3 Kebiasaan Tukang Cukur yang Harusnya Ditinggalkan – Terminal Mojok

3 Kebiasaan Tukang Cukur yang Harusnya Ditinggalkan

Artikel

Avatar

Biasanya orang yang pergi ke tukang cukur mempunyai jadwal yang berbeda-beda. Ada yang dua kali sebulan, sekali sebulan, dan ada juga yang cuman cukur rambut sebelum ada kegiatan besar seperti hari raya Idul Fitri bagi umat Muslim.

Tempat cukur rambut pun berbeda-beda juga, ada yang cukur rambut di rumahnya sendiri, ada yang di rumah temannya yang pandai mencukur, dan tentu saja ditempat khusus pangkas rambut.

Sejauh yang saya amati, tempat yang paling ramai untuk cukur rambut ada di tempat “pangkas rambut Madura”. Padahal tempat cukurnya itu bukan di Madura saja, hampir seluruh Indonesia mungkin sudah tidak asing lagi dengan itu. Entah sejarahnya bagaimana sehingga tempat pangkas rambut Madura bisa menjadi populer di setiap daerah.

Memang tidak dimungkiri bahwa pangkas rambut Madura memiliki kelebihan dibanding yang lain. Selain tempatnya yang mudah dijangkau, mereka juga memiliki tukang cukur lebih dari satu sehingga tidak perlu antre yang lama. Begitu pun dengan harganya yang lumayan terjangkau, biasanya bagi orang dewasa bertarif Rp20 ribu dan untuk anak-anak dipatok Rp15 ribu ada juga yang ngasih harga Rp10 ribu.

Tukang cukurnya juga biasa memijat pelanggannya, biasanya layanan ini hanya untuk orang dewasa sih. Selain ruangan yang terang karena hampir setiap saat lampunya menyala, kipas angin pun juga turut hadir disaat kondisi lagi gerah. Kehadiran TV juga membantu bagi pelanggan yang antre maupun orang tua yang mendampingi anaknya.

Tapi, dengan segala kemewahan yang disediakan, ada hal yang membuat pelanggan menjadi risih atau terganggu. Beberapa kebiasan tukang cukur tersebut sudah seharusnya ditinggalkan demi kenyamanan pelanggan.

#1 Ngobrol dengan rekannya yang lain

Hal inilah yang biasa kita jumpai ketika lagi cukur rambut. Banyak tukang cukur di tempat pangkas rambut Madura selalu ngobrol dengan temannya sesama tukang cukur. Ini membuat pelanggan merasa terganggu karena fokus dari si tukang cukur menjadi terbagi, selain mencukur, dia juga bicara.

Yang membuat jengkel kalau bicaranya tersebut pakai bahasa daerah milik mereka yang notabene tidak dimengerti oleh si pelanggan. Untung kalau bicara topiknya soal lain yang tidak ada hubungannya dengan si pelanggan, lah kalau ternyata ngomongin si pelanggannya gimana? Misalnya nih ya, misalnya, jika mereka membicarakan kondisi kepala pelanggannya yang banyak ketombe atau kutu, bisa juga membicarakan tentang rambutnya yang tidak bisa disisir, dan sebagainya. Pelanggan tentu jadi khawatir dan suuzan. Apalagi ketika tukang cukurnya senyum-senyum begitu.

#2 Merokok

Salah satu hal yang sering juga ditemui adalah tukang cukur yang bekerja sambil merokok. Masalah banget soalnya, apalagi kalau asbaknya disimpan di meja depan pelanggan.

Hal ini harus ditinggalkan karena sangat mengganggu tentunya, apalagi bagi mereka yang tidak suka asap rokok. Bukan disuruh untuk berhenti merokok ya, tapi alangkah baiknya kalau sedang mencukur rambut orang, ya simpan dululah rokoknya itu. Kan bisa merokoknya setelah selesai mencukur.

Salah-salah rambutnya kena abu rokok dan jadi bau. Masih mending begitu, lha kalau tempat pangkas rambutnya kebakaran kayak Kantor Kejaksaan Agung gimana?

#3 Sambil menonton TV

Memang biasanya disediakan TV di tempat cukur karena peruntukannya bagi orang yang lagi nunggu supaya tidak bosan. Tapi, tolonglah bagi tukang cukur, jangan malah fokus ke TV ketika sedang mencukur.

Otomatis mata si tukang cukur nggak fokus antara TV dan rambut. Yang ditakutkan, pas ngelirik begitu, malah telinga yang digunting, atau bagian rambut yang seharusnya nggak kepotong juga ikut kepotong. Wah, ngeri. Yang sedang mereka pegang itu kan gunting, benda tajam. Imana pelanggannya nggak takut.

Itulah tiga hal yang semestinya ditinggalkan oleh tukang cukur agar pengunjung nya juga menjadi tenang dan tidak berburuk sangka. Sebab lebih baik mencegah daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan tentunya. Kalau pelayanannya sudah baik kan pelanggan nggak akan ke tempat cukur lain gitu loh. Kegiatan pangkas rambut juga nggak dilakukan setiap hari. Semua orang yang datang menginginkan pengalaman yang berkesan, bukan yang menjengkelkan dan bikin kesal.

BACA JUGA Keunikan Rumah Panggung yang Tidak Dimiliki Rumah Masa Kini dan tulisan Rahmatullah Syabir lainnya.

Baca Juga:  Mengenal Tradisi Adu Domba, Tradisi Khas Masyarakat Kota Garut
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
1


Komentar

Comments are closed.