Menjadi driver ojol itu berat. Tapi jadi driver ojol perempuan, jauh lebih berat lagi. Di jalan, mereka bukan hanya melawan cuaca dan lalu lintas, Tapi juga pandangan miring, perlakuan tidak adil, dan sistem yang tak pernah benar-benar berpihak.
Perempuan kuat ini memutar gas bukan karena hobi, tapi karena hidup memaksa mereka. Berikut 11 potret nyata yang menggambarkan betapa keras, getir, dan menyedihkan perjuangan driver ojol perempuan di jalanan.
#1 Dibilang lemah hanya karena perempuan
Begitu turun dari motor, banyak orang langsung menatap aneh. “Wah, mbaknya ojol juga? Hebat ya,” katanya. Tapi nada itu sering seperti setengah ejekan. Seolah pekerjaan ini hanya untuk laki-laki.
Padahal perempuan juga bisa. Mereka kuat, tangguh, dan sabar. Tapi dunia masih sulit menerima kalau perempuan juga bisa jadi tulang punggung. Masih ada anggapan bahwa perempuan seharusnya di rumah, bukan di jalan.
#2 Pelanggan yang seenaknya menggoda ojol perempuan
Godaan itu datang bukan hanya di jalan, tapi juga di chat order. Mulai dari yang halus sampai yang menjijikkan. Nomor disimpan tanpa izin. Pesan “mbak cantik boleh kenalan” muncul setelah order selesai. Bahkan ada yang sengaja pesan biar bisa ketemu.
Rasanya sangat tidak nyaman. Tapi, mau marah juga serba salah. Rating bisa turun, order bisa sepi. Akhirnya ditahan saja. Diam bukan karena nyaman, tapi karena takut kehilangan penghasilan.
#3 Cuaca yang tidak punya belas kasihan
Panas menyengat, hujan deras, angin malam, semua diterjang. Tidak ada pilihan lain. Jaket basah, helm berembun, tangan gemetar, tapi motor tetap harus jalan. Banyak yang pernah jatuh, tapi tetap bangkit.
Karena kalau berhenti, uang berhenti. Dunia tidak peduli apakah tubuh ojol perempuan ini menggigil atau sedang sakit. Yang penting, pesanan sampai, pelanggan senang, rating aman.
#4 Dapat order berat tanpa kompromi
Aplikasi tidak membedakan gender. Barang berat tetap dikirim ke driver ojol perempuan. Galon air, dus besar, bahkan perabot rumah tangga. Kadang pelanggan hanya menatap tanpa membantu.
Padahal yang di depan mereka bukan kurir laki-laki, tapi perempuan yang berjuang sendirian. Punggung sakit, tangan pegal, tapi tetap diangkat. Karena sistem tidak peduli siapa yang mengantarkan.
#5 Stigma dari sesama driver ojol laki-laki
Bukan cuma pelanggan yang bisa kejam. Sesama driver ojol pun kadang lebih jahat. Ada yang meledek. Ada pula yang sengaja menyela antrean. Bahkan, ada juga yang menggoda dengan kalimat-kalimat menjengkelkan.
Kalau dibalas, dibilang baper. Kalau diam, dianggap mau. Dunia kerja yang seharusnya jadi tempat saling bantu malah jadi arena tekanan. Kadang rasanya seperti dikerubungi tatapan yang tak mengenal empati.
#6 Ketakutan ojol perempuan setiap narik malam
Malam hari selalu jadi waktu paling menyeramkan. Jalan sepi, lampu redup, pelanggan tidak selalu bisa dipercaya. Banyak ojol yang menolak order malam karena takut. Tapi kalau tidak jalan, penghasilan berkurang.
Ada juga yang tetap berani narik, tapi dengan hati deg-degan setiap kali berhenti di tempat gelap. Tak jarang mereka harus pura-pura kuat. Padahal, lutut gemetar setiap kali ada motor asing mengikuti dari belakang.
#7 Ojol perempuan tidak dihargai oleh pelanggan perempuan juga
Ironisnya, sesama perempuan pun kadang tidak saling memahami. Ada pelanggan perempuan yang bersikap seolah lebih tinggi.
Nada suaranya ketus, perlakuannya dingin. Bahkan ada yang sengaja memerintah ojol perempuan seenaknya, seolah lupa bahwa yang di depannya juga sedang bekerja keras untuk bertahan hidup. Bentuk ketidakadilan yang datang dari arah yang tak disangka.
#8 Masih dianggap pekerjaan sementara
“Kasihan ya, kerja ojol. Nanti kalau udah dapet kerja beneran, berhenti aja.” Kalimat seperti itu sering mereka dengar. Seolah jadi driver ojol bukan pekerjaan sungguhan. Padahal dari sinilah mereka hidup.
Mereka bayar pajak, beli bensin, rawat motor, dan tetap punya tanggung jawab sama seperti profesi lain. Tapi status sosial selalu jadi penghalang. Orang masih menilai dari seragam, bukan dari perjuangan di baliknya.
#9 Harus tetap senyum di tengah tekanan menjadi ojol perempuan
Setiap pelanggan datang dengan ekspektasi tinggi. Driver ojol harus ramah, sopan, cepat. Tidak boleh marah, tidak boleh ngeluh. Padahal di balik senyum itu, bisa jadi ada air mata yang ditahan.
Tapi di dunia rating bintang lima, perasaan pribadi tidak penting. Yang penting tetap terlihat baik, meskipun hati sebenarnya sudah lelah.
#10 Ancaman pelecehan di jalan
Bukan cuma lewat chat, tapi juga secara langsung. Ada pengendara lain yang sengaja menggoda di lampu merah, bersiul, sampai yang mengikuti dari belakang.
Situasi ini membuat jalanan bukan sekadar tempat kerja, tapi juga medan ketakutan. Banyak driver ojol perempuan yang memilih memakai pakaian longgar, masker tebal, bahkan helm besar hanya untuk menyamarkan diri. Bukan untuk gaya, tapi untuk menghindari pelecehan.
#11 Perbedaan perlakuan dari pihak bengkel
Ketika motor bermasalah, tidak semua bengkel memperlakukan mereka dengan hormat. Ada yang sengaja mematok harga lebih tinggi, ada yang berbicara meremehkan.
“Gak ngerti mesin ya, Mbak?” Padahal kalau laki-laki datang, nada bicaranya langsung berubah sopan. Hal yang seperti ini terasa sepele, tapi menggerus rasa aman dan harga diri.
Itulah 11 potret menyedihkan dari para ojol perempuan. Di balik deru motor yang hilir mudik di kota, ada sosok perempuan yang jarang disadari keberadaannya. mereka memegang stang dengan tangan yang mulai kapalan.
Mereka adalah bukti nyata bahwa kekuatan tidak selalu berwujud otot dan suara keras. Kadang kekuatan itu berwujud kesabaran. Kesabaran untuk tetap melaju meski dunia tidak memihak dan terus menyalakan mesin meski hati ingin berhenti.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 10 Potret Menyedihkan dan Memprihatinkan Sehari-hari Driver Ojol Zaman Sekarang
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















