu objek menjadi gambar. Keduanya juga sama-sama memanfaatkan gelombang elektromagnetik.

Itulah mengapa saya ngeyel untuk menggunakan kata “radiografer”. Selain itu organisasi profesi kami ini, PARI, yang awalnya memiliki kepanjangan Persatuan Ahli Rontgen Indonesia, sudah berganti menjadi Perhimpunan Radiografer Indonesia.

Sehingga secara othak-athik gathuk, bahasa dan hukumnya jadi sah kengeyelan saya ini. Meski lagi-lagi saya tetap mempertanyakan pihak Kemendikbud sebagai pemegang wewenang KBBI yang nggak memasukkan kata “radiografer”.

Walau ada yang berbeda antara radiografer dan fotografer, tapi itu hanyalah spektrum gelombang yang digunakan mereka untuk mendapatkan suatu gambar. Jika yang pertama memanfaatkan radiasi gelombang sinar X sehingga disebut radiografi. Sementara yang satunya memanfaatkan gelombang cahaya sehingga disebut sebagai fotografi.

Selain itu, di antara keduanya juga memiliki perbedaan tujuan. Radiografi bertujuan untuk menunjang diagnosa dokter terhadap apa yang diderita pasien, sementara fotografi bertujuan untuk dokumentasi dan seni.

Meski berbeda begitu harusnya ya dimasukin lah “radiografer” sebagai arti dari radiographer dalam KBBI. Biar lebih dikenal banyak masyarakat kayak fotografer. Toh kami juga bagian dari tenaga medis seperti dokter, perawat, atau bidan. Meskipunhanya berperan sebagai penunjang, sebuah sistem juga tetap nggak akan gerak kalau tanpa penunjang. Kayak pelumas bagi kendaraan bermotor gitu.

Mungkin saja, keresahan soal KBBI itu hanya dirasakan oleh saya sebagai “radiografer”. Sementara ada keresahan lain yang dirasakan oleh hampir semua “radiografer”, yaitu mendapat stereotip mandul dari masyarakat.

Nah, loh. Bagaimana nggak resah coba? Setiap ditanya kerjaannya apa dan dijawab dengan tukang rontgen atau radiographer, kami sering mendapat pertanyaan lanjutan seperti, “Lah kan bisa mandul, ya?” atau, “Memang nggak takut mandul apa?” 

Halo, Bos. Mondal-mandul, manukmu gundul! Nggak usah sotoy, deh. Lagian stereotip ini dari mana asalnya, sih? Nggak jelas juga, ngapain dipercaya.

Memang radiasi sinar X—meski semua radiasi termasuk sinar matahari—memiliki kemampuan untuk mengionisasi sel dan gen makhluk hidup sehingga terjadi mutasi. Tapi mereka memiliki kemampuan regenerasi yang mampu berfungsi seperti sedia kala.

Lagian kami juga memiliki panduan yang cukup baik bernama proteksi radiasi agar terhindar dari efek-efek radiasi. Konsep yang paling mudah diterangkan yaitu ALARA yang merupakan singkatan dari As Low As Reasonable Achieveble. Yang artinya, ‘penggunaan radiasi pada tingkat serendah mungkin yang bisa dicapai untuk hasil yang optimal’. Tentunya dengan mempertimbangkan faktor ekonomi dan sosial.

Sehingga anggapan mandul pada radiographer atau pekerja radiasi lain, sangat tidak terbukti. Jadi, sudahlah hentikan.

Ini juga untuk menghentikan paranoid masyarakat terhadap pemeriksaan rontgen atau radiologi. Sebab banyak juga yang beranggapan bakalan mandul apabila difoto rontgen. Padahal dengan dirontgen, pasien memiliki peluang yang lebih besar untuk segera mengetahui penyakit atau gangguan pada tubuhnya.

Anggapan mandul ini harus ditepis agar calon pasangan kami mau berjodoh dan nggak takut bakal nggak punya keturunan. Memercayai stereotip demikian juga merugikan kami di level asmara lho.

Tolong, ya, Lur sekali lagi. Hentikan anggapan mondal-mandul tersebut.

Photo by EVG Culture via Pexels.com

BACA JUGA Menyoal Larisnya Konten Horor Pendakian Gunung dan Nyinyiran pada Konten Romantismenya dan tulisan Fadlir Rahman lainnya.

Baca Juga:  Orang Sukabumi Sebut UIN Jakarta Itu Cabang dan UIN Bandung Pusatnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
29


Komentar

Comments are closed.