Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

3 Jenis Orang yang Sebaiknya Tidak Berkunjung ke Tumpeng Menoreh

Tiara Uci oleh Tiara Uci
22 September 2021
A A
Sumber Gambar Tumpeng Menoreh via YouTube Rian Wicaksono

Sumber Gambar Tumpeng Menoreh via YouTube Rian Wicaksono

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai wisatawan lokal, saya justru tidak tertarik jika Jogja diiklankan dengan narasi “Jogja rasa Ubud” atau “Jogja rasa Korea”. Rasanya aneh, jika Jogja di samakan dengan Ubud hanya karena payung, jangan-jangan nanti ada “Surabaya rasa neraka” karena udara panasnya. Biarlah Jogja tetap menjadi Jogja, dengan Malioboronya, tugunya, keseniannya, angkringannya, alamnya dan segala macam lokalitasnya.

Minggu lalu, karena kangen dengan suasana Jogja yang syahdu, saya berkunjung ke Jogja tanpa rencana. Bondo nekat saja, khas orang Surabaya, ada niat langsung berangkat, tanpa planning saat di Jogja harus berkunjung ke objek wisata apa saja. Pokoknya sampai dulu, berpikir akan ke mana kemudian. Hehehe

Sesampai di Jogja, saya direkomendasikan mengunjungi wisata baru bernama Tumpeng Menoreh, kata teman saya yang sudah tinggal di Jogja bertahun-tahun lamanya, wisata tersebut sedang hits di kalangan anak muda karena keindahan alamnya. Berada di ketinggian 950 mdpl, Tumpeng Menoreh menawarkan view 360 derajat dengan pemandangan tiga gunung sekaligus yaitu Merapi, Merbabu dan Sumbing.

Objek ini dinamai Tumpeng Menoreh karena bentuk bangunannya heksagonal seperti tumpeng, dan berlokasi di bukit Menoreh. Tepatnya berada di Desa Ngargoretno, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tumpeng Menoreh sendiri buka 24 jam nonstop tanpa istirahat dengan harga tiket khas UMP Jogja (baca: Murah). Kita hanya perlu mengeluarkan uang 50 ribu, 25 ribu untuk tiket masuk dan 25 ribu berupa voucher yang bisa ditukarkan dengan makanan.

Wisata Tumpeng Menoreh mengandalkan pemandangan alamnya untuk menarik pengunjung. Saat berkunjung di pagi hari, kita bisa melihat sunrise sambil menikmati kopi, syahdu sekali. Apabila datang siang hari, pengunjung bisa menikmati makanan atau berfoto dengan latar belakang awan yang cantik. Kalau datang malam hari, kita bisa bercengkrama bersama teman, pacar atau keluarga sambil menikmati gemerlapnya lampu kota dari atas bukit.

Sebenarnya Tumpeng Menoreh adalah sebuah resto yang sengaja dibangun di atas bukit. Jadi tempat ini menawarkan pengalaman makan di ketinggian dengan sajian makanan khas Yogyakarta.

Meskipun sangat indah dan dikelola dengan cukup baik oleh musisi kenamaan Erix Soekamti yang bekerja sama dengan penduduk setempat. Tumpeng Menoreh bukan objek wisata yang cocok untuk semua orang. Berdasarkan pengalaman pribadi saya mengunjungi tempat tersebut dan survei kecil-kecilan yang saya lakukan kepada teman-teman saya yang juga pernah mengunjungi Tumpeng Menoreh, setidaknya ada tiga orang yang tidak akan cocok dengan wisata seperti ini:

Orang yang mudah mabuk perjalanan

Untuk mencapai objek wisata ini, kita bisa melewati dua jalur. Pertama, masuk melalui Magelang, jaraknya lebih dekat tapi jalannya belum diaspal dan terjal. Melewati jalur ini tidak disarankan menggunakan mobil pribadi, tapi bisa naik shuttle car yang sudah disediakan penduduk setempat. Kedua, lewat jalur dari kota Jogja, melewati Nglinggo, Kulon Progo. Meskipun secara jarak lebih jauh, jalur kedua ini dianggap paling aman karena jalannya sudah beraspal dan lebar.

Baca Juga:

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

Kebetulan saya menuju ke Tumpeng Menoreh dengan rute  kedua, berangkat dari kota Jogja yang dari beberapa sumber di Google jalurnya dianggap aman dan landai. Awalnya saya berniat naik motor bersama teman, tapi saya urungkan karena takut hujan, akhirnya kami rental mobil dengan sopirnya sekaligus.

Keputusan tersebut saya sesali kemudian, karena jalur yang katanya landai dan aman tersebut ternyata prank belaka. Kami melewati jalur berkelok dengan sudut tikung 45 derajat, tidak hanya sekali tapi berkali-kali, ditambah dengan banyaknya tanjakan yang membuat roda mobil kami selip beberapa kali. Bagi orang Surabaya yang sehari-harinya bertemu aspal rata, mentok tanjakan setinggi polisi tidur, jalan menuju Tumpeng Menoreh terasa ekstrem sekali.

Bukannya menakut-nakuti, tapi bagi orang yang mudah mabuk saat perjalanan tidak disarankan datang ke Tumpeng Menoreh, apalagi jika menggunakan city car. Lihat aja medannya kek apa. Saran saya sih gunakanlah mobil 4WD sekelas Fortuner atau Pajero. Meskipun tetap akan berguncang, setidaknya rasanya jadi seperti naik roller coaster saja, ndak khawatir selip ban. Hehehe.

Orang yang takut ketinggian (akrofobia)

Awalnya saya mengira Tumpeng Menoreh sekedar bangunan berbentuk tumpeng yang berada di atas bukit. Saya tetap akan berjalan di atas tanah tapi lokasinya saja yang tinggi, ternyata tidak begitu konsepnya saudara-saudara semua. Tumpeng Menoreh benar-benar bangunan heksagonal yang terbuat dari kayu dan besi yang berada di ujung tebing. Jika tak sengaja melihat ke bawah dari celah kayu yang ada, rasanya mbediding, rek. Pokoknya, nggak worth it bagi orang penakut dan akrofobia.

Saya yang naik jembatan penyebrangan merasa takut, datang ke Tumpeng Menoreh seperti sengaja mencari mati untuk diri sendiri. Boro-boro swafoto indah berdekatan dengan awan layaknya di negeri dongeng, sekedar memutari lokasi Tumpeng Menoreh sambil menikmati pemandangan saja tidak bisa, kedua kaki saya terasa bergetar. Sungguh sebuah usaha mempercantik feed Instagram yang sia-sia, bukannya sibuk berfoto, saya sibuk ndepis duduk di pojokan karena ketakutan. Hadeeeh.

Orang yang sedang patah hati

Urusan patah hati, kita semua sama lemahnya. Sekeras apa pun penampilan dan suara kita melawan dunia, nek patah hati yo tep pilih nangis. Patah hati adalah saat-saat paling rapuh dan isinya baper. Kek orang yang dikit-dikit ngancem UU ITE.

Dalam situasi yang tidak karuan itu, meskipun kalian ingin pergi liburan untuk mengalihkan perasaan perih akibat ditinggal kekasih, saya sarankan untuk tidak datang ke Tumpeng Menoreh. Kenapa? Ya karena Tumpeng Menoreh adalah wisata yang menawarkan banyak kegiatan romantis. Yang kalian lihat bakalan orang yang lagi pedekate atau pacaran. Bukannya mau bahagia, kalian malah misuh-misuh ntar.

Sudahlah, percaya saja. Jangan datang ke Tumpeng Menoreh saat patah hati. Saya sarankan kalian duduk di sekitar tugu Jogja saja, memesan secangkir kopi dan lihatlah penduduk asli Jogja yang tetap ramah meski mereka dizalimi negara dengan UMP yang kelewat murah. Meskipun patah hati kita tidak langsung sembuh, minimal rasa syukur kita akan tumbuh. Nerimo ing pangdum seperti orang Jogja, sekalipun diibal-ibal monarki, mereka tetap hidup dengan senyumannya, definisi tabah yang sesungguhnya.

Atau emang nggak punya pilihan aja sih. 

Sumber Gambar Tumpeng Menoreh via YouTube Rian Wicaksono

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2021 oleh

Tags: erix soekamtigunungKulinertempat wisatatumpeng menorehYogyakarta
Tiara Uci

Tiara Uci

Alumnus Teknik Mesin Universitas Negeri Surabaya. Project Manager perusahaan konstruksi di Surabaya. Suka membaca dan minum kopi.

ArtikelTerkait

Surabaya memang Cocok Jadi Kota Tujuan Belajar, tapi Pikir-piki Dulu kalau Mau Kuliah di Surabaya! biaya hidup di surabaya

Surabaya Butuh Lebih Banyak Ruang Publik Terjangkau, Mall dan Coffee Shop Tak Ramah Kantong!

24 Agustus 2024
7 Dosa dan Larangan Saat Makan Gudeg Terminal Mojok.co

7 Dosa dan Larangan Saat Makan Gudeg

25 Februari 2022
3 Kuliner Jogja yang Laris Manis di Daerah Asalnya, tapi Kurang Laku di Malang Mojok.co

3 Kuliner Jogja yang Gagal Menggoyang Lidah Orang Malang

1 Agustus 2024
Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul Mojok.co

Depok, Kecamatan di Sleman yang Paling Red Flag di Mata Orang Bantul

11 Oktober 2025
4 Kuliner Boyolali yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup Mojok.co

4 Kuliner Boyolali yang Wajib Dicicipi Setidaknya Sekali Seumur Hidup

21 November 2024
3 Kuliner Pakistan yang Nggak Cocok di Lidah Orang Indonesia Mojok.co

3 Kuliner Pakistan yang Nggak Cocok di Lidah Orang Indonesia

18 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen Mojok.co

Gresik yang Dahulu Saya Anggap Biasa Aja, Sekarang Malah Bikin Kangen

31 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

29 Maret 2026
Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
Weleri Kendal Baik-baik Saja Tanpa Mie Gacoan, Waralaba Ini Lebih Baik Incar Daerah Lain Mojok.co

Membayangkan Kendal Maju dan Punya Mall Itu Sulit, sebab Mie Gacoan Aja Baru Ada Setahun

31 Maret 2026
Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN (Shutterstock)

Sebagai Buruh Pabrik, Saya Juga Ingin WFH Seperti ASN

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut
  • Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Kebeli Suzuki Ertiga tapi Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia
  • Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja
  • Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan
  • Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman
  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.